Jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan diskusi dengan topik Inisiasi Kerjasama Forum Program Studi Teknik Informatika dan Serumpun pada Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, dalam rangka memperingati miladnya yang ke-25 pada Kamis (31/10), di Gedung K.H. Mas Mansyur, Kampus Terpadu UII. Bekerjasama dengan Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS PTIS), peserta dari lebih 20 perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta dari seluruh Indonesia hadir dalam diskusi.

Sebagai pemantik diskusi diawali paparan materi oleh para pakar. Di antaranya yakni tentang Drone Empit Akademik oleh Ismail Fahmi., Ph.D., Strategi Kontribusi Islam dan Teknologi pada Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat oleh Harry B. Santoso, Ph.D., Kontribusi Intelektual Muslim dalam Masyarakat oleh Dr. Subhan Afifi, serta paparan oleh Rektor UII Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. tentang Mendefinisikan Kembali Peran Cendikiawan Muslim.

Ismail Fahmi menjelaskan bahwa Drone Empit Akademik merupakan salah satu tools, yang digunakan untuk mengumpulkan data dari media sosial, yang kemudian diolah, dianalisis, untuk berbagai macam topik, mulai dari kesehatan, agama, politik, ekonomi, ataupun yang lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa banyak permasalahn-permasalahan penting yang di bahas melalui media sosial salah satunya twitter.

“Dari situ kita bisa mengumpulkan berbagai macam data tentang topik-topik penting, yang dibicarakan oleh orang-orang dari Sabang sampai Merauke, dengan latar belakang yang berbeda-beda. Sehingga dengan ini kita bisa melihat, kelebihan, kekurangan, yang kemudian menjadi bahan, masukan bagi perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta, demi mengembangkan sesuatu yang dianggap sebagai peluang,” jelas Ismail Fahmi di sela-sela acara.

“Jadi ini sangat penting sekali dalam hal kerjasama antar berbagai perguruan tinggi Islam negeri maupun swasta, dan Drone Empit Akademik bisa sangat membantu dalam hal pengumpulan data, penyajian, analisis, hingga menjadi pendukung kerja sama nantinya,” Imbuh Ismail.

Mendefinisikan kembali peran Cendikiawan Muslim

Fathul Wahid menuturkan tiga peran cendikiawan muslim. pertama yaitu hormat kepada masa lalu. Berikutnya kritis terhadap masa kini, dan yang ketiga optimis menjemput masa depan.

Strategi yang dapat dilakukan sebagai implementasi sikap hormat kepada masa lalu, yaitu dapat dilakukan dengan memaknai kembali alasan keberadaan kita, meguatkan nilai-nilai, dan integrasi Islam dan ilmu pengetahuan, serta meningkatkan refleksi atas pengalaman cendikiawan muslim masa lalu, termasuk menghargai ilmu pengetahuan dan ilmuan.

Strategi yang dapat dilakukan dalam mengaktualisasikan sikap kritis terhadap masa kini adalah, dengan melakukan evaluasi diri secara jujur (menghindari ‘denial syndrome’), mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, menjadi penengah yang menawarkan wacana alternatif, serta menghentikan bermain sebagai korban.

Fathul Wahid menyinggung kiprah para cendikiawan muslim yang telah berjasa. Di antaranya Alkhindi, Albiruni, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Alghazali, dan beberapa tokoh lainnya, yang mempunyai ratusan buku yang berhasil diterbitkan. “Sampai kapan kita terus mengeluh? Mereka sibuk menulis, sementara kita sibuk mengeluh, sehingga tidak punya waktu untuk menulis,” Jelas Fathul.

Optimis menjemput masa depan bagi Fathul Wahid dapat dilakukan dengan menggunakan agama sebagai gas dan rem, membuat anak tangga, mengembangkan kerja sama dan sinergi antar aktor. “Pergilah sendiri jika ingin cepat, dan pergilah bersama jika ingin jauh,” pesan Fathul Wahid.

Fathul Wahid menerangkan bahwa selain sebagai ajang mempererat persaudaraan, kegiatan diskusi yang digelar juga bertujuan sebagai ajang sinergi antar perguruan tinggi. “Tujuannya satu, kita saling kenal, berbagi sudut pandang, ketiga merumuskan kerja sama yang memungkinkan untuk dilakukan secara bersama-sama, bersinergi, untuk menggalang semua energi positif, demi memajukan universitas Islam masing-masing,” jelasnya.

“Kami berharap ini adalah inisiasi yang baik, dan kerjasama antar prguruan tinggi Islam swasta dan negeri terutama dalam bidang informatika, bisa lebih kuat kedepannya untuk maju secara bersama-sama,” Fathul Wahid menambahkan.

Sementara Ari Sujarwo, S.Kom., M.I.T. selaku ketua panitia kegiatan mengatakan bahwa umat Islam dirasa perlu meningkatkan kontribusinya kepada kehidupan. Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Imran, sebagai umat yang proaktif, kontributif, umat yang senantiasa menyelenggarakan kegiatan yang mengajak kepada kebaikan.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Al-Imran, 3:110). “Melalui ayat ini Allah SWT memberikan satu statement yang kokoh bahwa kamu adalah umat yang terbaik di antara manusia” tegasnya..

Selepas rehat siang, jalannya kegiatan dilanjutkan dengan focus group disscussion membahas tentang pengajaran, kolaborasi penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Sebagai bentuk implementasi kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi salah satu desa wisata. Berikutnya kembali mendiskusikan bentuk kolaborasi yang dapat dilakukan. (D/RS)