Bisnis mahasiswa - UII - pebisnis

Berbagai macam upaya dicurahkan para pengusaha guna mempertahankan roda bisnis yang dijalankan di tengah situasi sulit akibat mewabahnya Covid-19. Mulai dari efisiensi perusahaan hingga berhutang pun terpaksa dilakukan pemilik usaha demi menghindari dampak buruk yang menanti. Namun, terkadang terlupakan akan satu aspek yang ketidakhadirannya menjadikan ikhtiar yang dilakukan menjadi tidak sempurna, atau bahkan sia-sia. Aspek tersebut adalah tawakal.

Saptuari Sugiharto, pengusaha berbagai lini bisnis dan pegiat anti hutang ribawi yang juga penulis beberapa buku, menjadi tamu dalam Growth Talk NgoBraS (Ngobrol Bareng Startup) yang untuk kali ketiga diselenggarakan oleh Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama Universitas Islam Indonesia (IBISMA UII). NgoBraS yang digelar pada Kamis (11/6) ini, mengangkat judul Ikhtiar & Tawakal di Tengah Krisis.

Mengawali obrolan, Mas Saptu, sapaan akrab Saptuari Sugiharto, berbagi kisah sekilas perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku dan kental akan nilai berserah diri kepada Yang Maha Kuasa atau disebut dengan tawakal. Mulai dari perjuangannya saat kuliah sembari mencari uang untuk membiayai, sampai dengan jatuh bangunnya di dunia bisnis. Semua itu dilakukannya dengan penuh tawakal.

“Waktu itu saya cuma bilang ke Ibu, Bu saya ingin kuliah. Ibu saya ngomong, biayanya piye le?. Wis tenang Bu, ada Allah Maha Besar, pasti bisa. Tapi saya juga mikir, Ya Allah piye iki golek (cari) duit,” ceritanya diiringi tawa.

Host Growth Talk NgoBraS dari IBISMA UII, Arif Fajar Wibisono mengambil benang merah dari kisah Mas Saptu. “Sekilas cerita dari Mas Saptu ini sangat-sangat inspiratif. Salah satu hal yang inspiratif menurut saya yaitu banyak hal yang sebenarnya Mas Saptu itu tawakalnya tidak terucap ya, cuman Mas Saptu itu benar-benar bertawakal. Sejauh yang saya tahu kan tawakal itu pasrah (setelah berikhtiar). Kepasrahan Mas Saptu itu ditunjukkan dengan, Wis sing penting ono gusti Allah, kan gitu,” ucapnya.

Sepanjang acara, Mas Saptu juga berbagi tips agar usaha yang dijalani dapat tetap bertahan. “Bagaimana ini, supaya kita bisa bertahan di tengah kondisi seperti ini? Saya menyebutnya ada dua macam cara, yakni pivot dan pispot,” sebutnya.

Pivot merupakan salah satu teknik dalam permainan bola basket untuk berputar arah menggunakan tumpuan satu kaki dengan badan yang tetap, tidak berpindah. Hal inilah yang dapat dilakukan oleh pengusaha, yakni mengubah haluan atau cara dalam berbisnis dan memasarkan produknya, namun tetap bertumpu pada bisnis yang dimiliki.

Ia memberikan contoh, saah satu rekannya pemilik bisnis barbershop sempat merumahkan 250 karyawan. Namun, kemudian diubahlah cara berbisnisnya dengan menjadi barbershop ‘panggilan’, bisa melayani cukur rambut di rumah. Bahkan disewakan pula alat cukur barbershop Rp. 50.000 per hari bagi yang ingin melakukannya sendiri di rumah.

“Saya sendiri pun melakukan. Saat pertama kali pemerintah menyatakan darurat Corona (Covid-19), di rumah saja, cuci tangan, pakai masker, itu omset saya langsung turun hari itu juga. Ngga tanggung-tanggung, 50 persen, yang Tengkleng HOHAH! (bisnis kuliner). Seminggu kemudian tinggal 30 persen. Akhirnya saya berpikir untuk membuatnya frozen,” ungkapnya.

“Itu pivot, yang kedua adalah pispot. Itu adalah istilah yang saya pakai. Fungsinya itu buat menampung air seni orang sakit. Tapi pispot itu bisa berfungsi kalau ada anjing yang ngejar, anjing galak, kamu lempar pun bisa,” kelakarnya.

Ia kemudian menjelaskan, saat situasi keuangan yang sulit menghampiri, maka hal apapun yang dapat menghasilkan uang, selama itu halal, maka lakukanlah. Ada dua hal yang seringkali Mas Saptu lakukan sebagai bentuk ikhtiar terakhir, setelah berbagai upaya dilakukan.

Kedua hal tersebut ialah memohon doa kepada Ibu dan menyantuni anak yatim. Dua hal baik ini dapat menjadi contoh bagi kita dalam menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, sebelum bertawakal secara penuh kepada Allah Swt. (HR/RS)