Ketika wabah Covid-19 sudah berlangsung agak lama, yang menjadi fokus perhatian tidak hanya kesehatan dan juga sektor lain, termasuk ekonomi. Anjuran umumnya adalah bekerja dari rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Namun tidak semua orang dapat menjalankan itu tanpa implikasi kehilangan penghasilan. Para pedagang di pasar yang mengandalkan penghasilan dari kerja harian salah satunya. Hal ini diungkapkan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc. Ph.D., Jum’at sore (1/5).

Menurutnya, ketika kita tidak bisa memaksa mereka menghentikan aktivitas, maka tugas kita membantu mengamankan aktivitas mereka dari sisi kesehatan.

Dikatakan Fathul Wahid, tempat cuci tangan portable ini adalah salah satu ikhtiar tersebut. Untuk pembuatan portable wastafel melibatkan laboran dari Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri UII. Dengan tandon yang cukup besar, solusi ini bisa dipakai oleh banyak orang.

“Selain itu, untuk mengambil sabun cair dan air, tidak melibatkan sentuhan tangan, tetapi menggunakan pedal. Ini akan mengurangi potensi penularan virus,” paparnya.

Fathul Wahid menambahkan, alat serupa bisa dibuat siapa saja dengan keterampilan mengelas yang cukup, jika berbahan dari besi supaya bertahan cukup lama, dan biaya tidak terlalu besar. Setiap unit berharga Rp 4,5 juta.

“Jika wabah ini masih berkepanjangan, kami akan berupaya memproduksi lebih banyak dan mendonasikannya di tempat aktivitas ekonomi rakyat yang membutuhkan,” pungkasnya.

Hari ini, Jumat siang (1/5), portable wastafel dari UII Peduli didistribusikan di dua titik lokasi, masing-masing satu buah di Pasar Rejodani dan Pasar Degolan, yang keduanya berada di wilayah Kabupaten Sleman. Pendistribusian portable wastafel disampaikan oleh Ketua Satgas Covid-19 UII, Dr. Abdul Jamil, S.H., M.H. dan diterima perwakilan pengurus masing-masing pasar.