Bertahan sambil bertumbuh, ungkapan ini menggambarkan apa yang dilakukan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di tengah kondisi ekonomi yang menurun akibat pandemi Covid-19. Bagaimana mempertahankan jalannya bisnis, sembari berupaya untuk dapat tetap tumbuh dengan fleksibelitas dan kreativitas yang dimiliki.

Ungkapan tersebut membuka Growth Talk LDR (Live Dari Rumah) perdana pada Selasa malam (5/5) yang ditayangkan secara langsung di akun instagram Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama Universitas Islam Indonesia (IBISMA UII). Rininta Hanum dari IBISMA UII selaku host berbincang dengan Koordinator Wilayah International Council for Small Business (ICBS) Daerah Istimewa Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Bendoro. “Preparing Post Corona” menjadi judul yang diangkat pada Growth Talk LDR kali ini.

GKR Bendoro yang juga memiliki usaha produk kosmetik Hayyana dan jasa perawatan kecantikan spa, menceritakan perjuangannya menjaga dua bisnis itu di kala pandemi. Menggencarkan promosi menjadi cara yang dilakukannya agar penjualan produk kosmetik stabil, meskipun tidak dapat dipungkiri tetap terjadi penurunan. Namun hal ini tidak berlaku bagi Nurkadhatyan Spa, usaha spa miliknya, yang terpaksa menutup satu-satunya outlet di bilangan Depok, Sleman.

“Hayyana masih jalan, tapi kita harus lebih banyak promosinya. Sepuluh hari sudah ada promo baru. Jadi saat sudah mulai terasa menurun promo ini, kita harus cari promo yang lainnya. Ini dilakukan untuk terus menawarkan sesuatu yang berbeda. Dan kita juga bisa melihat beberapa segmen, siapa aja sih yang tertarik kalau promonya seperti ini,” ucapnya.

Mengenai karyawan di bisnis spa miliknya, Ia mau tak mau menggunakan dana darurat pribadi agar tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sebagian karyawan pun dirumahkan, mengingat berhentinya aktivitas spa. Ia memutar otak agar Tunjangan Hari Raya (THR) dapat tetap terbayarkan dengan cara mencicilnya ataupun hutang kepada karyawan.

“Banyak pelajaran yang didapat. Saya menggunakan kesempatan Covid-19 ini untuk mereorganisasi perusahaan saya secara finansial, juga efisiensi dari segi operasional. Saya jadi tahu betapa pentingnya mempersiapkan hal tak terduga. Jadi, perusahaan itu harus ada paling tidak dana darurat, itu minimal satu bulan gaji karyawan,” ungkapnya.

“Satu bulan itu paling tidak perusahaan bisa mengubah strateginya untuk mencoba bagaimana caranya menabung lagi, bagaimana mendapatkan uang operasional,” imbuhnya.

Situasi saat usahanya harus tutup sempat membuatnya pusing. “Kalau kemarin itu jujur saya ngga ada kepikiran, karena sudah jalan lima tahun, saya sudah ada di zona nyaman. Saya nggak ada kepikiran dana darurat. Jadi begitu kemarin tutup (outlet spa), losss, itu saya kayak ujian skripsi. Tiap malam mikir ‘aduuh gimana’,” kisahnya diiringi tawa.

Ia pun memberikan tips bagi pemilik UMKM menghadapi situasi saat ini dan pasca pandemi nanti. “Kita sebagai pengusaha harus fleksibel dan terus berpikir bagaimana caranya kita dapat beradaptasi dengan situasi. Kita tidak tahu tahun depannya lagi ada apa, bukan hanya karena Covid-19. Seperti tren kan naik turun,” tuturnya.

Berbagai tips kemudian diberikan oleh GKR Bendoro. Di akhir obrolan, Ia menambahkan satu pesan yang hampir terlupakan olehnya, yakni pentingnya kolaborasi. Produk yang dimiliki sebisa mungkin dikolaborasikan dengan UMKM lain, demi meningkatkan tingkat penjualan. (HR/RS)

Pelaku UMKM dapat bergabung di Warung Rakyat UII: https://warungrakyat.uii.ac.id/