• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Wisudawan, Seimbangkan Otak Kiri dan Kanan!
Pojok Rektor

Wisudawan, Seimbangkan Otak Kiri dan Kanan!

Pendapat konvensional percaya bahwa beberapa orang terlahir dengan kreativitas tinggi, sedang yang lain jarang memiliki pemikiran yang orisinal. Kreativitas tergantung dengan DNA yang dibawa sejak hadir di dunia. Apakah Saudara penganut pola pikir konvensional ini? Maaf, saya tidak.

Saya termasuk yang percaya bahwa kreativitas dapat diasah. Bagi siapapun yang menginginkannya dengan serius. Banyak pendekatan dan metode yang sudah dikembangkan. Kreativitas yang menghadirkan ide-ide orisinal inilah juga yang menjadi salah satu penentu keberhasilan ketika kita diamanahi menjadi seorang pemimpin.

Penelitian mutakhir menemukan bahwa ternyata para kreator yang hebat tidak selalu harus mempunyai pengetahuan yang sangat mendalam, tetapi yang dibutuhkan adalah justru keluasan perspektif. Kreator yang hebat tidak terjebak melihat pohon secara detail, tetapi harus melihat hutan, kumpulan beragam pohon. Kreator mempunyai pemahaman yang sangat baik terkait dengan konteks.

Adam Grant dalam buku larisnya yang berjudul Originals menawarkan pendekatan menarik. Selama ini kita mengenal istilah deja vuketika kita menemukan sesuatu yang baru yang terasa bahwa kita pernah menjumpainya di waktu lampau. Grant mengenalkan konsep vuja de, yaitu ketika kita bertemu dengan sesuai yang sudah kita kenal sebelumnya, tetapi kita melihatnya dari perspektif lain yang lebih segar. Perspektif ini akan memantik tilikan-tilikan (insights) baru untuk memecahkan beragam masalah lama.

Berikut salah satu contohnya. Di Indonesia, ojek telah menjadi salah satu layanan transportasi publik informal sejak beberapa dekade lalu, mulai sekitar awal 1970an. Dulu, ojek dilayani menggunakan sepeda, dan akhirnya beralih ke sepeda motor. Ojek telah memberikan alternatif menyenangkan ketika layanan transportasi publik formal yang cukup dan andal tidak tersedia. Layanan serupa ojek juga dapat ditemukan di beberapa negara Asia lain, seperti Thailand dan Vietnam. Lahirnya layanan serupa yang diberikan oleh Grab dan Go-Jek, misalnya, merupakan hasil penggunaan perspektif baru untuk menyelesaikan masalah lama.

Sebagai contoh lain, kita bisa melihat Ritesh Agarwal, pendiri dan pemilik jaringan hotel OYO. Dia sekarang berumur 26 tahun, dan sudah menjalankan bisnis jaringan hotel terbesar kedua di dunia, yeng menghubungkan 43.000 hotel di seluruh dunia, dan memperkerjakan 350.000 orang. Semua dimulai dengan cara pandang dia yang berbeda ketika melihat hotel tidak laku di dekat dia tinggal pemukiman miskin di Rayagada, India. Dia menghubungi pemilik hotel dan hadir dengan ide untuk memasarkan hotel dengan menjadikannya lebih atraktif. Ritest Agarwal menawarkan perspektif segar dan percaya ketika sebuah hotel bisa diubah, maka ribuan hotel di dunia juga bisa.

Tentu, daftar panjang contoh dapat diberikan di sini.

Temuan mutakhir lain berbeda dengan pemahaman intuitif kita: kesuksesan ternyata tidak selalu harus menjadi yang pertama, tetapi dapat dicapai dengan menunggu momen yang tepat untuk meluncurkan kreasi. Gojek dan jaringan OYO hotel bisa menjadi contoh.

Periset dari Michigan State University menawarkan temuan menarik lain, terkait kombinasi unik kedalaman dan keluasan pengalaman, yang diyakininya sangat kritikal menentukan kreativitas. Studi dilakukan terhadap pemenang Hadiah Nobel mulai 1901 sampai dengan 2005. Mereka dibandingkan dengan ilmuwan dengan kedalaman pengalaman yang sama. Ternyata, para pemenang Hadiah Nobel secara dramatis lebih banyak terlibat dalam kegiatan kesenian dibandingkan dengan bukan ilmuwan bukan pemenang.

Ilmuwan yang terlibat dalam bidang musik (seperti memainkan instrumen dan menulis lagu) mempunyai peluang memenangkan Hadiah Nobel dua kali lebih besar dibandingkan dengan ilmuwan biasa. Peluang di sini berkaitan dengan kreativitas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Jika ilmuwan menyukai seni menggambar atau melukis, peluangnya lebih besar tujuh kali lipat. Kegemaran menulis puisi, novel, cerita pendek, buku populer akan meningkatkan peluang menjadi 12 kali lipat. Ingin lebih tinggi lagi? Teribatlah dalam seni pertunjukkan semacam menjadi aktor amatir atau pesulap. Ilmuwan yang terlibat dalam kegiatan nyeniterakhir ini, peluangnya melonjak menjadi 22 kali lebih besar.

Singkatnya, keterlibatan seseorang dalam bidang kesenian yang mengasah otak kanannya, akan meningkatkan kreativitasnya dalam bidang yang ditekunikan. Riset lain menguatkan temuan ini. Para wirausahaan dan penemu di Amerika mempunyai keterlibatan yang lebih dibandingkan lainnya dalam bidang seni, termasuk menggambar, melukis, arsitektur, dan literatur.

Berikut adalah ilustrasi lain. Suatu malam, pada 1609 atau 411 tahun lalu, Galileo Galilei menggunakan teleskop untuk melihat bulan. Ketika itulah, Galileo menemukan fakta adanya gunung dan lembah di bulan. Apakah teleskop pada waktu itu sudah sangat canggih? Pada saat itu, teleskop baru setahun ditemukan, karena diperkenalkan pertama kali oleh Hans Lippershey pada 1608. Ternyata kedalaman pengalaman Galileo pada bidang fisika dan astronomi (otak kiri) dilengkapi dengan keluasan pengalamannya dalam bidang melukis dan menggambar (orak kiri) memampukannya mengenali pola zigzag gelap terang di bulan sebagai gunung dan lembah. Dalam seni menggambar dikenal teknik chiaroscuro yang mempelajari kontras gelap dan terang. Astronomer lain tanpa pengalaman chiaroscuro yang menggunakan teleskop yang sama, sangat mungkin tidak akan menemukan gunung dan lembah di bulan.

Nampaknya otak kanan dan otak kiri memang harus diseimbangkan untuk memberikan dampak yang tinggi pada kreativitas. Kreativitas akan mempersenjatai Saudara ketika kelak menjadi pemimpin masa depan.

Saya yakin Saudara sepakat dengan ini.

29 Februari 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/02/Lampu-pijar-2.jpg 1500 2250 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022020-02-29 05:00:232020-02-23 22:22:45Wisudawan, Seimbangkan Otak Kiri dan Kanan!

Berita Terakhir

  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • FIAI UII Gelar Diskusi Kajian Turats Bahas Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Ilmu Sosial
  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: UII Learning Center Ajak Mahasiswa Jadi Pembelajar Sukses Link to: UII Learning Center Ajak Mahasiswa Jadi Pembelajar Sukses UII Learning Center Ajak Mahasiswa Jadi Pembelajar Sukses Link to: Kreator Hebat Mempunyai Keluasan Perspektif Link to: Kreator Hebat Mempunyai Keluasan Perspektif Kreator Hebat Mempunyai Keluasan Perspektif Scroll to top Scroll to top Scroll to top