Allah SWT mengingatkan hendaknya ada sebagian muslim yang tekun mendalami ilmu agama meski umat tengah berada di situasi yang genting. Hal itu tidak lain agar ada muslim yang menjaga lentera dakwah tetap menyala sehingga menerangi langkah kehidupan umat. Sebagaimana Ia berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 122 yang artinya :

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”

Landasan inilah yang mendorong diadakannya Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Angkatan 3 yang mulai dibuka pada Kamis (12/3). Seperti disampaikan Edi Safitri, S.Ag., M.S.I. selaku Direktur Pusat Studi Islam UII pada kegiatan pembukaan dan orientasi SPI yang diikuti berbagai kalangan mahasiswa.

“Tentu alasan mengapa SPI dilaksanakan adalah berlandaskan Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam yang utama. Ayat ini menemukan konteksnya kembali pada masa Milenial ini. Masa di mana budaya minat baca sangat sedikit, juga sifat kritisme yang sangat rendah. Seperti saat menerima suatu berita atau informasi langsung dibagikan tanpa mengecek kebenaran dari berita atau informasi tersebut”, jelasnya.

Menurutnya, SPI merupakan program yang berisi tujuh kelas setiap minggunya dan berlangsung selama satu bulan. Di dalamnya diajarkan nilai-nilai kepemimpinan profetik, filologi Sastra Islam, Al-Qur’an dan peradaban, Islam dan gender, tasawuf dan masyarakat jawa, filsafat Islam klasik, dan Fiqih keluarga Milenial. Bertemakan “Islam dan Solusi Peradaban” diharapkan SPI mampu mewujudkan generasi yang berpikir kritis dalam mewujudkan peradaban Islam.

Bekerjasama dengan Prodi Magister Ilmu Agama Islam (MIAI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Prodi Doktor Hukum Islam (DHI) FIAI, dan FIAI, kegiatan ini diselenggarakan sebanyak dua kali setahun. “Pada tahun ini, SPI diikuti 115 peserta dari 150 lebih pendaftar. Ini merupakan SPI dengan peserta terbanyak yang tidak hanya berasal dari Yogyakarta saja tapi juga dari luar, seperti dari Makasar, Tangerang dan Banten”, timpal Januariansyah Arfaizar selaku panitia acara. Ia juga menekankan kembali kepada peserta bahwa SPI ini gratis karena masih banyaknya pertanyaan berapa biaya untuk mengikuti SPI.

Edi menjelaskan seperti dalam menghadapi virus Corona harusnya didekati dengan cara sains bukan cara agama. Juga dalam kasus ponari yaitu fenomena batu yang dapat menyembuhkan penyakit. “Jangan percaya begitu saja bahwa batu itu bisa menyembuhkan. Tapi juga tidak menafikan bahwa batu itu bisa menyembuhkan. Maka perlu dilakukan riset mendalam sehingga dapat ditemukan bahwa penyakit itu bisa disembuhkan melalui proses psikologis atau disebut Psikosomatis”, pungkasnya. (MA/ESP)