Tim Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) yang terdiri dari Anindya Amanda Damayanti, Amany Taqiyyah Wardhani, dan Anisa Sugiyanti berhasil meraih Juara 2 pada Emergency Medical Competition bidang poster publik yang diadakan oleh Perhimpunan Tim Bantuan Medis Mahasiswa (PTBMMKI) Wilayah 1. Kompetisi ini digelar secara virtual pada 20 Juli – 22 Agustus 2021.

Tim Mahasiswa Kedokteran ini mengangkat sub tema mengenai “Pengetahuan Intoksikasi/Keracunan Hand Sanitizer” yang memiliki angka kasus kian meningkat namun tingkat kepedulian yang rendah.

“Kasus keracunan tersebut sudah terjadi sejak sebelum pandemi dan angkanya naik signifikan saat pandemi,” papar Anindya saat diwawancara pada Selasa (24/8).

Menurut penelitian Center for Disease Control and Prevention (CDC) setiap hari 300 anak dirawat dan 2 meninggal setiap harinya karena keracunan hand sanitizer. Amany menyampaikan jika hal tersebut dikarenakan menelan maupun menghirup zat berbahaya yang memicu gangguan respon tubuh.

Hand sanitizer adalah zat antiseptik yang didalamnya terdapat alkohol dengan presentasi 60-95%. Selain itu juga mengandung zat antibakteri seperti triclosan dan gliserol. Penggunaanya sendiri merupakan perkembangan zaman dari kebiasaan mencuci tangan.

Anisa menjelaskan jika mencuci tangan merupakan kegiatan sederhana yang bermaksud untuk menghilangkan kotoran dan meminimalisir jumlah kuman yang ada di tangan dengan menggunakan air dan atau dengan sabun.

“Sebuah penelitian menunjukkan jika kegiatan mencuci tangan dapat menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh diare, hal sederhana yang membawa perubahan besar bukan?” jelasnya.

Seiring perkembangan zaman, mencuci tangan menggunakan air dan dinilai tidak praktis lagi, sehingga dikembangkanlah suatu cairan yang bisa digunakan dimana saja tanpa harus membilasnya dengan air.

“Tentu saja hand sanitizer memiliki kelebihan lebih praktis dan dinamis,” jelas Anindya.

Anindya menyampaikan jika penggunaan hand sanitizer saat pandemi khususnya mengalami kenaikan yang drastis. Saat ini kemanapun pergi masyarakat akan membawanya dan berkala akan menyemprotkan ke tangan atau peralatan seperti meja dan kursi.

“Tapi berdasarkan data kesehatan keefektifan penggunaan hand sanitizer masih jauh lebih rendah jika dibandingkan mencuci tangan menggunakan sabun,” jelasnya.

Anindya menganjurkan masyarakat untuk tetap memprioritaskan mencuci tangan biasa menggunakan sabun terutama jika sedang di rumah. Hal tersebut dikarenakan kemampuan membunuh bakteri yang jauh lebih besar daripada penggunaan hand sanitizer.

Penggunaan hand sanitizer juga tak bisa sembarangan karena didalamnya mengandung zat kimia pembunuh kuman. Amany menyampaikan ada beberapa gejala yang bisa ditimbulkan jika mengalami keracunan hand sanitizer yang harus diperhatikan oleh masyarakat.

“Biasanya muncul gatal di wajah atau anggota tubuh lainnya, merasa sakit kepala, penglihatan kabur, hingga penurunan kesadaran,” jelasnya.

Amany juga membagikan tips mengenai cara memilih hand sanitizer yang baik adalah dengan kandungan alkohol minimal 60 persen etanol dengan durasi pakai sekitar 20-30 detik sehingga dapat menghindari iritasi dan membunuh kuman. (UAH/RS)