Data is the new oil, begitulah frasa yang diungkapkan seseorang matematikawan asal Inggris Clive Humby di tahun 2006 lalu. Tidak berlebihan memang, melihat peran data di era industri 4.0 ini yang begitu besar. Lebih lanjut, ia menyebut data berharga seperti minyak, tetapi tidak dapat digunakan jika tidak dimurnikan. Minyak harus diubah menjadi gas, plastik, dan bahan kimia agar menjadi berharga. Jadi, menurutnya data harus dipecah dan dianalisis agar memiliki nilai.

Frasa tersebut disinggung Dr.Ing. Ridho Rahmadi, S.Kom., M.Sc., ahli di bidang sains data, dalam webinar (web seminar/seminar daring) bertajuk Data Science dalam Konteks Revolusi Industri 4.0 pada Sabtu (11/7). Acara yang diprakarsai oleh Program Studi Magister Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) ini menjadi satu rangkaian dengan tiga webinar lainnya, dengan tema besar Mengajak Millenials Beramal Maksimal di Era New Normal.

Pada kesempatan tersebut, dosen Teknik Informatika UII ini banyak menjelaskan peranan sains data dalam berbagai ranah kehidupan manusia. Pemanfaatannya pun kini semakin luas dan masif. Sebelumnya ia sempat menjelaskan makna dari sains data.

“Sains data ini barang baru tapi lama. Sains data, dalam bahasa informal seperti ini, kita mencari value dari data. Value itu nilai, sesuatu yang berarti, yang mengarah kepada hal yang dapat kita orkestrasi (atur) selanjutnya. Jadi bukan hanya deskripsi secara rata-rata dan sebagainya, tapi kita ingin mengorkestrasi sekumpulan data menjadi sesuatu yang lebih bebunyi, sesuatu yang bisa membantu kita dalam memutuskan sesuatu,” jelas Ridho Rahmadi.

Bukan tanpa alasan Ridho Rahmadi menyebut sains data sebagai barang baru tapi lama. Ia menjelaskan, metode-metode pada sains data sebenarnya sudah sejak lama ada. Hanya saja, pemanfaatannya yang semakin luas dan masif menjadikannya ‘naik daun’ sehingga seperti barang baru.

“Dulu, itu menjadi konsep-konsep yang kadang tidak relevan untuk dunia praktis. Karena komputasi zaman dulu mahal, terbatas. RAM (Random Acces Memory, tipe penyimpanan) zaman saya kuliah itu 1 giga (byte) satu-satunya teman saya yang punya. Sampai sekarang namanya diingat karena punya RAM 1 giga, satu-satunya dalam satu angkatan, 200 sekian orang,” ucapnya bercerita.

Lebih lanjut Ridho Rahmadi memberikan contoh penerapan sains data pada dunia medis. “Contohnya di dunia medis, tertarik dari data-data pasien yang saya kumpulkan, umpamanya pasien diabetes sebanyak 100 orang selama 1 tahun. Saya sudah labeli ada pasien yang positif diabetes, ada yang negatif. Saya ingin melihat, bisa ngga ya saya modelkan pola, pola pasien ini berdasarkan rekam medisnya,” ucap Ridho Rahmadi.

Rekam medis ini, lanjutnya, dapat dimanfaatkan di kemudian hari untuk memprediksi positif negatifnya pasien mengidap penyakit. “Itu di dunia medis, dan itu (penerapan sains data) relevan untuk lintas domain (ranah) yang lain,” imbuhnya.

Sains data sendiri telah menjadi salah satu konsentrasi studi yang dimiliki Program Studi Magister Informatika UII. Tiga webinar lainnya turut membahas masalah yang terkait dengan konsentrasi program studi tersebut, yakni informatika medis, forensik digital, serta sistem informasi enterprise. (HR/RS)