Pandemi Covid-19 hingga saat ini belum menunjukan titik terang akan berakhir. Sebagai sorang muslim, harus yakin bahwa apapun yang terjadi sudah menjadi kehendak Allah Swt. Salah satu bentuk keyakinan terhadap-Nya adalah dengan berhusnudzon. Seperti dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Ustadzah Ida Nur Laila saat memberikan kajian yang diadakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab melalui Google Meet pada Jumat (26/6).

Ustadzah Ida Nur Laila yang merupakan seorang penulis, konselor parenting, owner Wonderful Agency, menceritakan kisah seorang budak pada masa dinasti akhir yang selalu berhusnudzon kepada Allah Swt. Ia yakin bahwa Allah Swt. akan segera memberi kemerdekaan kepada dirinya. Ia sering mengucap “Saya tidak tahu apakah ini rahmat atau cobaan, namun saya selalu berprasangka baik kepada Allah Swt. bahwa ini baik bagiku,” ucap budak tersebut.

Tidak lama kemudian, tuannya memberi kebebasan kepada dirinya. Budak tersebut selalu mengucapkan kalimat yang sama setiap kali mengalami cobaan atau mendapatkan rejeki, sebab dia yakin atas kebesaran Allah Swt., bahwa baik menurutnya belum tentu baik menurut Allah Swt., begitupun sebaliknya. Apapun yang terjadi baik situasi menyenangkan atau buruk, laki-laki tersebut selalu berhusnudzon pada Allah Swt. dengan lapang dada dan ikhlas,” ungkap Ustadzah Ida Nur Laila.

Berbeda dengan kisah budak tersebut, di masa cobaan pandemi di dunia ini banyak orang yang mengeluh bahkan tidak yakin bahwa virus kecil yang mengakibatkan ribuan orang meninggal merupakan ciptaan dan kehendak Allah Swt.. Melalui kejadian wabah sekarang, sebagai seorang muslim seharusnya dapat mengambil banyak pelajaran, seperti dengan mengupgrade diri menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya.

Ustadzah Ida Nur Laila mengungkapkan bahwa jika yakin yang terjadi sekarang atas kehendak Allah Swt., maka kita dapat mencontoh perilaku budak tadi dengan mengucapkan, “saya tidak tahu apakah pandemi ini rahmat atau cobaan, namun saya selalu berprasangka baik kepada Allah Swt. bahwa ini baik bagiku.”

Di masa pandemi Covid-19 meskipun sudah diterapkan new nomal, namun masih tetap dihimbau masyarakat di rumah saja. Untuk itu, waktu sekarang dapat dijadikan momentum dalam meningkatkan nilai kualitas diri sendiri. Ustadzah Ida Nur Laila menjelaskan terdapat banyak cara untuk mengupgrade diri menjadi lebih baik yang di dalamnya diperlukan adanya tadhiyah atau pengorbanan.

Upgrade diri dapat juga disebut dengan istilah personal kurikulum atau mendakwahi diri sendiri dengan mengatur atau memanagement diri agar selalu meningkatkan keimanan kepada Yang Maha Kuasa, sebab Allah Swt. memerintahkan setiap hamba-Nya untuk menjaga diri sendiri terlebih dahulu sebelum menjaga orang lain. Hal ini sesuai dengan Q.S. At-Tahrim ayat 6 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ….”

Tadhiyah perlu dilakukan selama-lamanya oleh setiap orang, sebab keimanan manusia terkadang naik dan turun. Ustadzah Ida Nur Laila menekankan bahwa setiap anak kecil yang harus berkorban bagi dirinya adalah orangtuanya untuk mengantarkannya sampai balig. Namun, jika seseorang sudah balig dan ia meninggal maka kelak tidak ada orang lain yang dapat menolongnya kecuali amalnya dan syafaat Rasulullah Saw. Sebagai bekal akhirat, momen sekarang tepat dilakukan dengan menjalankan banyak amal shaleh. Urgensi lainnya seseorang melakukan upgrade diri adalah sebagai bentuk motivasi internal, menjadi orang yang sabar dan tegar, serta selalu istiqomah.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan di masa pandemi demi meningkatkan iman menurut Ustadzah Ida Nur Laila. Pertama, melakukan muhasabah diri. Merenung atau introspeksi diri perlu dilakukan rutin setiap harinya. Merenung dapat dilakukan setelah menjalankan salat atau hendak mau tidur. Kedua, bertaubat dengan sebenar-benarnya. Setelah mengoreksi diri maka jika masih dilakukan perbuatan yang tidak baik maka sebaiknya orang tersebut bertaubat sebelum ajal menjemputnya.

Ketiga, menjalankan ibadah wajib dan sunah seperti puasa dan salat. “Lakukan saja semua amalan Allah Swt. dan yang sudah dicontohkan Rasulullah Saw., tidak usah pilih-pilih maka InyaAllah pahala akan mengalir terus,” imbuhUstadz Ida Nur Laila. Keempat, berbakti kepada orangtua. Bentuk berbaktinya anak kepada orangtua minimal dengan mendoakannya setiap saat. Selain itu bentuk yang dapat dilakukan dengan membantu pekerjaan rumah, memijat orangtua, atau membantu menjalankan bisnis orangtua. Sebab di antara kesuksesan anak adalah karena keridhoan orangtua.

Kelima, melakukan ibadah dengan iklas dan hanya mengharapkan ridho Allah Swt., jika masih terdapat niat karena dunia maka merugilah kita. Kelima, mencari ilmu sebanyak-banyaknya seperti dengan membaca buku, menonton di youtube, atau lainnya. Terakhir adalah berdoa dan meminta hanya kepada Allah Swt. “Orang dapat mengajarkan sesuatu kepada orang lain namun jika dia tidak ingin mengerjakannya maka akan susah diterima. Jadi lebih baik mendakwah diri sendiri dahulu sebelum mendakwah kepada oranglain,” tutup Ustadzah Ida Nur Laila. (SF/RS)