Keberadaan dan peran kaum Rois atau Modin di tengah masyarakat memerlukan aktualisasi. Tugas pokok dan fungsi modin yang terkenal dalam bagian keagamaan semakin bergeser karena perubahan zaman. Dalam menjalankan tugasnya sebagai perangkat desa dalam bidang keagamaan tentu saja modin juga melakukan kegiatan dakwah Islamiyah. Untuk itu, diperlukan berbagai langkah untuk kembali menguatkan peran modin di masyarakat.

Maka dari itu Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam (DPPAI) UII bersama dengan Kementerian Agama Kabupaten Sleman menyelenggarakan Forum Silaturahmi Modin se-Sleman pada Sabtu (25/5) di Ruang Audiovisual Gedung Perpustakaan UII. Kegiatan itu bertemakan Peran “Kaum Rois (modin) dalam Menegakkan Nilai-nilai Keislaman dan Kearifan Lokal di Indonesia”.

Forum yang dihadiri oleh 170 Kaum Rois, 17 Kepala KUA dan 17 Penyuluh Agama Islam ini juga dihadiri oleh Dr. Drs. Rohidin, M.Ag., sebagai Wakil Rektor III, kemudian ada K.H. Syakir Ali sebagai Ketua Umum MUI Kabupaten Sleman, dan Sa’ban Nuroni sebagai Ketua Kemenag Sleman yang juga betugas sebagai pemateri.

Dalam materinya Sa’ban Nuroni mengatakan bahwa Tauhid melahirkan kesetaraan. “Tauhid tidak sekedar doktrin kegamaan yang statis karena ia adalah energi aktif yang membuat manusia mampu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dan manusia sebagai manusia.” Ucapnya.

Dalam kesempatan ini terdapat beberapa sesi tanya jawab bersama peserta di mana salah satu peserta mengungkapkan bahwa peran mereka sekarang ini hanya sebatas pembaca doa, maupun bagian untuk mengurus jika ada yang meninggal saja.

Menanggapi hal itu, pemateri memuji bahwa pekerjaan mengurus jenazah adalah hal yang mulia. Karena ketika mereka lahir dan ketika mereka meninggal, kaum rois ataupun modin memiliki peran yang penting.

Dalam forum ini pemateri juga memaparkan pentingnya keberadaan kaum rois atau modin di era sekarang ini. Mereka juga dibekali buku kumpulan khutbah jumat, mimbar jumat, dan juga buku saku panduan perawatan jenazah. (DRD/ESP)