Tahun 2019, Indonesia memasuki tahun politik dimana kita memiliki kesempatan terbuka untuk memilih pemimpin bangsa. Tentu rakyat Indonesia mengharapkan kepemimpinan yang baik. Namun alasan yang melatarbelakangi keputusan bisa bervarian walaupun ada juga yang memilih karena tidak ingin yang terburuk menang. Sedemikian bervariannya sampai hampir lupa bahwa memahami alasan memilih juga sama pentingnya dengan memahami karateristik orang yang dipilih.

Kepemimpinan, tema itulah yang diangkat dalam kajian yang berjudul “Siapakah Sosok Pemimpin yang Rahmatan Lil ‘Alamin?” pada Selasa (19/2), di Gedung Wahid Hasyim Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia (UII). Kajian ilmu yang diselenggarakan oleh Jurusan Studi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan konsep pemimpin yang ideal serta mempererat jalinan silaturahim antar dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) Yogyakarta.

Ada tiga istilah yang umum digunakan dalam kepemimpinan ujar Prof. Dr. Euis Nurlelawati, MA. saat membuka kajian di sesi pertama sebagai pemateri tamu. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga itu melanjutkan bahwa tiga istilah itu adalah amir, khalifah, dan imam. Masing-masing memiliki arti yang sama, yakni biasa diasosiasikan sebagai pemimpin, walaupun konotasinya berbeda. Imam identik dengan membimbing dan sifat keagamaan, Khalifah sebagai pemimpin atau pengganti di bumi, sedangkan amir diasosiasikan sebagai pemimpin yang beragam, dan tidak selalu agamis.

Kajian yang dihadiri oleh dosen-dosen PTKIS Yogyakarta, dan dibuka oleh Dekan FIAI UII, Dr. Tamyzi Mukharrom, M.A. serta laporan dari Ketua Jurusan Studi Islam Dr. Dra. Rahmani Timorita Yulianti, M. Ag. berlangsung dengan khidmat. Terlebih saat pembahasan tentang realisasi pemimpin Rahmatan Lil’ Alamin di Indonesia. Euis Nurlelawati melanjutkan dengan mendeskripsikan komunalisme dan isu kesejahteraan di Indonesia. “Katakanlah Saya menteri, keluarga Saya tidak akan menganggap Saya berhasil, kalau Saya belum membawa satu dari keluarga Saya menjadi orang pemerintahan contohnya. Sebegitu komunalnya,” tuturnya.

Euis Nurlelawati membandingkan dengan negara Eropa bahwa (di sana) pemerintahan dan keluarga tidak ada hubungannya. “Di Indonesia, ketika kita melahirkan anak, kita akan berpikir bagaimana menyekolahkannya, tetapi mereka mementingkan social justice, bahkan untuk urusan sekolah ditanggung pemerintah.

Selain mengundang pemateri tamu, beberapa dosen FIAI juga hadir sebagai pemateri di sesi kedua dalam perspektif hukum Islam, ekonomi Islam, serta filsafat. Tampak hadir di antaranya Muhammad Najib Asyrof, Lc., M.Ag , Martini Dwi Pusparini, SHI., MSI , dan Kurniawan Dwi Saputra, Lc., M.Hum.

Najib Asyrof menjelaskan kepemimpinan dengan landscape personalia Rasulullah SAW. melalui nilai Sidiq, Amanah, Tabligh, serta Fathonah. Berbeda dengan Martini Dwi Pusparini yang menghubungkan ekonomi global dengan negara Islam. “Ternyata tidak semua negara Islam itu islami,” tuturnya. Melalui data dari sebuah studi yang dilakukan oleh Rehman dan Askari (2010) beliau menegaskan bahwa itu tercermin dari masih banyaknya praktik KKN, persoalan HAM, keadilan sosial dan ekonomi yang tidak tuntas.

Sementara Kurniawan Dwi Saputra memberikan warna baru dalam diskusi dengan mambawa perspektif Aristotales terkait hakikat dan etika kepemimpinan. “Kalau dianalogikan itu seperti serigala alpha yang terkuat memimpin jalannya kawanan serigala, tetapi tentunya manusia tidak dinilai dari segi fisik, manusia juga memiliki rasionalitas dan managerial,” tuturnya.

Terakhir, Kurniawan mengungkapkan kalimat pertanyaan reflektif, “Lalu bagaimana yang dikatakan Rahmatan Lil’ Alamin dalam kondisi politik Indonesia saat ini?” Terlepas dari kita harus senantiasa menggali nilai-nilai yang diteladani oleh Rasulullah saw. tentu rakyat mengharapkan kepemimpinan yang baik, tetapi seringkali rakyat sendiri yang mengkhianati itu. (IG/RS)