Program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Univesitas Islam Indonesia (UII) mengadakan Diskusi publik mengenai Kebijakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Madrasah di Indonesia pada Jum’at (26/03). Acara yang dilakukan via Zoom tersebut menghadirkan Dr. H. Ahmad Hidayatullah, M.Pd yang merupakan Kasudbit Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI.

Pada saat memaparkan materinya beliau mengatakan, salah satu permasalahan di Indonesia adalah kurangnya minat baca para pelajar. Hal itu merupakan salah satu tantangan bagi Kemenag dalam menjadikan madrasah menjadi lebih inovatif dan aktif dalam meningkatkan mutu minat baca para pelajar di Indonesia.

“Indonesia kondisinya cukup memperihatinkan, kemampuan literasi membaca indonesia ini masih dibawah rata rata. Itu tahun 2018 kisarannya sudah segitu saja, disitu kami mendapat tantangan bagaimana pendidikan madrasah bisa menjawab perubahan kedepan, inilah bapak bapak ibu ibu mendorong kami untuk merancang blue print dalam membawa bangsa ini,” ungkap beliau.

Ahmad Hidayatullah juga mengatakan, guru saat ini hendaknya tidak hanya sekedar mengajar terhadap siswa, akan tetapi para guru diharapkan untuk selalu mengontrol situasi siswa agar mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif.

“Kalo pengajaran itu, guru memberi murid menerima, istilahnya kita memberi bekal untuk murid. Untuk itu yang bisa diberikan oleh guru adalah memberikan suasana. Menghubungkan yang nyata disekitar anda sebagai media belajar, kemudian menciptakan sebuah kondisi. Itulah yang kita sebut dengan pembelajaran,” ujar beliau.

Ahmad Hidayatullah juga menegaskan, cara pandang siswa hendaknya telah dipupuk sejak dini mengenai keislaman. Siswa harus diajarkan bahwa Islam merupakan ajaran yang terus menerus berkembang, Islam merupakan ajara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Islam itu update setiap saat tidak lekang oleh zaman, kemudian ibadahnya terjaga. Modernasi dan anti korupsi, semuanya itu harus diiringi dengan perbaikan mutu pembelajaran yang ada di madrasah, semuanya itu dasarnya harus ilmiah,” ungkapnya. (AMG/RS)