Berkolaborasi dengan Sustainable in Architecture (SIA), Program Studi Arsitektur Universitas Islam Indonesia menggelar Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia (Sakapari) ke-6 tahun 2020. Agenda ini dilaksanakan pada Sabtu (15/8) secara daring dengan tema Praktek Arsitek di Era Kelaziman Baru.

Sekretaris Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII), Dr. Ing. Nensi Golda Yuli., ST., MT. mengemukakan, Sakapari merupakan seminar nasional inisiasi Program Studi Arsitek sejak 2016, yang mana awalnya setahun sekali, dirubah menjadi dua kali setahun selama dua tahun terakhir. “Besarnya animo yang perlu dipublikasi hasil riset kolaborasi mahasiswa dan dosen baik program sarjana atau profesi arsitek maka diadakan dua kali setahun,” ungkapnya.

Nensi menyebut setelah proses review telah masuk 52 makalah yang akan dipresentasikan dalam 10 sesi paralel. Semuanya terbagi dalam kelompok Arsitektur Digital dan Lingkungan Cerdas (AD), Advokasi dan Profesi (AP), Pemukiman dan Urbanisme (PU), Sains dan Teknologi Bangunan (STB), serta Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur (STK).

Di akhir sesi, kata Nensi akan diberikan apresiasi berupa penghargaan presenter, makalah terbaik, kategori kelompok riset mahasiswa dan dosen dalam mata kuliah karya tulis ilmiah, serta penghargaan Abra. “Abra merupakan salah satu penghargaan karya tulis terbaik di semester ini dan ini mata kuliah program studi arsitektur,” jelasnya.

Di sisi lain, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII Miftahul Fauziah., S.T., M.T., Ph.D, menuturkan kegiatan Sakapari merupakan hal yang sangat baik. Bahkan tema yang diangkat menurutnya sudah sangat tepat dan sesuai dengan situasi saat ini. Ia juga mengajak para peserta Sakapari untuk bersyukur sebab situasi pandemi tidak menyurutkan kinerja dari peserta terutama dari mahasiswa sehingga menghasilkan paper baik karya ilmiah maupun kolaborasi dosen. “Dunia arsitek tidak akan terhambat. Semoga peserta dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari program ini,” ungkap Miftahul.

Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Sakapari 2020. Dalam pidatonya, Fathul mengapresiasi kegiatan Sakapari yang sudah berjalan selama enam kali. Menurutnya setiap seminar atau pameran adalah ikhtiar penyediaan majelis ilmu, sebab di sana tempat belajar banyak hal. Setiap pelajar harus menyiapkan diri untuk mendapatkannya dan majelis ilmu yang akan memberikan ilmunya. “Ilmu itu mungkin ada yang kita pernah bayangkan jadi lebih paham, bahkan belum pernah dibayangkan sama sekali,” sebut Fathul.

Lebih lanjut, Fathul menjelaskan arsitek sebagai bentuk ikhtiar atau inisiatif membawa imajinasi menjadi bentuk artefak ke ruang publik. Ia menyebut ada empat fungsi arsitek, di antaranya bukti menerjemahkan imajinasi, mengabarkan nikmat, ikhtiar meninggalkan jejak agar disaksikan, dan memberi contoh dan membuka kritik.

Fathul menyatakan menjadi arsitek perlu keterampilan khusus dan refleksi yang mendalam. Ia menganggap arsitek mirip seperti desainer baju yang mendesain lalu dijahit menjadi baju, atau fotografer yang memotret dengan cahaya dan menjadi gambar. Setiap pencapaian adalah nikmat, maka perlu dikabarkan. “Peninggalan jejak menjadi bukti kita telah melakukan sesuatu yang akan dicontoh dan memberi ruang adanya kritikan. Jangan sakit hati kalau dikritik, jadikan itu pegangan menjadi karya lebih baik ke depannya,” tambah Fathul.

Makna berkelanjutan menurut Fathul memiliki tafsiran yang dinamis dan luas di antaranya memuliakan manusia. Jika dimuliakan maka Insya Allah orang tersebut akan memuliakan alam dan makhluk lain. Begitulah letak arsitek yang akan memuliakan manusia lain dengan mendirikan bangunan atau fasilitas umum.

Pembicara kunci, Ir. Fenty Yusdayanti, M.Sc. selaku Kepala Diskominfo Kabupaten Bantul memberikan materi berjudul Perencanaan Ruang Publik di Era Pandemi. Dikatakan ruang publik adalah area masyarakat untuk berkumpul dengan tujuan yang sama. Adanya perkembangan teknologi, menjadikan diskusi tidak hanya terjadi di ruang fisik melainkan juga ruang maya yang membuat beberapa aktivitas fisik dapat dipindah ke maya. Di antaranya transaksi perdagangan, perkantoran, transportasi, dan lain-lain.

Fenty menyatakan fokus setiap orang sebelum dan saat pandemi berbeda. Misal sebelum pandemi orang fokus menyelesaikan masalah macet, kebanjiran, di saat pandemi berubah fokus ke social distancing, hidup sehat dan bersih, serta ekonomi melambat. “Saatnya arsitek mulai berfikir kreatif agar setiap ruang publik atau rumah pribadi diterapkan protokol kesehatan yang memudahkan aktivitas sehari-hari,” sebutnya.

Fenty juga menyebut sudah banyak aplikasi yang membantu aktivitas ruang publik berpindah ke dalam jaringan, seperti yang penjualan virtual untuk menaikan ekonomi dengan pasardesa.id. Aplikasi ini kata Fenty sebagai bentuk mitigasi, kolaborasi, solidaritas, dan ekonomi berbagi.

Sakapari turut menghadirkan beberapa pembicara lainnya, antara lain pertama, Assoc. Prof. Ir. Tony Kunto Wibisono, M.Sc., IAI., GP, Dosen Arsitektur UII dengan memberikan materi berjudul Komunikasi Empati Klien dan Arsitek, Proses Perancangan dengan Penekanan pada Model Informasi Data pada Era New Normal. Kedua, M. Retas Aqabah Amjad, S. PWK., selaku IAP dari Shirvano Consulting, dengan judul materi Konsultan Perencanaan Kota dan Arsitektur di New Normal. Serta, Ardhysa Gusma, S.T., M.Sc. selaku CEO A+Astudio, memberikan pemaparan berjudul Masa Depan Arsitektur dalam Normal Baru.(SF/RS)