Ijinkan saya mengajak Ibu dan Bapak dosen berpetualang ringan ke diskursus terkait dengan pembelajaran. Saya percaya, pembelajaran didasarkan pada nilai-nilai perenial (abadi) yang tidak berubah. Konten dan metodelah yang berubah.  Ide-ide dalam pembelajaran merupakan indikasi respons komunitas pembelajar atas selera zaman yang berubah: karakter manusia berkembang, teknologi semakin maju, tuntutan masyarakat berubah.

Pertama, terkait dengan komunitas pembelajaran (community of learning). Yang saya pahami, komunitas pembelajaran diikat dengan semangat dan tujuan yang sama, meningkatkan kualitas pembelajaran.

Saya akan mulai dengan ungkapan: Banyak kepala lebih baik daripada satu kepala. Ternyata ungkapan di atas tidak selamanya benar. Dalam buku The Wisdom of Crowds, James Surowiecki menyatakan bahwa pertanyaan tersebut benar jika empat kondisi terpenuhi: (a) adanya opini yang beragam (diversity of opinion) – setiap orang harus mempunyai informasi privat, meskipun hanya merupakan interpretasi lain atas fakta yang ada; (b) independen – opini orang tidak ditentukan oleh opini orang-orang sekitarnya; (c) desentralisasi – orang dapat memanfaatkan pengetahuan lokal; dan (d) agregasi – adanya mekanisme yang menggabungkan informasi privat ke dalam keputusan kolektif.

Ide Surowiecki ini membuka mata kita untuk mempertanyakan ulang keefektifan ‘banyak kepala’. Di sisi lain, buku ini mengajak kita berpikir ulang bagaimana banyak kepala lebih baik daripada satu kepala, seberapa pintar pun satu kepala itu.

Saya percaya, keragaman dan bukan keseragaman ide yang memantik munculnya ide besar yang lebih berkualitas. Ini mirip dengan ketahanan hutan multikultur yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang monokultur.

Independensi pun harus dimunculkan. Berani berpikir berbeda perlu dipupuk dan dikembangkan. Tanpa independensi, diskusi akan bersifat basa-basi, tanpa sikap dan posisi yang jelas, entah karena menghormati senior atau karena alasan lain. Logika-logika segar dalam pengambilan kesimpulan perlu diperkaya dengan informasi dan pengalaman privat, meski pada akhirnya mekanisme agregasi bagaimana pun harus disepakati.

Jika demikian halnya, setiap diskusi yang anda alami dalam kelompok seperti ini akan merupakan pengalaman yang menantang intelektual anda! Percayalah!

KEDUA, terkait dengan konsep pembelajaran berpusat kepada mahasiswa.

Dalam mengajar, dosen akan berinteraksi dengan mahasiswa. Mahasiswa adalah aspiran dengan keinginan kuat untuk belajar. Cara pandang kita terhadap mahasiswa akan sangat mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan mahasiswa.

Tidak jarang, dosen sudah mempunyai penilaian yang kurang pas terhadap mahasiswa dan cenderung menyepelekan. Cara pandang yang kurang menaruh kepercayaan kepada mahasiswa ini dapat berbuntut panjang. Rasa kepercayaan kepada mahasiswa harus dimunculkan ketika berinteraksi. Tanpanya, jangan harapkan mahasiswa akan percaya kepada dosen.

Jika kita ingin orang lain percaya dengan kita, pertama kali kita harus menunjukkan bahwa kita percaya kepada mereka. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk percaya kepada kita, jika kita tidak percaya dengannya. Hanya dengan inilah, hubungan yang baik dapat diberikan fondasi yang kuat. Karenanya, pertama, kita harus mempercayai mahasiswa.

Kedua, mahasiswa harus dihormati. Tentu saja penghormatan di sini tidak berarti mlempem atau munduk-munduk.  Semangat yang dikembangkan adalah saling menghormati. Mahasiswa menghormati dosen, misalnya dengan mengerjakan tugas secara jujur, mengumpulkan tugas pada waktunya, masuk kelas tepat waktu, mengikuti perkuliahan dengan sepenuh hati, dan mengingatkan dosen dengan baik ketika dosen salah atau lupa, dan belajar sebelum mengikuti kelas. Dosen, sebaliknya, menghormati mahasiswa dengan mempersiapkan kuliah dengan baik, masuk kelas tepat waktu, mengoreksi tugas mahasiswa, memberikan umpan balik yang konstruktif kepada mahasiswa, mengingatkan mahasiswa yang salah dengan baik, dan memperlakukan semua mahasiswa dengan adil.

Ketiga, bimbinglah mahasiswa. Pengetahuan awal mahasiswa tidaklah sama. Latar belakang mereka sangat beragam. Ada mahasiswa yang dengan penjelasan singkat di kelas sudah cukup paham, ada mahasiswa yang dengan penjelasan khusus untuk memahami materi. Beberapa mahasiswa bahkan dengan pengetahuan awal yang jauh melebihi kawan-kawannya di kelas. Hal ini menjadi tantangan yang lebih, terutama di perguruan tinggi di mana disparitas kualitas input sangat besar. Imam Syafi’i memasukkan bimbingan guru (irsyadu ustadz) sebagai salah satu kunci sukses pembelajaran.

Salah satu fragmen profetik dalam Alquran merangkum ini semua dengan apik. Ini adalah salah satu fragmen favorit saya. Fragmen ini tentang bagaimana menjadi andragog tulen dan mengembangkan sifat demokratis dalam pembelajaran.

Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis dan Nabi Ibrahim mengganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada Surat Ash- Shaffat ayat 102:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Cara komunikasi Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail ini bisa dijadikan cermin bagaimana memosisikan mahasiswa sebagai pembelajar dewasa dan berkomunikasi dengan mereka dalam pembelajaran.

KETIGA, terkait dengan penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran. Saya sengajara tidak akan mengupas isu ini dengan mendalam.

Secara singkat, saya percaya setiap teknologi selalu hadir dengan dua sisi: manfaat dan mudarat. Dalam konteks pembelajaran, penggunaan teknologi adalah tentang bagaimana meningkatkan kebermanfaatan teknologi, terkhusus, teknologi informasi.

Yang harus kita selalu ingat, adalah bahwa teknologi informasi dapat mewujud ke dalam dua peran: alat bantu dan konten pembelajaran. Dalam konteks hibah kali ini, adalah yang pertama. Karenanya, alat bantu tidak boleh mengorbankan prinsip dasar pembelajaran. Inilah tantangan kita bersama dalam mendesain metode pembelajaran yang tepat dan memanen manfaat terbesar dari teknologi informasi.

Disarikan dari sambutan rektor pada workshop terkait dengan implementasi Program Hibah Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa memasuki Revolusi Industri 4.0 (PKP-PBMRI) yang diterima UII dari Direktorat Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, pada 16 Agustus 2018.