Kurun waktu sepuluh tahun terakhir nanoteknologi berkembang pesat di berbagai aspek, termasuk dalam bidang farmasi. Para ahli percaya, nanopartikel mampu membuahkan khasiat yang lebih unggul dibandingkan produk biasa. Pasalnya, dimensi nano akan membantu kelarutan suatu partikel di dalam air yang mempercepat proses absorbsi.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., Guru Besar Bidang Farmasetika UII dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kesehatan Modern dan Tradisional. Acara berlangsung pada Rabu (18/11), secara daring. Seminar Nasional tersebut diikuti oleh 41 peserta seminar yang berasal dari 17 lembaga baik institusi pendidikan maupun non pendidikan. Seluruh peserta datang dari 7 provinsi berbeda di Indonesia.

“Kami terus berupaya untuk mengembangkan bahan-bahan alam menjadi produk nanopartikel, tujuannya agar produk-produk tersebut memberikan khasiat yang lebih unggul,” tutur Yandi Syukri.

Lebih lanjut Yandi Syukri menyampaikan, melalui UII Nanopharmacy Research Center telah mampu mengembangkan propolis dengan metode self nanoemulsifying. “Propolis yang dijual di pasaran sekarang kami kembangkan menggunakan nanoteknologi, sehingga warnanya tidak lagi keruh. Selain itu kami juga mengembangkan kosmetik gold nanopartikel,”sebutnya.

Yandi Syukri mengungkapkan produk propolis self nanoemulsifying yang dikembangkan oleh UII dipercaya memiliki peran dalam imunostimulan. Propolis tersebut telah diikutkan dalam Bursa Hilirisasi Inovasi Herbal Indonesia dan telah diujikan BPOM.

Sementara dalam pengembangan gold nanopartikel, pihaknya juga mampu menciptakan krim kosmetik serta serum wajah. “Awalnya dari larutan emas bermuatan positif, kita ubah menjadi nol nantinya sehingga menjadi nanopartikel. Caranya adalah dengan ekstrak daun tin yang dijadikan sebagai reduktor,” jelas Yandi Syukri. Saat ini, pengembangan untuk produk kosmetik masih terus berlanjut dengan menggunakan ekstrak lidah buaya. Dalam proyeknya di UII Nanopharmacy Research Center, Yandi Syukri telah berhasil meraih penghargaan pada FAPA Congress 2016 di Bangkok, Thailand. Selain itu, artikel-artikelnya mengenai hal tersebut juga telah tersedia di Jurnal Scopus Q1,Q2, maupun, Q3.

Pengembangan-pengembangan dari bahan alam masih perlu terus ditingkatkan. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati. Sumber daya alam yang berlimpah ini, sebenarnya mampu menyediakan berbagai bahan baku untuk pembuatan kosmetik, pangan, pengharum, dan bahkan obat-obatan. Namun sayang, faktanya 90% bahan baku farmasi di Indonesia merupakan hasil impor. Hal ini menunjukkan ketidakoptimalan dalam pemanfaatan bahan baku yang telah tersedia.

“Akhirnya, ini menjadi tantangan besar bagi kami (akademisi peneliti) untuk dapat memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam dari hulu ke hilir, agar tidak perlu lagi impor dari negara lain,” terang dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D, Sekretaris Program Studi Doktor Kedokteran dan Kesehatan UGM. Pengembangan untuk menciptakan obat-obatan herbal diyakini mampu meraih peluang. Pasalnya, 45% masyarakat Indonesia masih percaya akan keunggulan obat herbal dibandingkan obat modern.

Namun dibalik peluang itu, timbul sebuah tantangan yang lebih besar lagi untuk mampu menjadikan bahan-bahan alam tersebut menjadi sebuah obat herbal yang tersertifikasi. Menurut Ahmad Hamim Sadewa, ilmu kedokteran menciptakan standar obat-obatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan standar industri. Hal ini karena obat-obatan tersebut akan diberikan ke manusia. “Oleh karenanya kami sangat memperhatikan aspek kemanjuran dan keamanan sebelum obat tersebut benar-benar kami berikan ke para pasien”, ungkap Ahmad Hamim.

Hingga saat ini, kendala sertifikasi obat-obatan herbal berhenti karena baru berhasil mencapai tahap uji pada hewan. “Kami tidak bisa sembarangan memberi produk yang telah berhasil diujikan ke hewan, langsung ke manusia, karena tentu akan berbahaya”. Oleh sebab itu, saat ini dibuatlah peta penelitian yang jangka waktunya berkisar 5-10 tahun dan bersifat multidimensional. “Harus multidimensional, ada inkubatornya, tidak bisa kita meneliti sendiri, karena ketika nanti berhasil diujikan maka perlu riset untuk harganya, segmentasi pasar, kompetitornya siapa saja, oleh sebab itu dibutuhkan peneliti-peneliti dari bidang ekonomi juga,” pungkas Ahmad Hamim. (VTR/RS)