• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Menata Ulang Ruang Publik Yang Tahan Pandemi
Berita Kegiatan, Covid19, Pilihan

Menata Ulang Ruang Publik Yang Tahan Pandemi

Pandemi Covid-19 memicu adanya krisis yang berdampak pada kehidupan sosial. Disrupsi besar ini memberikan sudut pandang baru bagi arsitek dalam melakukan pengelolaan kota. Kebijakan mengenai menjaga jarak fisik dan menghindari keramaian menjadi pemantik untuk mendesain kota yang berketahanan dan lebih sehat guna mengantisipasi adanya wabah serupa terulang kembali.

Lantas bagaimana merancang kembali ruang publik agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk berkumpul secara sosial namun tetap memperhatikan jarak fisik antar pribadi. Menanggapi hal tersebut, Program studi Arsitektur Universitas Islam Indonesia mengadakan webinar pada Kamis (28/5) melalui Zoom yang diisi oleh dua pembicara yakni Prof. Nicole Uhrig dari Anhait University of Applied Science dan Dr. -Ing Ilya Fadjar Maharika, MA dari Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII.

Nicole Uhrig mengatakan bahwa wabah virus corona sangat berefek pada perekonomian setiap negara. Jarak sosial membuat banyak orang harus menutup usahanya dan tetap di rumah saja. Namun, tidak dipungkiri meskipun sudah dihimbau pemerintah untuk membatasi aktivitas di luar rumah, masih ada saja yang melanggarnya. Untuk itu sebagai seorang arsitek perlu merancang agar negara, kota, maupun desa tetap mendukung aktivitas warga tanpa ada rasa khawatir.

Pengelolaan ruang publik bukan hanya soal menyehatkan masyarakatnya, melainkan juga mempersiapkannya menghadapi wabah dengan dampak seminimal mungkin. Banyaknya orang yang terinfeksi virus corona harus juga dibarengi dengan persediaan tempat karantina atau isolasi warga yang terjangkit. “Tahun ini dapat menjadi referensi agar kita dapat mempersiapkan tempat lebih dalam menghadapi wabah serupa di masa depan,” ucapnya.

Ia menambahkan perlunya beberapa opsi selain tempat karantina; seperti tempat ibadah, restoran atau tempat makan lainnya, pasar, ruang belajar, tempat rekreasi, mall, dan sebagainya. Ia juga menekankan perlunya wahana bermain yang aman bagi anak kecil. Sebab anak-anak memerlukan agar wahana untuk melatih perkembangan fisik, kognitif, sosial dan emosionalnya. “Penting sekali dibuat rancangan agar ruang publik siap menghadapi segala situasi seperti wabah ini,” tambahnya.

Struktur tatanan kota kedepannya perlu disiapkan dengan membuat beberapa aturan di setiap tempat. Misal di tempat ibadah harus diberi tanda jarak fisik antar pribadi dengan tanda yang berbentuk lingkaran, kotak, silang, maupun yang lainnya. Tempat makan, perlu dibuat rumah-rumahan mini yang terdapat kursi dan meja yang hanya dapat diisi oleh dua orang saja berhadap-hadapan. Ruang pembelajaran diatur dengan dibuatnya jarak antar meja dan kursi.

Trotoar atau tempat pejalan kaki perlu diberi tanda pembatas di tengah jalannya sehingga setiap orang dapat berjalan sesuai dengan jalurnya. “Trotoar pop-up ini memberikan ruang tambahan bagi pejalan kaki untuk mencapai jarak sosial di area pusat kota yang ramai,” jelasnya.

Memanfaatkan Celah Teknologi

Solusi lain yang memungkinkan adalah dengan mendirikan kota pintar yang banyak memanfaatkan teknologi. Krisis corona memicu dorongan untuk meningkatkan ekspansi infrastruktur, platform online baru, aplikasi mobile untuk mencegah dan melacak rantai infeksi, serta model kerja digital yang lebih fokus dan lebih baik dari sebelumnya.

Upaya perencanaan struktur kota di atas sudah tentu membutuhkan lahan yang luas. Nicole Uhrig mengatakan bahwa kota-kota menurunkan rintangan birokrasi dan pembatasan jarak fisik yang tersebar di ruang publik memakan lebih banyak area. Maka untuk mempersiapkannya sangat diperlukan kerjasama yang baik, waktu, tenaga, dan dana yang cukup besar.

Di penutup sesinya, ia memberikan empat kesimpulan. Pertama, orang-orang perlu merebut kembali ruang terbuka: cukup informasi, memadai, bertanggung jawab, dan tanpa rasa takut. Kedua, bagaimana mengubah perilaku orang untuk bertindak secara bertanggung jawab?. Ketiga, meningkatkan ketahanan dengan memungkinkan solusi yang lebih fleksibel, mudah, cepat, dan ekonomis di saat krisis. Terakhir, jangan mengorbankan tujuan yang lebih tinggi dari perencana terjebak dalam instalasi dan pembatasan sementara yang diinstal dengan cepat.

Senada, Ilya Fadjar Maharika juga mengatakan bahwa semua ukuran-ukuran dalam mengatasi pandemi seperti social distancing maupun contact tracing membutuhkan ruang yang lebih luas dan boros. Ia menawarkan solusi dengan memanfaatkan taman atau fasilitas olahraga di masa krisis sekarang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penanganan darurat. Terlebih belum diketahui kapan wabah corona akan menghilang, dan apakah kelak akan muncul virus baru yang sama bahayanya.

Seorang arsitek juga membutuhkan pihak lain dalam mempersiapkan kemungkinan adanya wabah baru. Kapasitas tenaga kesehatan, institusi, dan masyarakat juga sangat krusial. Arsitek di masa krisis harus aktif dalam mendukung pemerintah dengan memberikan masukan terhadap pembatasan sosial berskala besar. “Bersama-sama mempersiapkan perencanaan kota yang dibutuhkan dalam memastikan penanganan pandemi agar berjalan efisien dan efektif,” tutupnya.(SF/ESP)

30 Mei 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/FTSP-UII.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII.png humas2020-05-30 06:34:202020-05-30 06:36:54Menata Ulang Ruang Publik Yang Tahan Pandemi

Berita Terakhir

  • Jawab Kebutuhan Pasien Internasional, CILACS UII dan RS Panti Nugroho Teken MoU Interpreter Bahasa Arab 
  • UII Terima Kunjungan Universitas Pertahanan RI
  • UII dan IKPI Perkuat Kolaborasi untuk Siapkan Konsultan Pajak Adaptif di Era AI dan Coretax
  • UII Hadirkan Light Show di Stasiun Tugu Yogyakarta, Perkenalkan Kampus Melalui Pertunjukan Visual
  • UKM TQFI UII Resmi Buka Grand Final International Quranic Festival 2026

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Tantangan Industri Media di Kala Pandemi Link to: Tantangan Industri Media di Kala Pandemi Tantangan Industri Media di Kala PandemiJiwa mukmin - UII - berita kontrol kehamilan Link to: PERNYATAAN SIKAP SIVITAS AKADEMIKA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Link to: PERNYATAAN SIKAP SIVITAS AKADEMIKA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA PERNYATAAN SIKAP SIVITAS AKADEMIKA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Scroll to top Scroll to top Scroll to top