Sebanyak 38 dokter baru dilantik dan diambil sumpah pada Pelantikan dan Sumpah Dokter Periode 47, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), di Auditorium Abdulkahar Mudzakkir UII, Selasa (8/10). Terhitung sejak berdiri pada tahun 2001, Fakultas kedokteran UII telah mencetak sekitar 1.741 dokter yang keberadaannya tersebar diberbagai pelosok tanah air.

Di hadapan dokter baru, Dekan Fakultas Kedokteran UII, dr. Linda Rosita, M.Kes, Sp.PK. berpesan tiga hal. Pertama menjadi dokter yang dinantikan pengabdiannya di pelosok, kedua memiliki semangat yang tidak membeda-bedakan, serta yang ketiga membantu masyarakat dibarengi dengan akhlaq mulia.

Akhlaq itu cerminan kebaikan diri seseorang. Tidak mudah bagi seseorang membedakan mana yang baik kecuali dengan akhlaq yang baik. Sehingga ahklaq ini merupakan cerminan bagi kita untuk menjadi dokter yang dapat melayani dengan baik,” jelas Linda Rosita.

dr. Linda juga berpesan kepada para dokter baru maupun yang telah tersebar di berbagai daerah agar tetap menanamkan satu nilai yang baginya sangat penting, yakni nilai keimanan. “Di manapun kita berada Allah selalu menjaga kita, Allah akan selalu memperhatiakan apa yang kita perbuat. Sehingga tidak ada kesempatan bagi kita untuk melakukan kesalahan. Karena kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti,” ungkap dr. Linda Rosita.

Mewakili Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY, Dr. dr. Ita Fauzia Hanoum, M.Kes. memaparkan tugas IDI dalam membina, memberikan pendampingan bagi dokter dalam hal etika, profesi maupun hukum lainnya. Oleh karenanya, setiap dokter diharapkan melaporkan serta mendaftarkan diri pada IDI di daerah masing-masing.

Menurut data terbaru kementerian kesehatan menyebutkan bahwa terdapat 9.993 Puskesmas yang tersebar di 7.201 kecamatan yang ada di Indonesia. “Sehingga 38 dokter yang baru di lantik ini masih memiliki kesempatan yang luas di berbagai daerah di indonesia,” ujarnya.

Selain sebagai pertanda telah disandangnya gelar dokter, pelantikan ini juga menjadi awal dimulainya babak baru dalam kehidupan seorang dokter, yakni tanggun jawab terhadap diri sendiri, keluarga, negara dan bangsa, serta awal dimulainya tindakan profesional dalam mengemban tanggung jawab sebagai dokter.

“Di antara perilaku profesional itu adalah perilaku yang tidak mementingkan kepentingan pribadi, atau golongan dan tidak mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain,” ujar perwakilan Dinas Kesehatan DIY, Setyarini Hestu Lestari, SKM. M.Kes dalam sambutannya.

Sementara Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII, Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc. menuturkan bawa dokter merupakan profesi mulia. Bahkan ditangannya terdapat harapan kehidupan manusia. Sehingga setiap tindakannya membutuhkan kecermatan tinggi.

“Di sinilah salah satu tempat bersandar SDM bangsa yang unggul dengan kesehatannya. Namun, perkembangan teknologi yang terus bergerak juga harus diimbangi dengan inovasi-inovasi yang memadai, terutama dalam hal digitalisasi kesehatan,” terang Imam Djati.

Imam Djati menambahkan, untuk meningkatkan kualitas dan keamanan pelayanan kesehatan, perlu mengembangkan inovasi layanan kesehatan dimulai dari layanan primer, dengan memanfaatkan teknologi digital yang mutakhir, seperti sistem aplikasi informasi rumah sakit, sistem informasi nasional yang terintegrasi, dan notifikasi kejadian penyakit.

Ia juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai keadaan bangsa yang hanya akan menjadi bangsa pengikut, di tengah gempuran teknologi. Terutama melihat keadaan bahwa di beberapa fakultas kedokteran yang ada, masih sangat sedikit penelitian terkait dampak industri 4.0. “Jika ini terus terjadi, hal ini akan terus menstigmakan Indonesia sebagai negara konsumen bukan negara produsen,” ungkapnya.

Imam Djati juga berpesan agar para dokter tetap memegang nilai-nilai Islam dalam setiap tindakan yang dijalankan di masyarakat nanti. “Di atas itu semua, sebagai alumni Universitas Islam Indonesia, kami mengharapkan nilai-nilai Islam yang abadi, dapat terus dipegang dan mewarnai semua peran yang dimainkan di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.

Prosesi pengambilan sumpah diakhiri dengan lagu persembahan para dokter baru, kepada para orang tua serta dosen. Tangis haru dari para orang tua dan para dokter baru menghiasi ini acara hingga akhir.

Selama 6 sampai 10 tahun waktu yang telah dilalui oleh para dokter merupakan waktu yang tidak mudah, banyak halang-rintang yang dilalui. Namun berkat bantuan serta dorongan berbagai pihak mereka bisa melalui. Terutama doa orang tua. Demikian dikatakan dr. Dany Martha Pradipta salah satu perwakilan dokter baru.

“Dibalik sebuah perjuangan terdapat sebuah katalis. Yaitu doa orang tua. Doa orang tua adalah doa yang paling tulus yang senantias mengiringi kesuksesan karir kita,” ungkap Dany. (D/RS)