Program Studi Teknik Sipil Lingkungan

Lingkungan menjadi isu yang selalu menarik untuk dibahas. Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengadakan webinar di masa pandemi. Bekerjasama dengan CETS (Center for environmental Technology Study) UII dan Bukit Daur Ulang Project B Indonesia, kegiatan ini digelar pada Sabtu (11/7).

Dosen Teknik Lingkungan UII Dewi Wulandari, S.Hut., M.Agr., Ph.D, mengatakan ada lebih dari 500 orang dari berbagai kalangan yang mendaftar dalam kegiatan webinar yang digelar. Dari dosen, guru, aktivis, mahasiswa, dan sebagainya. Tujuan diadakannya seminar ini adalah mengajak setiap warga sekolah khususnya, untuk menuju aktivitas sekolah yang lebih ramah lingkungan.

Hijrah Purnama Putra, Dosen Program Studi teknik Lingkungan UII dan aktivis pengelola sampah di Project B Indonesia, berkesempatan menjadi narasumber. Hijrah Purnama mengatakan bahwa sekolah adalah proses. Maksud dari proses di sini adalah proses bagi anak yang ingin belajar, proses dukungan keluarga, fasilitas, lingkungan tempat tinggal, motivasi, finansial, dan lainnya.

Berdasarkan data Kemendikbud tahun 2018, jumlah sekolah di Indonesia mencapai 217.586, dengan total guru 2,7 juta jiwa dan murid 45,5 juta siswa. Menurut Hijrah Purnama, setiap orang per harinya menghasilkan 0,5 kg sampah. Jika dikalikan dengan total komunitas sekolah maka sekolah per hari menghasilkan 29,9 ton sampah.

“Bayangkan seperti Bandara Soekarno Hatta yang dijejer-jejer. Ini baru sampah dari sekolah, belum dari rumah, kantor, pasar, dan sebagainya. Artinya aktivitas yang kita lakukan dapat berdampak pada lingkungan,” ungkapnya.

Kebutuhan air setiap orang dalam sehari adalah sekitar 100 liter, maka jika dikalikan dalam komunitas sekolah sehari dapat menghabiskan 6 juta m3. Untuk itu diperlukan dukungan dari setiap warga sekolah, baik guru, siswa, maupun pegawai sekolah agar sumber daya yang ada dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Hijrah Purnama mengatakan terdapat beberapa manfaat ramah sekolah, antara lain: merubah perilaku warga sekolah untuk melakukan budaya pelestarian lingkungan, meningkatkan efisiensi dalan pelaksanaan kegiatan operasional sekolah, meningkatkan penghematan sumber daya melalui pengurangan sumber daya dan energi, meningkatkan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondususif bagi seluruh warga sekolah, menciptakan kondisi kebersamaan bagi seluruh warga sekolah. Bahkan dapat menghindari resiko dampak lingkungan di wilayah sekolah, serta menjadi tempat pembelajaran bagi generasi muda tentang pemeliharaan dan pegelolaan ligkungan hidup yang baik dan benar.

Hijrah Purnama mengungkapkan bahwa paradigma lama siklus air adalah bagaimana secepat-cepatnya air menuju sungai atau laut. Sedangkan paradigma baru yaitu bagaimana selama-lamanya air bertahan di pemukiman. Untuk mendapatkan hal tersebut, dibutuhkan inovasi, kreativitas kemauan dan nilai cinta lingkungan untuk mendesain pengurangan air sebanyak-banyaknya dibandingkan pengembalian ke alam. Sebanyak 70-80% penggunaan air bersih akan menjadi air limbah, dimana terdapat jenis air limbah yakni grey water dan black water.

Grey water biasanya hasil dari bekas cucian baju, piring, air bekas mandi, dan sebagainya. Sedangkan black water biasanya dari air sisa pembuangan sisa kotoran manusia. Grey water dapat didaur ulang untuk mencuci mobil, pembersihkan wastafel, maupun menyiram tanaman. Solusi untuk black water adalah dengan membuat septic tank yang harus dikuras secara periodik agar tidak menumpuk. Jika menumpuk maka lumpur akan semakin tinggi dan lama kelamaan air akan keluar sendiri. “Air terlihat melimpah, namun sebenarnya tidak seperti itu. Jangan sampai air selangka belian baru kita berhemat,” imbuh Hijrah Purnama.

Hijrah Purnama juga mengatakan bahwa 97% air di Indonesia adalah dari air laut yang sampai saat ini pemanfaatannya untuk dikonsumsi masih rendah karena butuh biaya besar untuk mengolahnya. Guna menciptakan sekolah ramah lingkungan, terdapat beberapa langkah dalam aspek air sendiri antara lain dengan tindakan preventif atau membujuk dan tindakan mentreatment atau terdapat masalah lalu dilakukan solusi.

Tindakan preventif dalam dilakukan dengan sosialisasi hemat air, stiker hemat air, kran otomatis, shower, closet double flush, perbaikan atau perawatan, pelampung air otomatis, pemilihan waktu penyiraman tanaman, dan meteran untuk menggunakan air tanah. Sedangkan solusi treatment antara lain dengan biopori, sumur resapan, tangki air hujan, aro-drainage, pemisahan antara grey dan black water, oli trap dan bak kontrol, plumbing dengan sistem recycle water. “Sekolah menjadi tempat paling efektif melatih hemat air. Mandi dengan air shower menghemat 30-40% ait dibandingkan air gayung,” jelas Hijrah Purnama.

Mewujudkan sekolah ramah lingkungan dapat dilakukan juga dengan menghemat energi listrik. Langkah yang dilakukan pertama kali adalah dengan melakukan audit energi, mulai dari barang elektronik yang digunakan apa saja, digunakan berapa lama, biaya per bulan berapa, dayanya berapa, dan sebagainya. Perlu diperhatikan pula jenis bolam lampu yang digunakan, sebab terkadang sama terangnya namun beda watt nya. Semakin tinggi watt maka semakin banyak menghabiskan daya energi. Selain bolam lampu, ketika membeli AC juga disesuaikan dengan kondisi luas ruangan.

Dikatakan Hijrah Purnama, menaikan suhu AC 1 derajat dapat menghemat listrik 3-5%. Hal terakhir terkait sampah, menurut Hijrah Purnama sekolah harus memilah setiap jenis sampah, yang setelah dipilah jangan sampai dicampur lagi oleh petugas kebersihan. Selain itu, sekolah harus mengurangi penggunaan barang atau produk yang nantinya susah untuk didaur ulang. “Sampah dari sekolah diangkat sampai ke tempat pengolahan akhir sampah. Jadi bersih di tempat kita namun menimbulkan masalah di tempat lain,” tutupnya. (SF/RS)