• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Rendahkan Sayapmu
Pojok Rektor

Rendahkan Sayapmu

Rendahkan sayapmu adalah ungkapan dalam bahasa Arab yang muncul tiga kali dalam Al-Qur’an: pada Surat Asy-Syu’ara 26:215, Al-Hijr 17:24, dan Al-Isra’ 15:88. Kepada siapa sayap direndahkan? Ada dua kelompok yang disebut: pengikut (QS 26:215 dan 17:24) dan orang tua (QS 15:88).

Apa artinya? Terjemahan bahasa Inggris untuk ayat pertama menuliskan dalam beragam versi, seperti lower your wing (in kindness)/tenderly/(in tender)/(in gentleness)(arti literalnya, rendahkan sayapmu (dalam kebaikan)/dengan lembut/(dalam kelembutan)/(dengan ramah), atau diberi catatan tambahan: be courteous(santunlah). Untuk ayat ketiga yang ditujukan kepada orang tua diterjemahkan dengan lower your wing of humility/submission and mercy(rendahkan sayap kerendahhatian/ketundukan dan kasih sayang). Terjemahan bahasa Indonesia menuliskan dengan lugas: rendahkan dirimu.

 

Sayap: kesombongan versus perlindungan

Saya tidak bermaksud menafsirkan ayat tersebut karena memang tidak mempunyai kapasitas untuk itu. Tetapi, ayat-ayat tersebut melalui metafora sayap telah memberikan inspirasi yang luar biasa. Bagi saya, di satu sisi, sayap bisa menjadi instrumen kesombongan seperti burung elang yang terbang tinggi dengan arogan mencari mangsa terlemahnya untuk diterkam. Burung elang ketika membaca tulisan ini mungkin juga tidak sepakat 🙂

Sisi ini nampaknya pas ketika digunakan untuk memaknai bagaimana bersikap kita kepada orang tua, manusia termulia sejagad. Tidak boleh ada rasa sombong sekecil apapun melekat di diri kita ketika berhadapan dengan mereka. Sehebat apapun kita, sebaik apapun kita kepada mereka, tidak mungkin dapat menggantikan pengorbanan dan kasih sayang yang telah dicurahkan kepada kita.

Ketika sayap, instrumen yang berpotensi memunculkan kesombongan, diminta untuk diturunkan, dibutuhkan energi besar untuk menawar harga diri pada tingkat yang rendah. Karenanya, di sisi lain, sayap bisa menjadi instrumen perlindungan yang mengayomi. Sayap ayam ketika menangkup akan memberikan rasa aman dan nyaman untuk anak-anaknya, dan melindungi mereka dari serangan predator. Ini adalah inspirasi untuk pemimpin. Bahwa dalam konteks ini, seorang pemimpin diminta santun, lembut, ramah dengan pengikut yang seide dengannya.

 

Kenakan jaket semesta

Mari dengan santai kita elaborasi inspirasi di atas. Apa yang menjadikan seseorang menjadi pemimpin yang terpilih? Beragam jawaban dapat diberikan. Tapi, nampaknya pembaca sepakat, kepercayaan dari banyak orang menjadi kunci. Ketika seseorang memberikan suaranya, maka di dalamnya terkandung pernyataan kepercayaan (dan tentu saja harapan).

Yang menarik, meski ketika pemilihan tidak semua suara mendukung 100%, tetapi dalam konteks publik, yang wajib dipimpin tidak hanya yang memilih, tetapi juga yang bahkan awalnya berseberangan dengan pemimpin. Apalagi dalam konteks lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi.

Hajatan pemilihan demokratis hanya merupakan metode memilih. Setelahnya, keluarga besar harus dikedepankan. Ketika seorang pemimpin fakultas (universitas), terpilih dari program studi (fakultas) A, misalnya, tidak lantas tugasnya hanya mengembangkan program studi (fakultas) asalnya. Jika ini terjadi, maka dia akan terjebak sikap primordialisme sempit dan tidak akan dapat menggagas masa depan fakultas (universitas), tetapi justru terjebak pada misi sempit yang sampai tidak tertentu akan kontra-produktif.

Ketika terpilih, maka semua pemimpin harus menanggalkan baju primordialnya dan menggantikannya dengan jaket semesta. Dia tidak lagi milik kelompok primordialnya, tetapi sudah menjadi milik publik. Inilah salah satu cara merendahkan sayap untuk kolega yang tidak berasal dari kelompok yang sama.

Ketika sudah menjadi pemimpin, kecintaan buta kepada asal primordial dan berlagak rabun terhadap kelompok lain, bisa masuk kepada level “haram” dalam diskusi manajemen organisasi. Apa dampaknya jika hal ini terjadi? Pembaca dapat bebas berimaji. Salah satunya adalah luruhnya kepercayaan. Ini dari perspektif warga organisasi beda kelompok primordial atau yang masih sehat akalnya.

Jika semakin akut, bisa memunculkan sikap “masa bodoh” dan bahkan “bibit separatisme”. Hal ini, insyaallah tidak terjadi ketika pemimpin dengan ikhlas merendahkan sayapnya, menjadi pelindung dan pengayom semua anak-anaknya. Tidak ada lagi anak emas dan anak buangan yang kurang perhatian.

Mudah? Tidak selalu. Tetapi, saya yakin bisa diupayakan, ketika kesadaran menjadi pemimpin publik tetap dijaga, harga diri selalu dikelola, dan kepentingan pribadi atau kelompok tidak mengalahkan kepentingan orang banyak.

Yang terakhir ini menarik, mengapa? Berikut adalah contoh sederhana. Saya sering ditanya, mengapa 5.000-6.000 tanda tangan basah atas dokumen ketika menjelang wisuda tidak digantikan dengan cap saja? Saya jawab: bisa jadi bagi saya itu melelahkan, tetapi setiap dokumen yang diterima oleh wisudawan dengan tanda tangan basah yang diberikan dengan ikhlas (dan diawali/diiringi kalimat yang baik) akan sangat bermakna. Bagi saya paling hanya beberapa detik, tetapi bagi penerima, makna dan manfaatnya bisa sepanjang hayatnya. Ini adalah contoh lain merendahkan sayap kepada mahasiswa atau wisudawan.

Pembaca bisa menambahkan ribuan dan bahkan jutaan ilustrasi tentang bagaimana sayap dapat tetap direndahkan. Apakah akhirnya tidak menjadi pemimpin yang lemah? Sebagian orang berpendapat demikian. Tetapi maaf, itu bukan mazhab saya.

Renungan ringan pada 14 Februari 2020.

14 Februari 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/02/Elang-terbang.jpg 1500 2265 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022020-02-14 11:11:272020-02-17 05:49:08Rendahkan Sayapmu

Berita Terakhir

  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • FIAI UII Gelar Diskusi Kajian Turats Bahas Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Ilmu Sosial
  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Embun Kalimasada Promosikan Sajadah Bercorak Desain Ala Indonesia Link to: Embun Kalimasada Promosikan Sajadah Bercorak Desain Ala Indonesia Embun Kalimasada Promosikan Sajadah Bercorak Desain Ala Indonesia Link to: Menafsirkan Kembali Sistem Khilafah Islam Link to: Menafsirkan Kembali Sistem Khilafah Islam Menafsirkan Kembali Sistem Khilafah Islam Scroll to top Scroll to top Scroll to top