Memahami Nusus Syariah (teks syariah) seperti Al-Quran dan Hadist sangat penting bagi mahasiswa maupun lulusan Program Studi Syariah. Sebab untuk mengetahui dan mempelajari hukum-hukum syariah terlebih dahulu harus memahami apa yang menjadi sumber dari hukum tersebut.

Melihat betapa pentingnya hal tersebut, Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum khususnya untuk mahasiswa program studi Ahwal Al-Syakhsiyah Program Internasional. Kegiatan kali ini diisi oleh Prof. Dr. Abdellatif Bouazizi salah satu guru besar di Universitas Zaitunah Tunisia, pada Selasa (5/11) di Ruang Sidang Umum FIAI.

Acara ini dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam Dr. H. Tamyiz Mukharrom, MA. “Alhamdulillah kita masih bisa menjalin hubungan baik dengan Universitas Zaitunah Tunisia, acara ini merupakan salah satu bentuk kerja sama kita dalam membangun peradaban Islam masa depan”, ungkapnya.

Kedepannya FIAI tidak hanya mengadakan kuliah umum saja tetapi juga merencanakan program double degree dengan Universitas Zaitunah Tunisia. Program menarik ini sebagai bentuk tindak lanjut kerjasama sekaligus wadah bagi mahasiswa FIAI untuk lebih mengembangkan wawasannya

Sementara Pembicara Prof. Dr. Abdellatif menjelaskan bahwa untuk bisa memahami Nusus Syariah ada jalan yang harus ditempuh para penuntut ilmu. Menurutnya ada lima hal yang patut dicatat, yakni pertama dan yang paling penting adalah harus mempelajari dulu Bahasa Arab. Kedua, harus melihat dari berbagai ayat sebagaimana kita tahu bahwa dalam Al-Quran suatu perkara tidak hanya disebut dalam satu ayat saja namun bisa berkorelasi dengan ayat lain.

“Banyak yang mempelajari Nusus namun tidak didahului dengan keterampilan berbahasa Arab, maka disini tidak heran jika terjadi kesalahan dalam penafsiran misalnya”, ujarnya.

Penjelasan dilanjutkan dengan cara ketiga yaitu mengetahui asbabun nuzul (sebab dari turunnya ayat tersebut). Suatu ayat Quran maupun hadis tidak serta merta ada atau diturunkan tanpa sebab karena untuk memberi petunjuk kepada manusia. Lalu keempat adalah melihat pada pendapat para salaf atau ulama.

“Dan yang terakhir adalah berusaha memiliki sifat taqwa, karena jika tidak bertaqwa tidak akan sampai pada tahap memahami itu semua. Al-Quran juga diturunkan kepada orang yang bertaqwa”, pungkasnya. (CSN/ESP)