• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Renungan Mengapa Masih Bertemu Ramadan Tahun Ini?
Berita Kegiatan

Renungan Mengapa Masih Bertemu Ramadan Tahun Ini?

Bisa bertemu Ramadan di tahun ini merupakan anugerah tersendiri. Pasalnya, tidak sedikit umat muslim yang tak lagi bisa bersua dengan Ramadan karena menjadi korban dalam pandemi Covid-19. Ini yang jadi pertanyaan, kenapa Allah memilih saya dan Anda semua untuk tetap hidup? Apa keistimewaan kita sehingga bisa bertemu Ramadan lagi?. Pernyataan itu dilontarkan Ustadz drh. Agung Budianto, M.P., Ph.D. dalam acara Pesantren Daring Ramadan 1442 Hijriah pada Selasa (4/5) yang digelar Rektorat UII.

Menurutnya, terkadang manusia tidak merasa bahwa kesempatan hidupnya adalah sebuah keajaiban, anugerah atau nikmat dari Allah. Yang menjadi masalah adalah ketika kita dipanggil Allah atau meninggal dunia, lalu tidak ada lagi waktu untuk kembali padahal selama diberi kesempatan ia tidak pernah bersyukur. Maka dalam kematiannya, yang ada hanyalah penyesalan.

Ustadz Agung Budiman menyatakan dalam Al-Quran terdapat tiga jenis terminologi waktu. Pembagian pertama, sifatnya past tense dalam bahasa Inggris semuanya berisi kisah-kisah sekitar 70% bisa mengenal orang-orang terdahulu. Bagian kedua, kehidupan menurutnya bentuk present yakni apa yang diajarkan sekarang untuk memahami masa depan akan terkait di dalam terminologi. Adapun bagian tiga, ketika melakukan kesalahan, manusia memiliki kesempatan untuk melanjutkan atau berhenti. Namun, manusia juga dapat mengalami penyesalan.

Ia pun mengajak audiens untuk bertaubat atas dosa ataupun kesalahan di masa lampau selagi masih hidup di dunia. Terlebih di momen 10 hari terakhir bulan Ramadan adalah waktu yang tepat. Sebab ketika manusia sudah meninggal, pintu taubat telah tertutup sehingga hanya meninggalkan penyesalan bagi yang belum melakukannya.

Menurutnya, Allah tidak akan pernah salah dalam menghitung amal manusia. “Daripada menyesal dan teriak-teriak di sana (akhirat), lebih baik teriak sekarang, teriakan penyesalan dengan memohon ampun kepada Allah. Dan hindari sikap takabur atau merasa tidak pernah bersalah,” pesannya.

Selanjutnya ia mengingatkan kepada para jamaah yang bekerja di bidang pendidikan dan riset untuk berhati-hati, sebab menurutnya telah banyak kesombongan dimulai dari kepentingan. “Orang pintar itu bisa punya dua mata. Mata pertama menjadi orang yang sangat bermanfaat, dan mata uang lain justru menjerumuskan ke hal negatif,” ceritanya. Seperti salah satu kisah yang fenomenal yakni kepandaian kaum Tsamud yang diberikan anugerah dapat membangun arsitektur kota atau rumah dengan sangat indah pada masa sebelum masehi. Lalu mereka memindahkan orang yang tinggal di gua ke bangunan buatan mereka.

“Kita punya ilmu atau kekuatan lantas sombong, tidak boleh bangga dengan diri kita saja apalagi kita merasa luar biasa. Pesantren ini menunjukkan wajah-wajah kita diletakkan di lantai kepada Allah. Menunjukkan kefakiran kita, menunjukkan ketidakmampuan kita. Mau itu Bapak rektor, dekan, wakil dekan, kaprodi vokasi muka sama semua wajahnya akan mengangkat derajat orang-orang yang penuh kerendahan hati di hadapan Allah. Amin,” doanya Ustadz Agung Budiman di akhir sesi kajiannya. (SF/ESP)

5 Mei 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/05/Ustadz-drh.-Agung-Budianto.png 450 800 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-05-05 11:17:342021-05-05 11:48:39Renungan Mengapa Masih Bertemu Ramadan Tahun Ini?

Berita Terakhir

  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • BP Inauguration 2026: Momen Selebrasi dan Transformasi Mahasiswa Bridging Program UII
  • Jawab Kebutuhan Pasien Internasional, CILACS UII dan RS Panti Nugroho Teken MoU Interpreter Bahasa Arab 

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Memperbanyak Doa di Bulan Ramadan Link to: Memperbanyak Doa di Bulan Ramadan Memperbanyak Doa di Bulan Ramadan Link to: Tidak Ada Kata Terlambat Mulai Belajar Agama Link to: Tidak Ada Kata Terlambat Mulai Belajar Agama Tidak Ada Kata Terlambat Mulai Belajar Agama Scroll to top Scroll to top Scroll to top