Tanggal 8 Agustus 2018 yang lalu adalah tonggak sejarah baru bagi Universitas Islam Indonesia (UII) yang kita cintai. Posisi Ketua dan Sekretaris Jurusan merupakan amanah baru yang sebelumnya tidak ada dalam tradisi organisasi UII. Ini adalah ijtihad organisasional yang diamanatkan oleh Statuta UII 2017.

Pembentukan jurusan tidak bisa dilepaskan dari niatan menyemai “sekolah”, konsep yang juga terekam dalam Statuta. Jurusan diharapkan menjadikan pengembangan keilmuan yang serumpun lebih kondusif dan orkestrasi sumber daya lebih efektif. Untuk itu, dibutuhkan pemimpin di tingkat jurusan yang kuat sebagai orkestrator andal yang siap mengantarkan UII lebih hebat dan melesat.

Tingkatan dalam organisasi adalah hal yang wajar. Dalam bahasa manajemen, ini menggambarkan banyak hal; seperti koordinasi, pembagian kewenangan/tugas, rentang kendali, dan lain-lain. Hal ini, sama sekali tidak berhubungan arogansi dan kuasa yang nirnilai. Apalagi dalam konteks perguruan tinggi di mana kepemimpinan dibangun dengan asas kolektif kolegial. Kita masih bisa lihat dalam lembaran sejarah UII, ketika Pak Kahar selesai menjalankan amanah sebagai Rektor UII selama 15 tahun, sejak UII berdiri sampai 1960, beliau berkenan menjalankan amanah sebagai Dekan Fakultas Hukum, bergantian dengan Pak Kasmat.

Konsep pembagian tingkat ini (leveling) ini juga dijelaskan dalam Alquran.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS 43:32).

Studi yang dilakukan oleh Jim Collins menemukan lawan hebat (great) bukanlah buruk (bad), tetapi baik (good). Ini terekam dalam bukunya yang berjudul Good to Great. Kalau kita sudah merasa menjadi good (baik), maka akan sulit menjadi great (hebat). Salah satu temuan menariknya adalah bahwa ternyata organisasi/perusahaan yang hebat dipimpin oleh pemimpin yang tidak high-profile dengan personalitas besar yang selalu tampil di headline media dan menjadi selebritas. Justru sebaliknya, pemimpin yang berhasil mengantarkan good company menjadi great company adalah mereka yang mumpuni, tetapi cenderung pendiam, dan bahkan pemalu. Ada senyawa paradoksal dalam dirinya, antara rendah hati (personal humility) dan keinginan profesional yang tinggi (profesional will).  Meminjam istilah Collins, pemimpin seperti ini cenderung seperti Socrates daripada Caesar. Jelas, sifat ini ada pada Rasulullah saw.

Perintah Allah dalam Alquran sangat jelas:

“Dan rendahkanlah (sayap) dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.” (QS 26:215)

Dengan kata yang sama, Allah memerintahkan kita merendahkan sayap, tawadlu’, ketika bergaul dengan orangtua kita.

“Dan rendahkanlah (sayap) dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS 17:24)

Kita mungkin akan bertanya: apa kemudian pemimpin seperti ini tidak punya ego dan ambisi? Tidak. Ego dan ambisi yang dipunyai dikanalkan dari dirinya ke dalam tujuan yang lebih besar, yaitu mengantarkan organisasi menjadi hebat. Kepentingan pribadinya telah dimatikan, dari ‘pribadi’ telah menjelma menjadi ‘organisasi’. Untuk itu dibutuhkan seorang pemimpin level 5, menurut Collins.

Pemimpin level 5 akan menghasilkan prestasi yang luar biasa, yang merupakan katalis perubahan dari baik menjadi hebat. Namun, di sini lain, dia tidak mengada-ada, tidak mengharap pujian, dan tidak boastful. Pemimpin ini juga mendemontrasikan solusi yang solid untuk dilakukan, tanpa peduli kesulitan yang ada. Sulit bukan berarti tidak mungkin. Tetap di sini sebaliknya, dia melakukannya dengan kalem, tidak banyak publisitas, tetapi dengan determinasi yang tinggi. Untuk memotivasi, pemimpin level 5 ini mengandalkan standar yang disepakati, bukan dengan kharisma.

Pemimpin level 5 juga akan menetapkan standar-standar baru untuk menjamin keberlangsungan proses dari baik menjadi hebat. Di samping itu, ambisi pribadi diarahkan untuk kepentingan organisasi, dan berusaha menyiapkan pengganti yang akan meneruskan langkah tranformasi menjadi hebat.

Selalu berkaca adalah sifat pemimpin level 5 ini. Tidak gampang menyalahkan orang lain, faktor eksternal, dan bad luck. Jika ada yang tidak beres, dia tidak sungkan mengambil tanggung jawab. Namun jika berhasil, pemimpin level 5 akan menyatakan bahwa ini adalah karena adalah keberhasilan organisasi, ada andil orang lain, faktor eksternal, dan good luck. Dalam ajaran agama kita, kehendak Allah tidak bisa dilepaskan.