Akhir pekan lalu saya diundang kawan-kawan Lembaga Pers Mahasiswa Himmah dalam acara Diskusi Publik sekaligus menyaksikan peluncuran situs web himmahonline.id. Pada awal diskusi, saya menegaskan bahwa jurnalisme mahasiswa (atau pers mahasiswa) harus didukung oleh manajemen kampus. Selain itu, prinsip kemandirian atau independensinya harus dijaga.

Peran Jurnalisme Mahasiswa

Bagi saya, jurnalisme mahasiswa mempunyai empat peran yang dapat dimainkan dengan baik. Keempat peran ini pun saling terkait.

Pertama, peran inkubasi. Jurnalisme mahasiswa dapat menjadi kawah candradimuka untuk pengembangan diri dalam bidang kepenulisan. Menulis hal penting dalam bentuk yang menarik tidaklah pekerjaan mudah. Mengumpulkan fakta pendukung berita juga sangat menantang. Keahlian dalam hal ini harus diasah.

Kedua, peran literasi. Peran ini mempunyai tujuan menjadikan jurnalisme kampus sebagai sarana mengedukasi mahasiswa dan publik. Artinya, informasi atau berita yang dihasilkan haruslah menginspirasi, menggerakkan pembaca ke arah yang positif. Bukan sebaliknya. Jurnalisme mahasiswa jangan sampai terjebak dalam narasi publik yang penuh kepentingan sesaat, dengan melakukan diskriminasi dan bahkan agitasi, yang berujung pada polarisasi sosial yang semakin akut.

Ketiga, peran fasilitasi. Dalam konteks kampus, jurnalisme mahasiswa dapat menjadi penyambung lidah mahasiswa. Namun demikian, nilai-nilai abadi harus tetap menjadi pegangan yang kokoh. Keadilan dan kejujuran adalah salah satunya. Adu argumen sehat pun seharusnya difasilitasi, karena perubahan terjadi karena kultur ini.

Keempat, peran demokrasi. Peran ini memerlukan keteguhan jurnalisme mahasiswa dalam menentukan nilai-nilai yang diyakini dan mempertahankannya. Jurnalisme mahasiswa dapat mencari ‘corong suara nurani’. Kritik akademik atas realitas sosial yang ada haruslah dibingkai dengan nilai-nilai ini, dan tentu harus didasarkan atas fakta yang valid. Asumsi dan prasangka tidak berandil dalam menghadirkan potret yang benar. Prinsip jurnalisme both sides, atau tabayyun, misalnya, menjadi sangat penting dijaga.

Nilai Berita

Lanskap jurnalisme berubah karena hadirnya teknologi informasi, terutama Internet. Namun, perspektif untuk mengukur nilai berita (‘newsworthiness’) yang dinyatakan oleh Galtung dan Ruge, pada 1965, nampaknya masih relevan ditengok kembali. Nilai berita ditentukan oleh beragam aspek, seperti dampak, audiens, dan cakupan. Dampak berita ditentiukan antara lain oleh frekuensi dan kejutan. Peristiwa yang terlalu sering muncul tidak lagi menarik, seperti halnya berita yang dapat ditebak.

Karateristik audiens juga menentukan berita yang dibacanya. Karenanya, berita perlu dibidik dari sudut yang menempatkan audiens/manusia di pusatnya. Manusia tertarik dengan berita atau cerita tentang manusia. Berita yang memotret kalangan elit sering kali lebih menarik. Tingkat keberartian juga mempengaruhi nilai. Berita yang relevan dengan audiens, seperti kedekatan kultural dan aspirasi, cenderung mendapatkan nilai lebih tinggi. Ini juga nampaknya yang menjadikan KR ‘ngangeni’ untuk pembaca yang pernah bersentuhan dengan Yogyakarta, seperti ilustrasi pembuka.

Cakupan berita ditentukan oleh beberapa faktor. Peritiswa yang sesuai nilai yang dianut oleh media seringkali mendapatkan porsi penting, dibandingkan dengan yang berseberangan. Kontinuitas berita untuk peristiwa yang berlangsung cukup lama juga menjadikan berita lebih bernilai. Untuk menyasar audiens yang berbeda, tidak jarang, redaksi media mengenalkan komposisi rubrik yang beragam. Komposisi ini juga menentukan nilai berita.

Jika di era digital ini, Galtung dan Ruge mengunjungi kembali perspektif yang ditawarkan 50 tahun lalu, sangat mungkin ada aspek lain yang menentukan nilai berita. Kini, perkembangan teknologi informasi, terutama Internet, telah mengubah lanskap industri media cetak.

Dampak Internet

Perkembangan teknologi informasi, terutama Internet, telah menantang beragam asumsi awal tentang bagaimana kita memandang produksi dan penyebaran informasi.  Berita adalah informasi, hasil pengolahan data. Internet telah mengakibatkan ‘perusakan kreatif’ (creative destruction) – meminjam istilah Schumpeter. ‘Kerusakan’ seperti apa yang diakibatkan oleh Internet?

Internet memungkinkan kecepatan distribusi informasi, memperluas jangkauan sebarannya, dan memfasilitasi interaksi serta kolaborasi. Koneksi Internet memungkinkan distribusi informasi dalam kecepatan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Karenanya, nilai berita lain terkait dengan ‘kehangatan’ dapat dijamin. Selain, jika media cetak mempunyai jangkauan yang terbatas, yang secara sederhana diindikasikan dengan oplah, tidak demikian halnya dengan media daring. Singkatnya, Internet telah menghilangkan batas waktu dan ruang.

Selain itu, media daring juga dapat menjadi ruang publik baru yang memungkinkan interaksi antaradudiens. Pengalaman yang sulit didapatkan dalam media cetak. Interaksi bisa ditingkatkan dalam ranah kolaborasi, yang memungkinkan audiens berkontribusi dalam memberikan informasi. Konsep jurnalisme warga yang difasilitasi oleh beragam media daring adalah contoh manifestasinya. Perspektif yang ditawarkan, karenanya, menjadi sangat beragam.

Tetapi, digitalisasi informasi memunculkan tantangan lain. Meski demikian, harga informasi tidak didasarkan pada biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, tetapi oleh nilai yang ditawarkan.  Sialnya, biaya produksi informasi bisa jadi sangat mahal, tetapi biaya reproduksinya sangat murah. Persaingan dalam industri ini semakin ketat bisa menjadikan biaya reproduksinya mendekati nol. ‘Salin-tempel’ informasi digital bukanlah sesuatu yang sulit dan mahal. Karenanya, fokus pada nilai menjadi satu-satunya pilihan pengelola media untuk bertahan dan berkembang, untuk mencapai misinya.

Perspektif Baru?

Perspektif baru apa yang dapat ditawarkan? Pertama, saat ini, banyak audiens media cetak, terutama kalangan muda yang melek Internet, tidak lagi tertarik dengan berita ‘basi’. Ukuran ‘basi’ menjadi semakin singkat. Berita kemarin, oleh banyak audiens sudah masuk dalam kategori ‘basi’, apalagi jika dalam 24 jam terakhir, misalnya, perkembangannya sangat cepat. Semakin ‘basi’, sebuah berita semakin tidak bernilai. Untuk mendapatkan berita mutakhir dan hangat, mereka dengan mudah mengakses situs web. Yang dicari audiens dari media cetak tidak lagi hanya sebatas berita ‘jepretan sesaat’, tetapi analisis yang lebih mendalam. Ada perspektif yang ditawarkan. Rubrik opini, ulasan, atau tokoh bisa menjadi lebih menarik.

Kedua, hanya mengandalkan media cetak nampaknya juga bukan keputusan bijak. Pengelola media harus memikirkan dengan serius strategi yang ‘pas’. Media daring tidak dapat hanya merupakan salinan dari media cetak. Beragam strategi yang dipakai di lapangan, mulai dengan penentuan waktu pemutakhiran berita, pemberian hak akses berbayar untuk informasi atau konten tertentu, sampai dengan membundel akses daring dengan langganan media cetak. Bundel ini juga bisa untuk mitra pemasang iklan, misalnya.

Ketiga, pengelola media, perlu juga ‘memfasilitasi’ generasi muda yang melek Internet, para pribumi digital. Inisiatif untuk menjadikan media daring sebagai sarana interaksi dan kolaborasi sehat antaraudiens perlu dipikirkan serius. Ini penting karena informasi adalah ‘barang pengalaman’. Fasilitasi membagi berita melalui kanal sosial media, juga perlu serius dipikirkan. Pelibatan media sosial dalam memperluas jaringan, dan meningkatkan nilai berita. Intinya, jangan hanya berfokus kepada ‘kompetitor’, tetapi berikan perhatian kepada ‘kolaborator’ dan ‘kompelementor’. Audiens dan mitra masuk ke dalam kelompok ini.

Keempat, selain itu, beberapa pengelola juga memilih mengenalkan akses multikanal. Untuk mengakses berita atau informasi, audiens diberi keleluasaan. Teknologi berbasis web konvensional bisa jadi sudah tidak menarik lagi, karena penetrasi perangkat bergerak semakin tinggi. Lagi-lagi, pengelola media perlu memberikan layanan yang responsif, karena menampilkan informasi dalam perangat bergerak berbeda dengan di situs web. Bahkan tidak jarang, media cetak tidak hanya dilengkapi dengan media daring, tetapi ada kanal berita lain yang dibesut, seperti radio dan televisi. Ini adalah strategi ‘reuse’ dan ‘resale’. Jangkauan yang luas ini juga pada akhirnya mempengaruhi nilai berita.

Epilog

Perspektif ini meski belum bisa dilaksanakan dalam menjalankan jurnalisme mahasiswa karena beragam alasan, perlu ditanamkan menjadi state of mind, yang pada saatnya akan mendorong perubahan nyata. Saya percaya, sebagian dari penggiat jurnalisme mahasiswa, pada waktu yang akan mendatang masih istikamah dalam bidang jurnalisme di media yang mapan. Di sanalah, state of mind ini akan menemukan ladang subur untuk tumbuh dan berkembang lebih pesat.

————————–

Elaborasi atas sambutan dan materi diskusi pada HimmahFest dan peluncuran himmahonline.id pada 8 Juli 2018. Sebagian ide dalam tulisan ini pernah dimuat dalam SKH Kedaulatan Rakyat pada peringatan 70 tahun koran tersebut.