Implementasi teknologi Building Information Modeling (BIM) pada pembangunan infrastruktur hingga saat ini terus dilakukan oleh Kementerian PUPR. Selaras dengan hal tersebut, penerapan BIM kedepan diperlukan Standar dan Protokol yang sesuai dengan kondisi infrastruktur di Indonesia. Sejauh ini beberapa proyek infrastruktur ditengarai masih mengadopsi standar internasional atau menggunakan standar yang disusun untuk keperluan masing-masing penyedia jasa.

Tim Sekretariat BIM PUPR mengadakan diskusi penyusunan draft standar dan protokol BIM di Ruang Training Simpul Tumbuh Kampus Terpadu UII, pada Kamis (21/11). Dalam diskusi ini turut dihadiri pimpinan dan pakar dari UII, antara lain Wakil Rektor Bidang Networking & Kewirausahaan, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., Direktur Pembinaan & Pengembangan Kewirausahaan/Simpul Tumbuh, Dr. Ir. Arif Wismadi, M.Sc., Kepala Badan Perencanaan & Pengembangan/Rumah Gagasan, Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI. dan dosen Program Studi Arsitektur, Ahmad Irsan Iqbal, S.T., IAI.

Menurut Ilya Fadjar Maharika saat ini proses membangun dituntut dapat sependek mungkin dan sepresisi mungkin. Mulai dari awal perencanaan, dioprasikan, maintenance, bahkan sampai nanti dibongkar lagi terdapat kesinambungan informasi. “Kalau hanya memakai gambar saja, sangat mungkin perubahan-perubahan yang ada tidak terlacak,” jelasnya.

Di dunia generasi ketiga ini, menurut Ilya Fadjar Maharika informasi menjadi hal yang sangat penting, bukan lagi gambar. “Dari gagasan yang disampaikan oleh pengguna atau pemilik proyek sampai ke bagaimana nanti pelaksanaannya, sampai bagaimana nanti di dalam managemen bangunan atau fasilitas itu,” jelasnya.

Disampaikan Ilya Fadjar teknologi BIM menjadi pusatnya, entah informasi diubah dari gambar menjadi tiga dimensi, menjadi informasi yang diwujudkan dalam bentuk tabel siklus perawatan dan penggantian, menjadi tabel proses konstruksi dan lainnya, itu karena kita memegang informasi. “Ini yang dikatakan sebagai salah satu proses disrupsi di dalam teknologi konstruksi. Jadi yang penting adalah datanya,” ungkapnya.

Sementara disampaikan Ahmad Irsan, kita melihat BIM bukan hanya di huruf I, informasinya, tetapi juga huruf B, yakni build information and attach into modelling. “Jadi kita membangun sebuah informasi, kita membangun sebuah bangunan itu bisa dipakai untuk siapa pun,” ujarnya.

Menurut Ahmad Irsan, perihal BIM ini akan melibatkan banyak orang. Ada akademisi sebagai roof karena pengashil tenaga, kemudian ada industri sebagai eksekutor, juga ada regulator. “BIM itu juga kolaborasi, artinya salah satu kata kunci BIM kita butuh kolaborasi,” paparnya.

“Kita bersyukur bisa menjadi host dalam diskusinya, jadi bagian dari sejarah itu. Penyambung untuk menghubungkan antara stakeholder, akademisi, industri dan regulasi. Bahasa yang sama itu adalah standar protokol. Jadi kalau ini rampung, infrasturktur Indonesia akan jauh lebih baik,” tambahnya.

Wiryono Raharjo menuturkan saat ini BIM merupakan sebuah keniscayaan dalam melaksanakan berbagai proyek infrastruktur pembangunan fisik dan sebagainya. Terkait hal ini barang tentu membutuhkan kolaborasi antar bidang. “Kami ingin bisa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam program pendidikan di UII. Di banyak negara maju, hal ini sudah menjadi semacam keharusan dan sudah integrated dalam kurikulumnya,” tuturnya.

Kami berfikir, lima tahun kemarin investasi infrastruktur cukup besar secara umum. Lima tahun kemudian, kita juga akan mengalami kenaikan investasi infrastruktur. Demikian diungkapkan Adji Krisbandono, S.T., M.Eng., M.Sc., Balitbang Kementerian PUPR. Bisa dibayangkan seandainya kita tidak punya informasi yang cukup memadai untuk dipakai. “Kita membangun lima tahun, tetapi kita tidak pintar untuk memaintainance yang sudah kita bangun dengan baik,” ungkapnya.

“Menurut kami dengan BIM ini, merupakan salah satu terobosan penting. Alhamdulillah, beberapa direktorat jenderal berpikirnya bottom-up, tidak top-down. Jadi berpikirnya kerjakan dulu aturan detilnya, guidelinenya, kemudian nanti akan di lunching regulasi yang besar,” tandasnya. (G/RS)