Di bulan Ramadhan umat muslim beramai-ramai menjalankan ibadah puasa guna menuju kemenangan lahir dan batin. Puasa juga dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa. Iman berarti memiliki kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan taqwa berarti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah yang menjadi pokok bahasan dalam kegiatan ngabuburit rutin selama Bulan Ramadhan yang dibungkus dengan nama Kajian Special Senja oleh Takmir Masjid Ulil Albab Universtas Islam Indonesia (UII). Dengan topik ‘Ramadhan Al-Qur’an dan Ketaqwaan’ pada Kamis menjelang maghrib (9/5), acara ini menghadirkan Ustadz Nizam Zulfikar, S.IP sebagai pembicara.

Dalam ceramahnya, Nizam menyampaikan bahwa orang yang bertaqwa adalah pemenang, dalam konteks ini, menuntaskan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Ia kemudian mengutip surah Ali Imran ayat 133 yang artinya “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.

Mengacu pada ayat tersebut, Nizam lalu memberikan analogi ‘kolak pisang’. “Kalau diibaratkan, ketika kita menyantap kolak pisang di kali pertama kita menyantapnya, namun boleh jadi rasanya akan berbeda jika itu sudah santapan ke sepuluh, walaupun itu kolak pisang yang sama”, jelas Nizam. Ia melanjutkan bahwa surga akan selalu terasa seperti “santapan pertama” di kala menyantap kolak pisang tersebut, ditambah lagi yang luasnya seluas langit dan bumi.

Adapun ciri-ciri orang yang bertaqwa yang dijelaskan Nizam adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, beriman pada yang ghoib, mendirikan sholat, beriman terhadap apa yang diturunkan oleh Rasulullah SAW, bersedekah baik dalam waktu lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan orang lain, serta bertaubat kepada Allah ketika hendak bermaksiat.

Ia juga mengingatkan bahwa selain bulan pengampunan, bulan Ramadhan juga merupakan ajang untuk melatih emosi dalam membentuk karakter individu. Kemudian Nizam merefleksikan ketaqwaan di Bulan Ramadhan ini melalui pertanyaan, “Apakah kita sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kita? Sudahkah kita bersedekah? Mampukah kita memaafkan orang lain? Sejauh mana kita sudah bertaqwa?” (IG/ESP)