Publikasi naskah dari suatu penelitian bagi kebanyakan civitas akademika menjadi hal yang lumrah dilakukan. Pasalnya publikasi naskah ini menjadi syarat untuk memperoleh gelar terutama pada strata pendidikan magister dan doktoral. Kemampuan dalam menyesuaikan jurnal yang sesuai dengan naskah yang telah dikerjakan agar dapat terpublikasi di jurnal tersebut. Merespon hal tersebut, Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar pelatihan program “Publishing in Academic Outlet” pada 24-28 Juni 2019.

Program ini merupakan hibah dari Erasmus+ yaitu program peningkatan mutu sumber daya manusia perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara. UII menjadi penyelenggara program Erasmus+ REPESEA di Indonesia bersama dengan Universitas Gadjah Mada.

Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku Rektor UII menyampaikan dalam sambutannya bahwa dalam mengikuti pelatihan ini tidak serta merta para peserta bisa langsung mempublikasikan karya ilmiahnya jika tidak ada tindakan yang diambil oleh peserta itu sendiri.

“Dalam mengikuti pelatihan selama beberapa hari ke depan, tidak mungkin para peserta di sini bisa langsung menulis karya ilmiah jika tidak pernah memulai menulis, dan juga tidak mungkin terpublikasi jika tidak memiliki tulisan karya ilmiah,” ujar Fathul Wahid.

Selain itu, Fathul Wahid juga mengatakan pelatihan ini akan di dampingi oleh Ibu Is Fatimah, dosen Program Studi Kimia UII yang baru saja mendapatkan gelar Profesor.

“In syaa Allah untuk pelatihan ini sepenuhnya akan diisi oleh ibu Is Fatimah yang beberapa minggu lalu juga mengisi pelatihan di Bangkok, Thailand dengan materi yang sama. Untuk publikasi jurnalnya tidak perlu diragukan lagi, karena karya ilmiah beliau yang terindeks Scopus sudah banyak”, pungkas Fathul Wahid.

Prof Is Fatimah menyampaikan materinya di depan mahasiswa magister dan doktoral mengenai bagaimana agar naskah dapat termuat di jurnal, baik internasional maupun nasional. Berkaca dari pengalamannya, hampir semua publikasi naskah yang ada saat ini pernah mengalami penolakan hingga akhirnya dapat di publikasikan.

“Saya pernah mengalami penolakan naskah dari jurnal hampir 18 kali, jadi bagi bapak ibu disini jangan khawatir bila pernah ditolak naskahnya, itu menjadi sesuatu yang seharusnya dikoreksi,” tuturnya.

Oleh karena itu perlunya memahami dari naskah itu sendiri, agar sesuai dengan jurnal yang sama dengan naskah. Prof Is Fatimah mengatakan dalam proses pemilihan jurnal untuk publikasi naskah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya tujuan dan lingkup jurnal, ranking dan dampak jurnal, proses dari publikasi jurnal hingga kemungkinan dari penolakan naskah.

“Tak hanya paham dengan naskah, kita juga harus memahami dari jurnal yang akan mempublikasikan naskah. Apakah sudah sesuai dengan topik naskah kita, bagaimana naskah penelitian yang kita lakukan jangan sampai hanya sebatas garis besar dan kualitas dari naskah kita,” ujarnya.

Prof Is Fatimah menambahkan saat ini terdapat berbagai macam jurnal publikasi yang dapat dipilih peneliti sebagai media untuk publikasi naskah. Ia berpesan agar tidak mudah putus asa ketika memperoleh pemberitahuan penolakan dari jurnal. Pasalnya, dengan ditolaknya naskah bisa menjadi koreksi yang dapat meningkatkan kualitas naskah tersebut.

“Yang terpentig dalam publikasi naskah itu harus sabar dan mau membaca. Bisa saja naskah ditolak karena tidak sesuai dengan tujuan dan lingkup jurnal, sehingga penting untuk membaca letak kesalahan yang ada pada naskah tersebut,” pungkasnya. (ENI/RS)