• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Pentingnya IPE dan IPC pada Pelayanan Psikologi Klinis
Berita Kegiatan

Pentingnya IPE dan IPC pada Pelayanan Psikologi Klinis

Menyikapi banyaknya generasi Z yang mengalami gangguan kesehatan mental, Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan diskusi panel dengan tema Interprofessional Education (IPE) dan Interprofessional Collaboration (IPC) pada Pelayanan Kesehatan Mental yang diselenggarakan pada Rabu (22/01) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Acara yang dihadiri sebanyak 180 mahasiswa Program Studi Kedokteran Blok 2.4 dan Profesi Psikologi Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya (FPSB) dimoderatori oleh Dr. dr. Yaltafit Abror Jeem, M.Sc sebagai dosen Fakultas Kedokteran (FK) UII yang dibersamai oleh tiga pemateri yaitu dr. Baiq Rohaslia Rhadiana, M.Sc., Sp.KJ, Dr. RA. Retno Kumolohadi, S.Psi., M.Si., Psikolog dan dr. Retno Pramudyaningtyas R, M.Med.Sc., Sp.KJ.

Sebelum diskusi panel dimulai, peserta diberi pernyataan kasus sebagai trigger atau pemicu diskusi yang diilustrasikan tentang kisah dokter baru yang kebingungan saat didatangi oleh seorang perempuan berusia 20 tahun yang melakukan percobaan bunuh diri saat ia bertugas malam hari di sebuah instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit.

“Melihat dari kasus seperti ini, kita tidak bisa menanganinya sendiri. Selain dokter harus punya integritas, tapi juga kita harus kolaborasi. Itu salah satu kunci juga dalam menghadapi kasus seperti ini,” Ujar Dr. Jeem menimpali jawaban dari salah satu peserta.

Dr. Jeem juga menjelaskan bahwa dokter umum yang pertama kali menerima kasus ini mempunyai batasan-batasan tertentu. Peran dokter umum hanya untuk penanganan awal dan kemudian dirujuk oleh dokter yang lebih ahli. Menurutnya, kasus seperti ini juga dapat melibatkan sektor lain seperti keamanan dan polisi jika diperlukan.

Menanggapi trigger kasus diatas, dr. Lia begitu sapaan akrab dari dr. Baiq Rohaslia melansir Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 bahwa 1 dari 10 dari orang di sekitar lingkungan kita mengidap gangguan mental bahkan orang-orang zaman sekarang dengan sukarela mendatangi psikiater khususnya gen Z sebagai pasien yang paling banyak ditemui.

“Kenapa mempelajari kolaborasi itu penting? Yang perlu temen-temen pahami disini ialah kita sebagai dokter bisa melayani pasien dengan baik dan optimal,” Jelas dr. Lia.  Senada, dalam konteks ini, Dr. Jeem menyimpulkan seorang dokter hanya menjadi penghubung kepada profesi lain yang lebih spesifik agar pelayanan menjadi lebih bermutu dan optimal.

Dilanjutkan oleh Dr. RA. Retno Kumolohadi, S.Psi., M.Si., Psikolog membahas tentang UU dan pedoman dasar untuk psikologi klinis disebut dengan PNPPK (Pedoman Nasional Pelayanan Psikologi Klinis) yang menjelaskan penanganan yang diberikan kepada pasien dengan gejala tertentu. Mengingat tingginya masalah kesehatan mental, Ia juga menyinggung profesi psikolog klinis menjadi tenaga kesehatan yang krusial sehingga harus ada di pusat kesehatan masyarakat.

 “Nah, jadi pasien dan keluarga sebagai center pelayanan dibantu dengan profesi-profesi lain yang mewujudkan bentuk kolaborasi seperti apoteker, nutrisionis, teknisi medis, terapi fisik, psikologi klinis dan ada perawat dan bidan. Semuanya saling memberikan kontribusi dan memberikan sinergi,” ungkap Dr. Retno.

Pemateri terakhir, dr. Retno Pramudyaningtyas R, M.Med.Sc., Sp.KJ. membahas implementasi Interprofessional Collaboration (IPC) di RSJ Grhasia. Ia memaparkan IPC dalam pelaksanaannya dapat melatih kerja sama tim dari profesi lain untuk menangani pasien dan di sisi lain dapat menurunkan komplikasi yang tentunya dibantu oleh tenaga kesehatan profesional seperti perawat, psikolog, apoteker, dan lain sebagainya.

Dengan pemaparan materi tentang IPC atau kolaborasi diharapkan mahasiswa dapat belajar dengan berbagai profesi agar bisa memahami peran dan keterbatasannya. Sehingga mampu menghasilkan pelayanan yang baik dan optimal khususnya bagi pasien dengan gangguan kesehatan mental. (NKA/AHR/RS)

23 Januari 2025
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2025/02/IPE-dan-IPC.jpg 738 1168 Humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas2025-01-23 08:30:382025-02-03 16:42:00Pentingnya IPE dan IPC pada Pelayanan Psikologi Klinis

Berita Terakhir

  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • FIAI UII Gelar Diskusi Kajian Turats Bahas Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Ilmu Sosial
  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Peringati Milad Ke-82, UII Angkat Tema Mengerti Bumi Link to: Peringati Milad Ke-82, UII Angkat Tema Mengerti Bumi Peringati Milad Ke-82, UII Angkat Tema Mengerti Bumi Link to: Transisi dalam Kehidupan Link to: Transisi dalam Kehidupan Transisi dalam Kehidupan Scroll to top Scroll to top Scroll to top