Saya yakin semua sepakat bahwa inovasi sangat penting, tidak hanya untuk mempunyai sebuah usaha, tetapi juga untuk menjaga eksistensi, dan mengembangkannya. Terlalu banyak contoh, organisasi yang menurun dan bahkan mati, ketika gagal atau bahkan terlambat dalam melakukan inovasi. Kodak dan Nokia bisa menjadi contoh sebagai pengingat.

Tema webinar kali ini Accelerating Innovation and Entrepreneurship terasa sangat tepat. Inovasi tidak hanya perlu dilakukan tetapi harus cepat dilakukan. Dan, inovasi harus berujung pada kewirausahaan alias dipasarkan. Jika tidak, namanya kreativitas.

Kreativitas adalah jalan menuju inovasi, tetapi tidak semua kreativitas menjadi inovasi. Kreativitas berfokus pada kebaruan, tetapi inovasi selain baru juga harus laku, alias diterima oleh pasar.

Tentu ada konseptualisasi lain dalam memandang kreativitas dan inovasi. Variasi itu sendiri merupakan semua kreativitas. 🙂

Pendorongan inovasi bisa dilakukan dengan menyemarakkan kreativitas. Di sambutan pendek ini, saya ingin mengajak partisipan untuk meningkatkan kreativitas dengan dua pendekatan: seni dan humor.

Pertama, seni. Seni jenis apapun, mulai dari bermain instrumen musik, menggambar, menulis, sampai dengan sulap. Selain menguasai bidang utama keahlian, upayakan mengasah rasa seni. Ini soal kedalaman dan keluasan pengalaman, yang sangat penting untuk memunculkan kreativitas.

Para pemenang Hadiah Nobel, jika kita ingin mengambil contoh serius, adalah para pecinta seni. Sekelompok 15 peneliti dari Michigan State University menemukan perbedaan antara ilmuwan biasa dengan ilmuwan pemenang Hadial Nobel.

Kelompok pemenang mempunyai inklinasi ke bidang seni yang beragam. Ilmuwan yang menjadi penampil (seperti aktor amatir, penari, atau sulap) adalah mereka yang paling kreatif. Kreativitasnya 22 kali lebih besar dibanding kelompok ilmuwan biasa. Mereka yang suka dengan menulis (puisi, novel, cerita pendek, esai, atau sejenisnya) 12 kali lebih kreatif, dan yang mempunyai hobi menggambar atau melukis tujuh kali lebih kreatif. Semua itu terekam dalam buku Adam Grant (2016) yang berjudul Originals.

Kedua, humor. Penelitian mutakhir menemukan bahwa humor sehat dalam kadar yang pas berguna untuk menjaga emosi positif yang sangat bermanfaat di tempat kerja dan juga di tempat interaksi sosial lainnya. Penelitian menemukan bahwa pimpinan yang mempunyai selera humor dipandang 27% lebih memotivasi dan dikagumi, dibandingkan dengan yang tidak. Bawahan juga 15% lebih tertarik untuk melibatkan diri. Tim yang humoris juga dua kali lebih baik dalam memecahkan tantangan kreativitas (Aaker & Bagdonas, 2021). Ujungnya adalah kinerja yang membaik.

Semakin senior seorang profesional, biasanya semakin lupa dengan humor. Sebuah survei terhadap 1,4 juta responden di 166 negara mengkonfirmasi ini. Pertanyaan sederhana ditanyakan: “Apakah Anda banyak tersenyum atau tertawa, kemarin?” Responden berusia 16, 18, dan 20 sebagian besar menjawab ya. Pada usia 23, jawaban menjadi tidak. Dan, tertawa mulai dilupakan sampai dengan pensiun (Aaker & Bagdonas, 2021).

Bapak Wahid Supriyadi (CEO RivGuru Indonesia) nampaknya bisa bercerita banyak soal ini. Buku Beliau yang berjudul Diplomasi Ringan dan Lucu: Kisah Nyata (Supriyadi, 2020) yang mengumpulkan pengalaman berharga Beliau ketika menjadi diplomat dan duta besar, bisa menjadi bukti nyata. Humor bisa memecahkan masalah atau paling tidak membuka pintu banyak solusi atas beragam masalah.

Saya yakin dalam webinar ini, banyak poin menarik yang akan dibagi terkait dengan inovasi dan kewirausahaan. Saya juga yakin para peserta akan membawa pulang beragam konsep penting yang tidak hanya terngiang dalam ingatan, tetapi juga akan mendorong aksi nyata.

 

Referensi

Aaker, J. & Bagdonas, N. (2021). Humor, Seriously: Why Humor is a Secret Weapon in Business and Life. Redfern, New South Wales, Australia: Currency.

Grant, A. M. (2016). Originals: How Non-conformists Move the World. New York: Penguin.

Supriyadi, M. W. (2020). Diplomasi Ringan dan Lucu: Kisah Nyata. YogyakartaBuku Litera.

 

Sambutan pada webinar Accelerating Innovation and Entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia dan RivGuru pada 24 Agustus 2021.