Kesehatan tidak dipungkiri merupakan hal penting yang harus disyukuri oleh setiap orang. Dalam situasi apapun, terlebih ketika pandemi Covid-19 mewabah, kesehatan menjadi hal yang utama. Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama Universitas Islam Indonesia (IBISMA UII) terpantik menyelenggarakan kelas inspirasi untuk menjaga produktivitas. Acara bertemakan Healty Food for Your Body and Soul, Kamis (7/5). Acara mengundang CEO Gudfrich, Satyaguna Rakhmatullah yang diadakan secara daring.

Gudfrich dikenal sebagai produk olahan susu yang difermentasi menjadi yogurt dan kefir. Satyaguna Rakhmatullah menjalankan bisnisnya ini sejak tahun 2018. Berbagai pengalaman dan rintangan pun sudah banyak dilalui. Ia mengatakan bahwa saat ini anak muda lebih banyak suka mengikuti trend dengan minuman-minuman kekinian diandingkan dengan membeli minuman yang sehat.

Menurutnya produk yang terdampak adalah produk yang ada di kampus, dan dari industri partner distributor susu segar yang mengalami defisit. “Berbagai kreasi dan inovasi harus dilakukan. Pemasaran secara online sebagai salah satu cara yang dilakukan di tengah pandemi saat ini,” jelasnya.

Dikatakan Satyaguna, makanan yang kita makan mencerminkan diri kita, asupan pangan sehat dan bergizi bisa menambah produktivitas dan meningkatkan kesehatan terlebih di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Processing pangan atau cara mengolah suatu bahan mentah juga berpengaruh terhadap gizi makanan tersebut. Proses fermentasi misalnya yang dapat meningkatkan kandungan nutrient pangan berkali-kali lipat.

Selain itu, disampaikan Satyaguna, proses fermentasi membuat cita rasa pangan menjadi jauh lebih lezat. Disadari atau tidak, proses fermentasi yang mengandung probiotik dapat menyehatkan organ pencernaan. Selain youhurt dan kefir, lanjut Satyaguna, tempe juga merupakan hasil dari biji kedelai yang difermentasi, selain juga masih banyak makanan lainnya hasil dari fermentasi. “Karenanya, pangan fermentasi menjadi salah satu alternatif menu sehat yang kaya akan nutrien, probiotik, dan rendah kalori,” ungkapnya.

Lebih lanjut dipaparkan Satyaguna, yoghurt dan kefir adalah saudara serumpun dari susu fermentasi. Berdasarkan penelitian yoghurt menggunakan 2-7 tipe bakteri dan bisa dibuat dengan susu sapi, susu kambing, dan susu kedelai. Sedangkan kefir bakterinya beda dan lebih banyak sekitar 34-41 jumlah bakteri. Manfaatnya pun lebih banyak dari kefir, mulai dari anti virus, anti hipertensi, dan lain sebagainya.

Dijelaskan Satyaguna, produk fermentasi dapat bertahan selama 27 hari di suhu ruangan biasa dan bertahan hingga 6 bulan ketika di bekukan. Ketahanan pangan juga dapat dipengaruhi dari sisi produksi packaging yang adaptable, yakni dengan kalengan yang juga menambah masa simpan produk. Dengan masa simpan yang panjang, juga akan berpengaruh jangkauan pasar yang ada di luar daerah.

Satyaguna dalam kesempatannya juga mengungkapkan tips sebelum membuat usaha di bidang makanan. Dalam hal perizinan misalnya, tiga hal utama yang harus ada yakni legalitas merek, legalitas produk, dan kehalalan. Ketiga hal tersebut juga dapat menjamin kepercayaan dari konsumen. Ia juga menyarankan agar selalu mendukung produk lokal dan tetap meningkatkan produktivitas. Usulan dari bidang healthy food dapat menjadi pilihan saat masa pandemi, misalnya produk ice cream yang mengandung probiotik. (HN/RS)