Universitas Islam Indonesia (UII) mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKSPTIS) yang digelar pada Sabtu (16/11) di Auditorium Prof. Abdul Kahar Mudzakkir, kampus terpadu UII. Rakernas yang mengundang setidaknya 400 PTIS dari berbagai wilayah Indonesia yang menjadi anggota BKSPTIS ini bertujuan mendorong peningkatan sinergi kerjasama di antara PTIS se-Indonesia.

Kegiatan turut dihadiri oleh beberapa tokoh, seperti Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, Sekretaris Dewan Penasehat BKSPTIS, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, M.A., Ketua Dewan Pembina BKSPTIS, Prof. Dr. H. Syaiful Bakhri, S.H., M.H., Ketua Umum Pengurus Harian BKSPTIS, pimpinan UII mulai dari rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan, ketua program studi dan mahasiswa.

Melalui sambutanya, Fathul Wahid selaku Rektor UII menyampaikan bahwa kegiatan ini penting, mengingat kondisi kebangsaan saat ini, dengan munculnya fakta segregasi (pemisahan antar golongan), hingga bahkan polarisasi sosial.

“Kritik ke kiri, ejek ke kanan, kecam ke depan, fitnah ke belakang, sanggah ke atas, cemooh ke bawah.” Mengutip ungkapan yang ditulis oleh Bung Karno pada di dalam buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi jilid II’.

“Ungkapan tersebut menggambarkan situasi Indonesia pada saat itu, ketika demokrasi banyak dipahami sebagai tujuan, dan bukan alat. Sejarah nampaknya berulang. Pendulum kembali kepada titik yang sama. Semoga tidak dalam waktu yang lama.” Ungkap Fathul.

Bagi Fathul, negara yang berdiri dengan banyak latar belakang yang berbeda-beda, seharusnya dibingkai dengan rasa persatuan yang tinggi.
“Keragaman adalah keniscayaan. Keragaman adalah fakta sosial di Indonesia yang tak terbantah. Kita tidak mungkin lari darinya”, ungkap Fathul.

Fathul juga menyampaikan bahwa Islam merupakan agama yang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah berdirinya republik ini. Beliau berharap peran umat Islam terus ditingkatkan demi persatuan bangsa.

“Islam sebagai agama perdamaian, mustahil mengajarkan umatnya untuk memprovokasi pertikaian, perpecahan, dan permusuhan. Sudah seharusnya, peran luhur umat Islam sebagai bagian terbesar bangsa ini tetap kita pupuk dan tingkatkan, sehingga semangat kebangsaan dan keislaman dapat menyatu dalam satu tarikan nafas setiap muslim di negeri ini.” jelas Fathul yang juga sekretaris BKSPTIS.

BKSPTIS merupakan salah satu lembaga yang berperan dalam mengaktualisasikan harapan-harapan perguruan tinggi Islam swasta. Diketahui bahwa ada empat hal yang menjadi tolak ukur kemajuan yang di capai perguruan tinggi.

“Pertama Meningkatkan kualitas model pembelajaran; Keinginan untuk menjadi universitas profesional dalam berbagai hal penilaian baik dalam hal kontribusi alumni ataupun riset yang terus berkembang; menjadikan universitas mendidik para mahasiswanya menjadi enterpreneur; serta Internasionalisasi keilmuan.” Demikian disampaikan oleh ketua BKSPTIS Prof. Dr. H. Syaiful Bakhri, S.H., M.H. (DD/ESP)