Pandemi Covid-19 memunculkan banyak kekhawatiran untuk semua orang, tak terkecuali mahasiswa. Banyak orang yang awalnya khawatir terhadap aspek kesehatan, lalu saat ini jauh lebih banyak yang khawatir terhadap aspek lanjutan dari masalah kesehatan atau pandemi.

“Bagi mahasiswa biasanya yang dikhawatirkan adalah masalah pendidikan, dimana terdapat transisi dari daring ke luring serta dirasa mengalami akses yang lebih terbatas daripada sebelumnya,” jelas Analisa Widyaningrum, S. Psi., M.Psi. seorang psikolog sekaligus influencer.

Analisa menyampaikan bahwa mahasiswa juga mengalami kekhawatiran terhadap pekerjaan, khususnya mahasiswa semester akhir. Pandemi membuat banyak lapangan kerja tutup atau bahkan bangkrut. Serta aturan pemerintah yang menerapkan Work From Home tentunya memberi dampak yang cukup signifikan.

Menurut Analisa rasa khawatir yang berlebihan bisa berdampak ke dalam kejiwaan seseorang atau biasa disebut dengan stress. Tak bisa dipungkiri hal ini dipengaruhi oleh kecanggihan teknologi 5.0. informasi melimpah bisa diakses oleh siapapun serta kapanpun. Sulit untuk menyaring antara fakta dan hoax.

Kelebihan informasi adalah situasi ketika individu disajikan sejumlah besar informasi di media sosial yang melebihi kapasitas yang dapat mereka proses – Eppier & Mengis, 2004

Analisa menambahkan jika sebagian besar orang setelah mengakses informasi atau berita yang sifatnya overload akan memberi dampak yang cukup serius terhadap psikologis. Perasaan khawatir, was-was, serta merasa terancam akan kesehatan dan keadaannya.

“Bahkan untuk saat ini kita tidak perlu mencari, seperti contohnya di media sosial whatsapp atau instagram hampir setiap saat akan banyak informasi mengenai kematian akibat Covid-19, kekurangan tabung oksigen, ataupun kebutuhan donor plasma konvalesen,” cerita Analisa.

Lanjutnya, setiap hari seseorang akan berpikir sebanyak 50.000-70.000 kali yang dipengaruhi oleh informasi yang mereka peroleh. Contohnya adalah saat mendengar informasi menyenangkan, orang tersebut pun akan lebih bahagia. Sama halnya saat memikirkan hal yang menyedihkan atau membuat khawatir akan membuat stres.

“Terdapat hubungan antara jiwa dan fisik melalui suatu organ bernama amygdala dalam otak kita,” jelasnya.

Saat menerima informasi, amygdala yang fungsinya seperti alarm pemicu membuat tubuh dan pikiran tetap waspada selama merasa cemas. Analisa memberi contoh seperti saat pandemi ini orang mendengar kabar duka, maka sinyal tersebut akan diterima oleh amygdala dan membuat manusia mengalami normal anxiety berupa kecemasan.

“Kecemasan tersebut seharusnya tidak sampai mengganggu aktivitas normal seseorang, jika sampai mengganggu dengan kecemasan atau ketakutan berlebihan maka orang tersebut didiagnosis memiliki gejala gangguan kecemasan,” teranya.

Tak sedikit selama pandemi orang juga mengalami gejala post-traumatic disorder yang merupakan efek kecemasan yang masih dirasakan setelah jangka waktu lama suatu trauma. Analisa menceritakan banyak sekali tenaga kesehatan yang mengalami gejala trauma sekunder, dimana seseorang karena sudah akrab dengan kesedihan orang lain menjadi seolah merasa itu juga merupakan kesedihan miliknya.

Salah satu cara untuk mengatasi stres tersebut adalah dengan menumbuhkan jiwa kita. Menganggap pandemi sebagai suatu proses yang akan membuat kita berkembang dan jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Menurut Analisa, seseorang yang memiliki kualitas ibadah yang baik memiliki tingkat manajemen stress yang jauh lebih baik.

“Ada ayat Alquran yang selalu saya baca disaat sulit, yaitu Al-Baqoroh ayat terakhir. Saya yakin Allah tidak akan menguji hambaNya diluar batas kemampuan,” tutup Analisa. (UAH/RS)