Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil menempati posisi pertama di antara Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia berdasarkan hasil penilaian kinerja Penelitian periode tahun 2016-2018. Hasil penilaian kinerja Penelitian tersebut dimuat dalam SK Dirjen Penguatan Risbang nomor B/5678/E1.2/H.M.00.03/2019 tanggal 13 November 2019 tentang Klaster atau pengelompokkan Perguruan Tinggi berbasis penelitian periode tahun 2016-2018.

UII mendapat predikat PT klaster Mandiri bidang penelitian dalam pemeringkatan tersebut. PT yang masuk dalam klaster Mandiri mendapat kesempatan untuk mengakses dana penelitian dari pemerintah hingga 30 Miliar Rupiah. Saat ini setidaknya terdapat 14 PTS yang tergolong dalam klaster Mandiri, termasuk UII. Selain klaster Mandiri, PT juga digolongkan ke dalam klaster Utama, Madya, dan Binaan.

Capaian UII ini sekaligus mengulang kesuksesan dua tahun sebelumnya. Ketika itu, UII juga menjadi PTS terbaik di Indonesia dalam bidang penelitian.

Pemeringkatan kinerja yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti ditujukan untuk mengukur kinerja penelitian PT di Indonesia. PT diminta melaporkan data kinerja penelitian dalam Simlitabmas.

Rektor UII, Fathul Wahid, Ph.D menyampaikan, “UII bersyukur masih dimudahkan Allah menjaga kinerja penelitian. UII masih menjadi yang terbaik. Alhamdulillah”.

Sementara, Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII, Dr.Eng. Hendra Setiawan, S.T., M.T. bersyukur atas raihan prestasi ini. Menurutnya, ini merupakan hasil kerja keras segenap sivitas akademika baik di tingkat fakultas maupun program studi.

Ia menyebut ada empat komponen penilaian yang menjadi sorotan dalam penilaian kinerja penelitian. Keempatnya adalah sumber daya penelitian, manajemen penelitian, luaran penelitian, dan revenue generating atau profit dari penelitian yang berhasil dimanfaatkan secara komersial.

“Tentunya tidak mudah mempertahankan capaian yang sama di tengah lonjakan peserta pemeringkatan yang kini mencapai 1.977 PT baik negeri maupun swasta. Namun ke depan kami berkomitmen untuk bekerja lebih keras agar hasilnya lebih optimal karena tren persaingan pasti semakin ketat”, imbuhnya.

Hendra menjelaskan bahwa salah satu tantangan adalah mendorong agar para dosen memiliki passion untuk meneliti. Salah satu hambatan yang kerap menjadi alasan adalah ribetnya proses administratif untuk melakukan penelitian, mulai dari tahap penyusunan proposal, meneliti, mempublikasikan penelitian, hingga melaporkannya.

Untuk itu, ke depan pihaknya siap menyelenggarakan secara rutin acara klinik pembuatan proposal penelitian bagi para dosen agar proposal penelitian yang diajukan terus meningkat.

Di sisi lain, Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Ditjen Risbangdikti, Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa, M.Sc dalam suratnya memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas kerja keras yang telah dilakukan oleh PT yang telah melaporkan data kinerja penelitian. Ia juga berharap PT yang telah mendapatkan predikat tertinggi selalu berupaya untuk dapat mempertahankannya, dan yang masih belum mendapatkan kinerja tertinggi terus berusaha untuk meningkatkan kinerjanya.