Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII), Dr. Budi Agus Riswandi, S.H. M.Hum. secara resmi menyandang gelar Profesor dalam bidang Ilmu Hukum. Pembacaan Surat Keputusan Kenaikan Jabatan Akademik Profesor dibacakan oleh Taufiqurrahman, S.E. selaku Kepala Bagian Tata Usaha Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V DIY pada Selasa (31/08) di Gedung Prof. Dr. Sardjito Kampus Terpadu UII, dan ditayangkan secara langsung di kanal YouTube Universitas Islam Indonesia.

Selanjutnya, Surat Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI tersebut diserahterimakan oleh Kepala LLDikti Wilayah V DIY, Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Akt., kepada Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., dan dilanjutkan kepada Dr. Budi Agus Riswandi, S.H. M.Hum. Hingga saat ini, tercatat UII telah memiliki 24 profesor dari beragam rumpun keilmuan.

Dalam sambutannya, Prof. Fathul Wahid berbagi kisah tentang keteladanan Kiai Sholeh Darat, seorang maha guru spiritual dari Semarang. Sedari kecil, ayahanda Kyai Sholeh Darat yaitu Kiai Umar, selalu mengajaknya melakukan perjalanan mengembara mencari ilmu dan mengenalkannya kepada banyak ulama penting seperti Kiai Darda, Kiai Murtadha, Kiai Hasan Besari, dan lainnya. Kiai Sholeh Darat juga sempat berguru ke Mekah dan mendalami beragam ilmu, atau dalam konteks kontemporer dikenal dengan multidisiplin.

Setelah menimba ilmu di Mekah, Kiai Sholeh Darat pun pulang ke Indonesia dan menyebarluaskan ilmunya kepada masyarakat luas. Sulitnya memahami Al-Quran pada masa itu membuat Kiai Sholeh Darat menjadi penerjemah Al-Quran pertama ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami kaum awam. Tak hanya itu, ia juga menerjemahkan dan menulis kitab dalam bahasa Jawa dengan huruf pegon (Arab-Melayu).

“Teladannya adalah konsistensinya dalam mengajar dan membuka akses seluas-luasnya terhadap bahan ajar untuk publik. Ini adalah refleksi bagi kita sebagai muslim, dosen, maupun profesor,” sambung Prof. Fathul Wahid sekaligus memberi ucapan selamat kepada Prof. Dr. Budi Agus Riswandi atas capaiannya.

Di sisi lain, Drs. Suwarsono selaku Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII memantik cerita tentang keunikan UII yang meletakkan kata ‘Universitas’, yang berarti lembaga yang memproduksi ilmu pengetahuan disamping kata ‘Islam’ sebagai wahyu dari Ilahi. Sains dan agama acapkali dianggap sebagai sesuatu yang bertolak belakang, tetapi ada pandangan lain bahwa sebenarnya agama bisa berdialog dengan sains.

“Dua ihwal yang kelihatannya kontradiktif bisa berdiri oksimoron dengan bertegur sapa dengan sedikit lebih ramah,” tutur Suwarsono sembari berharap agar kedepannya UII bisa ikut serta mengintegrasikan antara agama dan sains.

Prof. Didi Achjari turut berbahagia atas anugerah dan amanah baru kepada Prof. Budi Agus Riswandi atas jabatan fungsional tertinggi seorang dosen. “Hal ini bukan suatu yg muncul tiba-tiba, tapi meliputi dukungan banyak pihak,” tuturnya.

Ia juga berpesan agar di dalam proses belajar jangan hanya dari satu tempat, karena dimanapun itu bisa memunculkan pelajaran baik untuk diterapkan. Lebih lanjut, Prof. Didi Achjari juga menekankan untuk selalu ikhlas dalam beramal dan bekerja, seperti cerita yang disampaikan oleh Prof. Fathul tentang Kiai Sholeh Darat. (MRS/RS)