Informasi pandemi - berita UII

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) menggelar webinar yang mengangkat isu seputar pandemi yakni ivermectin dan donor plasma konvalesen. Era 5.0 membuat masyarakat mudah sekali mendapatkan informasi yang sangat perlu disaring. Webinar itu mengupas bahwa upaya penyembuhan Covid-19 tidak hanya dengan obat, namun juga dengan konsumsi makanan yang bergizi untuk menjaga kesehatan imun.

“Contohnya vitamin A yang bermanfaat untuk mengatur sistem kekebalan tubuh dari infeksi yang bisa kita dapatkan dari wortel, bayam, dan minyak ikan,” jelas dr. Riana Rahmawati M. Sc., Ph.D, salah seorang pembicara dalam webinar itu.

Ia menambahkan covid-19 varian delta yang masuk ke Indonesia memiliki gejala yang lebih variatif dan cenderung lebih berat. Hampir tidak ada OTG (orang tanpa gejala) bagi orang yang terpapar varian itu. Gejala ringan yang muncul mulai dari batuk kering, sakit kepala, kehilangan indera pengecapan, nyeri tulang, frekuensi napas 12-20 kali per menit dan saturasi kurang dari 95%.

“Obat yang dianjurkan oleh pemerintah adalah oseltamivir atau favipiravir, azitromisin, vitamin C, vitamin D, dan zinc,” jelasnya.

Pasien ringan dianjurkan untuk isolasi mandiri di rumah selama 10 hari sejak timbul gejala dan minimal 3 hari bebas gejala. Hal tersebut dikarenakan fasilitas rumah sakit diprioritaskan untuk pasien dengan gejala yang berat.

Menurutnya, secara umum tujuan dari pengobatan Covid-19 adalah untuk meningkatkan imunitas lewat konsumsi vitamin, probiotik, dan suplemen. Mengurangi gejala dengan pereda batuk dan penurun panas. “Khususnya mengatasi Covid-19 lewat antivirus dan antibakteri,” imbuhnya.

Ia meluruskan saat ini beredar informasi mengenai konsumsi vitamin C tiap tiga jam sekali. Faktanya konsumsi berlebihan dapat memberi dampak buruk pada tubuh. “Konsumsi vitamin C yang melebihi dosis dapat menyebabkan diare, mual, radang lambung, sakit kepala, gangguan tidur, dan batu ginjal,” pangkas dr. Riana.

Sedangkan konsumsi jamu, seperti kunyit asam, beras kencur, temu lawak, dan kudu laos lebih bersifat meningkatkan daya tahan tubuh tetapi belum ada bukti klinis bahwa jamu itu dapat mengobati Covid-19.

Sementara pembicara lainnya, dr. Rina Juwita Sp. PD menerangkan tiga fase infeksi covid-19. Fase akut berlangsung selama empat pekan dan fase kronik dengan gejala lebih ringan berlangsung selama 4-12 pekan. Terakhir post covid syndrome sampai 12 pekan. Sebanyak 2.5-15% pasien dapat terkena Long Covid Syndrome yang lebih berisiko pada orang lanjut usia, obesitas, perempuan, dan komorbid asma.

“99% pasien Long Covid Syndrome mengeluhkan mudah lelah. Selain itu masih muncul batuk kering, nyeri tulang, detak jantung tidak stabil, dan mual,” jelasnya.

Pasien covid-19 saat tes PCR hasilnya akan negatif meski masih bergejala. Karena penyakit ini bisa terjadi karena sisa peradangan, kerusakan organ, dampak perawatan, sampai dengan isolasi sosial. “Hal yang perlu dilakukan saat gejala tersebut muncul dengan memastikan posisi bernafas senyaman mungkin serta hindari terlalu sering tidur terlentang untuk menghindari paru tertekan, serta latihan tarik hembus nafas,” pesan dr. Rina. (UAH/ESP)