Jauh dari keluarga tentunya menjadi kesulitan tersendiri bagi sebagian mahasiswa baru ketika merantau guna menimba ilmu. Beberapa perubahan yang mungkin ditemui mulai dari perbedaan budaya, makanan hingga gaya hidup bisa memicu gegar budaya (culture shock). Kondisi semacam ini tentunya perlu disiasati sehingga tidak menghambat aktivitas sosial maupun akademik si mahasiswa baru. 

Guna menjawab keresahan tersebut, Program Studi Kimia UII menginisiasi ruang diskusi santai melalui kanal Instagram Live pada Minggu (12/9). Tujuannya agar mahasiswa baru mampu menjadi pembelajar yang mandiri dan terbebas dari jerat gegar budaya. Acara ini diisi oleh alumni Kimia UII yang pernah merasakan belajar di negara lain. Dari alumni ini, peserta dapat belajar mengenai tips dan trik menjadi pembelajar yang mandiri. 

Mochammad Solehudin, S.Si., M.Sc. misalnya, Alumni S1 Kimia UII 2013 ini menceritakan pengalamannya selama menempuh studi di UII ketika S1 hingga saat ini tengah menjalani studi doktoral di King Mongkut’s of Institute Technology Ladkrabang, Thailand. Menurutnya, mahasiswa bisa mengakrabkan diri dengan mengikuti berbagai organisasi kampus. Agar terbiasa, mengikuti suasana baru adalah hal yang perlu dinikmati bagi para mahasiswa baru. “Enjoy saja, mungkin di awal memang terlihat sulit tapi kalau dijalankan secara santai dan sedikit demi sedikit semua akan jadi terbiasa”, Soleh meyakinkan. 

Senada dengan itu, Soleh juga menambahkan bahwa manajemen waktu juga penting agar tidak keteteran membagi waktu kuliah dan berorganisasi. Mata kuliah Kimia yang menekankan teori dan praktikum tentunya bisa mudah diselesaikan apabila mahasiswa memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. 

Soleh menyarankan agar mahasiswa menggunakan waktu senggang di malam hari untuk belajar dan berorganisasi di siang hari. Selain itu, mengoptimalkan waktu untuk beristirahat dan mencari hiburan dengan berselancar di media sosial haruslah tetap berjalan seimbang.

Di lain sisi, Rosani Fikrina, S.Si., alumni UII yang kini belajar program Magister di National Cheng Kung University, Taiwan menyebut persiapan yang matang dan tekad kuat bisa menjadi modal mengatasi kesulitan mahasiswa beradaptasi. Ia juga menyarankan agar mahasiswa baru mampu beradaptasi di masa transisi.

“Sebenarnya langkah mudahnya adalah ikuti ritme belajar ketika masih di SMA dulu. Cukup hilangkan kebiasaan buruk lalu tambahkan beberapa kebiasaan baru, karena Kimia banyak kelas praktikum, jadi proses belajar harus ada sedikit perubahan”, terang Rosani. 

Kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya adiktif dan menguras banyak waktu seperti media sosial juga menjadi concern tersendiri bagi Rosani. Ia mengingatkan agar mahasiswa harus tegas pada tanggung jawabnya sendiri. Risiko yang harus dihadapi perlu dipikirkan mahasiswa apalagi mengingat kuliah daring yang masih berlangsung hingga saat ini akibat terpukul pandemi. (IAA/ESP)