Dunia nyata yang akan Saudara masuki adalah kelas belas tanpa dinding, kampus tanpa pagar, laboratorium hidup (living labs). Saudara dapat belajar banyak hal, yang belum sempat Saudara pejalari di kampus. Pelajaran yang Saudara dapatkan di bangku kuliah, adalah modal dasar untuk belajar lebih lanjut.

Meskipun sudah lulus satu tahapan pendidikan, pada program doktor sekalipun, ilmu yang kita dapatkan masih sangat sedikit. Manusia tidak diberi ilmu oleh Allah, melainkan hanya sedikit (QS 17:85), sedangkan ilmu Allah tidak bertepi, tak berbatas.

Karenanya, tak seorang pun di dunia ini yang berhak untuk menepuk dada dan sombong. Kesombonganlah yang menjadikan iblis dilaknat oleh Allah. Sombong tidak ada dalam kamus pembelajar sejati. Kesombongan akan menutup pintu peningkatan kualitas diri. Karenanya, tetaplah selalu rendah hati, tawaduk. Hanya dengan sikap inilah, kita akan menerima masukan dari banyak sumber pembelajaran.

Teruslah belajar. Caranya? Lebih seringlah membaca, piknik, dan diskusi.

Pertama, membaca adalah ikhtiar membuka jendela dunia. Inilah juga pesan pertama Allah kepada Rasulullah: iqra’. Dengan membaca kita bisa menyelami beragam pemikiran, memperluas perspektif, memperkaya inspirasi, dan memperjauh horison. Dengan membaca, kita bisa ‘lompat pagar’ dan memahami orang lain dengan logika dan argumen yang dikembangkannya.

Membaca di sini tidak hanya terbatas pada teks, tetapi juga pada fenomena alam dan sosial. Perubahan alam, seperti perubahan iklim dan bencana akibat tangan jahil manusia, perlu kita baca dengan serius. Perkembangan sosial, seperti munculnya polarisasi anak bangsa karena media sosial, lunturnya empati, serta menguatnya emosi yang mengabaikan fakta objektif, harus kita masukkan ke dalam daftar ‘bacaan’ kita. Dengan membaca secara kritis, kita insyallah mengasah diri menjadi pemikir mandiri yang tidak mudah larut dalam narasi publik yang sering lebih mengedepankan emosi tanpa dukungan fakta.

Kedua, piknik atau penjelahan adalah perintah Alquran (QS 27:69; 30:9). Kita diminta oleh Allah mempelajari bagaimana dampak dari setiap pilihan manusia pada masa lalu (QS 13:36), bagaimana keragaman diciptakan Allah (QS 30:22; 43:32), dan bagaimana keindahan Allah dalam mengatur alam (QS 13:4).

Masih banyak hikmah yang bisa dipetik ketika kita rajin melakukan piknik. Piknik juga merupakan upaya ‘membaca’ ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda keagungan Allah yang menempel di alam semesta: kegagahan gugung berapi, kesejukan embun pagi, kehangatan matahari pagi, keindahan hamparan padi, kerumitan manusia, dan keteraturan alam semesta.

Ketiga, diskusi adalah ikhtiar lain dalam belajar. Kemampuan pemahaman dan jangkauan bacaan kita terbatas. Diskusi akan memantik banyak hal yang selama ini sudah mapan kita yakini. Diskusi juga akan membawa perspektif baru yang mungkin belum kita akses sebelumnya. Diskusi akan membangun komunitas pembelajaran (community of learning).

Kita selama ini percaya bahwa banyak kepala lebih baik daripada satu kepala. Ternyata ungkapan di atas tidak selamanya benar. Dalam buku The Wisdom of Crowds, James Surowiecki menyatakan bahwa pertanyaan tersebut benar jika empat kondisi terpenuhi: (a) keragaman opini (diversity of opinion) yang dipunyai peserta diskusi yang diindikasikan dengan adanya informasi privat, meskipun hanya merupakan interpretasi lain atas fakta yang ada; (b) independensi peserta diskusi, yaitu ketika opini tidak ditentukan oleh opini orang-orang sekitarnya; (c) desentralisasi pengetahuan ketika peserta diskusi dapat memanfaatkan pengetahuan lokal; dan (d) agregasi pengetahuan dengan menggabungkan informasi privat ke dalam keputusan kolektif.

Salah satu kata kunci di sini adalah keragaman dan bukan keseragaman ide yang memantik munculnya ide besar yang lebih berkualitas. Hal ini mirip dengan ketahanan hutan multikultur dengan beragam jenis pohon yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang monokultur dengan jenis pohon tunggal.

Tetaplah menjadi orang baik, yang keberadaannya dicari, kehadirannya dinanti, kepergiannya dirindui, kebaikannya diteladani, dan kematiannya ditangisi.

*Disarikan dari Sambutan Rektor pada Wisuda 26 Januari 2019.