Kehadiran bulan Ramadan setiap tahunnya menjadi penghibur hati orang mukmin. Beribu keutamaan ditawarkan mulai dari pahala yang dilipatgandakan hingga bertebarannya majelis-majelis ilmu, dari mulai terbitnya matahari hingga malam tiba. Terlebih dengan mengikuti majelis ilmu termasuk dalam salah satu cara memuliakan dan menghormati bulan Ramadan, selain memperbanyak ibadah lainnya.

Disampaikan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. pada acara Pesantren Ramadan Rektorat UII 1440 H, di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito UII, Sabtu (25/05), menuntut ilmu bagi setiap umat muslim merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan, terlebih ilmu yang berkaitan dengan tuntunan agama Islam.

“Menuntut ilmu menjadi sebuah keharusan bagi setiap umat muslim terlebih jika mampu mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. Maka dari itu melalui kegiatan ini, harapannya mampu meningkatkan kualitas ilmu kita dan mampu melaksanakannya sehingga dapat meningkatkan ketakwaan diri kita,” tuturnya.

Fathul Wahid menceritakan sebuah hadist tentang kisah Ali bin Abi Thalib yang memiliki sikap yang sangat menghormati jasa seorang guru. Walaupun hanya disampaikan satu huruf saja, Ali sampai memasrahkan kepada guru tersebut seperti seorang hamba sahaya (budak).

“Selain menuntut ilmu dan mengamalkannya, kita juga harus menghormati guru yang telah mengajarkan ilmu walaupun satu huruf saja. Bahkan Ali bin Abi Thalib mengibaratkan hubungan guru dengan murid seperti tuan dengan budaknya. Sebagaimana budak, senantiasa siap menjalankan titah tuannya,” ungkapnya.

Pada penyelenggaraan  Pesantren Ramadan Rektorat UII kali ini menghadirkan tiga pemateri yakni Ustadz Ammi Nur Baits yang aktif pada konsultasisyariah.com, Kepala Laboratorium Terpadu UII, Rudy Syahputra, S.Si., M.Si., Ph.D. serta Ustadz drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dalam kesempatannya Ammi Nur Baits mengatakan keutamaan di bulan suci Ramadan adalah dengan mengisinya dengan mengikuti majelis-majelis ilmu. Senada dengan Fathul Wahid, sudah seharusnya sebagai orang mukmin untuk menuntut ilmu dan membaginya dengan orang lain. Dengan berbagi ilmu akan membuat ilmu yang telah dipelajari dan diamalkan dapat mengendap di dalam hati dan tidak hilang begitu saja.

“Penting bagi seorang mukmin untuk menjaga ilmu agar tidak hilang dari tubuhnya. Dengan berbagi ilmu mampu mengendapkan ilmu itu dalam diri kita dan menjadi amal yang menolong kita di akhirat kelak sehingga jangan sampai setelah mengikuti kajian ilmu seperti ini setelahnya hilang begitu saja,” ungkapnya.

Sementara disampaikan Rudy Syahputra perlunya perhatian bagi setiap orang mukmin untuk memperhatikan halal dan haram dalam kehidupan sehari-hari. Halal adalah akidah yang harus dipegang karena dari sesuatu yang halal pasti memiliki nilai yang baik.

“Sangat penting untuk mengetahui asal usul segala sesuatunya itu halal atau haram. Misalnya saja makanan, dengan memakan makanan yang halal dan baik akan membawa seseorang pada kehidupan yang sehat,” ungkapnya.

Sementara itu, Agung Budiyanto mengatakan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang berakal memiliki tantangan yang cukup berat. Tantangan itu diantaranya sombong dengan prestasi dunia, mencari kemuliaan dunia, merubah sudut pandang dan mampu menjadikan musibah dari sisi yang positif. (ENI/RS)