Pentingnya Menjelajahi Banyak Kesempatan Karier di Masa Kuliah

Menjelajah dan mencoba membangun banyak kesempatan karier ternyata merupakan hal yang sangat esensial bagi mahasiswa. Prinsip tersebut tampaknya perlu di tanamkan kuat-kuat dalam tekad para pejuang pencari kerja agar nantinya mereka tidak terpaku pada satu pilihan karier saja. Pembahasan mengenai pentingnya menjelajah berbagai sektor kerja itu dibahas secara spesial dalam edisi Career Mentoring oleh Direktorat Pengembangan Karier dan Alumni (DPKA) Universitas Islam Indonesia pada Sabtu, (31/7) secara daring.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Pengembangan Karier UII, Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag dalam sambutannya berharap mahasiswa mampu mendapat inspirasi dan semangat dalam mengembangkan diri guna mempersiapkan karier di masa yang akan datang. “Kegiatan ini melibatkan alumni yang sudah bekerja secara profesional maupun wirausaha dengan maksud memberi motivasi juga wadah mahasiswa mendapatkan wawasan ketika meniti karier profesi tertentu maupun peluang usaha,” tandasnya.

Senada, Adib Zaidani Abdurrochman, S.E selaku pembicara kunci pada acara ini menyampaikan hal serupa. Adib yang merupakan alumnus dari jurusan Manajemen (IP) Universitas Islam Indonesia itu saat ini merupakan seorang Diplomat Indonesia sebagai negosiator perundingan multilateral. Pembahasan pada pagi itu ia berfokus pada persiapan mahasiswa baik secara mental, persepsi, hingga karakter yang perlu dibangun ketika masuk ke dunia profesi.

Lebih lanjut, dalam materi brainstorming bagi peserta Career Mentoring, Adib menyampaikan pertanyaan apakah kuliah merupakan sarana yang tepat untuk mempersiapkan diri masuk dunia kerja. “Bagi saya, tempat kuliah adalah tempat untuk salah dan berbeda, karena bangku akademik bisa menjadi sarana dalam mengekspresikan pendapat yang bisa membentuk skill atau karakter yang sangat berguna ketika masuk dunia profesi,” terang Adib.

Selain itu, dia juga menyebut kampus merupakan prototipe dalam mengetahui proses dunia profesi yang bisa didapat dengan membuat portofolio. Lalu ada tugas dan kerja kelompok yang juga manifestasi key skill di dunia kerja. “Banyak yang menyebut bahwa 70% masa depan karier itu ditentukan di meja meeting, karena saat kita melakukan rapat koordinasi, saat itulah kita bisa menunjukkan skill negosiasi kita pada atasan. Hal-hal semacam ini kita bisa latih dalam kerja sama tugas kelompok saat kuliah,” sebutnya.

Akan tetapi meskipun berguna sebagai sarana dalam mempersiapkan kesempatan berkarier, Adib tidak memungkiri bahwa terdapat disparitas yang lebar antara praktik dunia kerja vs dunia kuliah. Untuk mengatasi hal itu, Adib menawarkan agar mahasiswa bisa mengisi kekosongan tersebut dengan mempelajari hard technical skill dan on demand skill yang bisa dipelajari di Internet. Hal ini penting karena dapat menjadi sarana mahasiswa dalam memperluas kemampuan kita meskipun tidak berhubungan dengan pekerjaan inti. Spesifikasi tersebut menurut Adib meliputi research skill, speech writing, event organizing, videography, design, data analytics dan banyak hal lain.

Dengan kemampuan yang sedemikian rupa, harapannya mahasiswa dapat menjelajah berbagai macam potensi kerja dan tidak terpaku pada spesifikasi kerja sesuai minat kuliahnya. Adapun dalam mencari lowongan pekerjaan, Adib mengingatkan agar mahasiswa rajin membaca spesifikasi lowongan kerja, membuat grup belajar untuk mencari kerja, meningkatkan kemampuan dalam tes administrasi hingga terakhir adalah pentingnya doa orang tua. “Teman-teman harus memulai kembali bahwa ‘jimat’ kita adalah doa orang tua. Selain berbagai upaya maksimal dalam diri kita, doa dan restu orang tua terkadang bisa menjadi penentu kesuksesan kita,” pungkasnya. (IAA/RS)