Semua warga Universitas Islam Indonesia (UII) tidak punya pilihan lain, kecuali semakin tekun memanjatkan syukur kepada Allah atas kepercayaan bangsa Indonesia yang masih tinggi. Pada pertengahan Agustus 2019, sebanyak hampir 6.000 mahasiswa baru mengikuti kuliah perdana. Mereka adalah para calon pemimpin masa depan. Tangan-tangan merekalah yang akan melukis wajah Indonesia di hari-hari mendatang. Imajinasi merekalah yang akan mengukir Indonesia baru. Apa yang mereka pelajari hari ini, akan menentukan Indonesia 20 tahun mendatang.

Ini adalah amanah berat yang harus ditunaikan semua warga UII. UII harus dijadikan ladang persemaian bibit-bibit istimewa ini. Pada dosen dan tenaga kependidikan harus siap mendampingi perjalanan suci para calon pemimpin ini dalam mengembangkan diri. Ini adalah ungkapan rasa syukur yang sesungguhnya: menjawab kesempatan emas dengan amalan terbaik. Tidak ada pilihan lain untuk tetap menjaga dan meningkatkan relevansi kehadiran UII di tengah bangsa ini.

Perlu dicatat dengan tinta tebal: mereka, para mahasiswa baru, adalah manusia yang lahir dari zaman dengan karakeristik dan tantangan berbeda. Mereka adalah para pribumi digital dengan segala keunikannya. Apa yang dulu ketika para dosen menjalani kuliah masih valid, misalnya, sangat mungkin saat ini sudah kedaluwarsa. Apa yang dulunya istimewa, kini tidak mustahil sudah menjadi biasa. Lingkungan berubah dengan sangat cepat.

Perubahan ini harus disambut dengan optimisme yang akan memberikan sumber energi abadi dalam berpikir dan bertindak. Ia pun akan memompa kreativitas dan memantik imajinasi. Mereka harus menjadi manusia yang kaya dengan ide bernas. Kurikulum harus disesuaikan dengan perubahan lingkungan. Begitu juga metode pembelajaran.

Kurikulum dan proses pembelajaran harus didesain supaya mahasiswa mampu berkembang pembelajar cepat. Mereka harus dilatih mengembangkan kemampuan menghubungkan antartitik, antarkonsep, untuk membangun jalinan cerita yang bermakna dari materi yang didiskusikan di kelas luring maupun daring.

Mahasiswa juga harus diajak mengasah diri untuk mengenali pola solusi dari beragam kelas masalah. Di masa mendatang, mereka harus berkembang menjadi pengambil keputusan yang cekatan dan tangguh. Kurikulum juga harus meningkatkan literasi dan keterampilan teknologi mahasiswa. Masa depan tidak menyisakan ruang untuk mereka yang gagap teknologi. Suka atau tidak suka, teknologi akan semakin dominan di masa mendatang dan kita harus siap menyambutnya.

Tidak kalah penting, dosen harus sanggup memberi contoh dan mendampingi mahasiswa menjadi pemikir mandiri. Mereka tidak boleh dibiarkan hanya menjadi pembeo dan bertaklid buta kepada narasi publik. Karenanya, mereka harus diajak untuk selalu haus akan pengetahuan dan menjadi manusia yang selalu penasaran ketika keingintahuannya belum menemukan jawaban.

Dorong mereka menjadi manusia yang suka membaca, gemar berdiskusi, aktif berorganisasi, dan menikmati piknik ke belahan bumi lain untuk menjadikan diri terpapar keragaman budaya dan pemikiran. Mahasiswa tidak boleh dibatasi menjadi pemain lokal saja, tetapi harus disiapkan menjadi warga global.

Meskipun demikian, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Mahasiswa harus didampingi menjadi manusia baik: yang mengenal Tuhannya dengan rendah hati, menghormati sesama manusia dengan tulus, peka terhadap masalah di sekitar, dan menjaga keselarasan antara pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Jika ini semua bisa dilakukan oleh semua warga UII dengan orkestrasi yang rancak, dengan izin Allah, masa depan akan kita jemput dengan suka cita.

Tulisan telah dimuat di Kolom Refleksi UIINews September 2019.