• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Berdamai dengan Pandemi?
Pojok Rektor

Berdamai dengan Pandemi?

Akhir-akhir ini, saya mencoba menghindari penggunaan kata pandemi dan Covid-19 dalam sambutan. Tapi, ternyata tidak selalu mudah. Mengapa ini penting? Paparan dari informasi terkait pandemi, ternyata dapat menimbulkan atau menambah tekanan atau stres bagi mereka yang tidak siap. Demikian temuan sebuah penelitian. Ini satu sisi.

Di sisi lain, pengurangan pemberitaan terkait Coivid-19, ternyata juga bisa membuat efek yang tidak diinginkan. Banyak dari kita yang lupa kalau pandemi masih mengancam, sehingga protokol kesehatan sebagai ikhtiar menghindari penularan, pun diabaikan begitu saja.

Saya pikir, yang diperlukan di sini adalah konsistensi menjaga akal tetap sehat. Kita memang tidak sedang baik-baik saja. Namun demikian, kita tetap harus menjaga harapan.

Kita perlu mengembangkan sikap optimisme yang terukur. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari melakukan langkah-langkah mitigasi untuk bertahan, berbenah dengan beragam adaptasi, sampai dengan melihat pandemi dari sudut pandang positifnya. Selain sebagai musibah yang perlu dimitigasi, pandemi juga insyaallah membawa beragam berkah.

Ketika pandemi menyerang di awal tahun ini, perhatian banyak berfokus ke sisi kesehatan, terutama kesehatan fisik. Tetapi, ketika pandemi sudah berlangsung agak lama, kita semakin sadar, banyak industri yang terdampak.

Sebagian industri bahkan terdampak sangat akut, seperti penerbangan dan pariwisata. Korbannya sudah berjatuhan. Kita bisa sebut beberapa contoh. Air Asia sudah merumahkan 2.400 pegawainya. Singapore Airline melakukan langkah serupa untuk 4.300 pegawainya. KLM memutus hubungan kerja dengan 5.000 pegawainya. Air France melakukannya ke 7.500 pegawainya. Daftar contoh ini dapat diperpanjang, karena banyak maskapai yang sudah di ambang kebangkrutan.

Namun sebaliknya, sebagian industri lain justru seakan mendapatkan durian runtuh, karena peluang yang dimunculkan oleh pandemi yang membatasi mobilitas fisik. Termasuk di dalamnya adalah industri penyedia layanan telekomunikasi, retail daring, layanan pendukung pembelajaran daring, dan obat-obatan. Satu contoh ekstrim: kekayaaan Eric Yuan, pendiri dan pemegang saham terbesar zoom, naik Rp 169 triliun hanya dalam waktu enam bulan atau naik Rp 10 juta per detik (!).

Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari pandemi ini. Mari kita lakukan refleksi atas apa yang sudah terjadi dan masuk dalam radar kita.

Salah satunya adalah bagaimana pendemi telah memaksa untuk mengasah kurva pembelajaran dalam waktu yang singkat. Kita dilatih membaca situasi dengan cermat dan sekaligus meresponsnya dengan keputusan cepat.

Konsep dan praktik lampau perlu dimaknai kembali. Sebagian bisa didesain ulang, sebagian lainnya, sudah saatnya ditinggalkan dan diganti. Niat utamanya adalah menjadikan organisasi kita menjadi lebih lincah dan tahan banting. Keputusan yang sudah dibuat pun perlu dikawal dengan komitmen.

Kala pandemi ini adalah saat berbenah. Model bisnis baru tersebut (seperti penggunaan layanan daring), hasil berbenah, sangat mungkin menjadi bagian permanen. Model bisnis baru ini bahkan bisa jadi terputus dengan yang sebelumnya, untuk bertahan.

Kita bisa ambil beberapa contoh. Thai Airways yang membuka bisnis kuliner dan berencana menjadikannya jaringan waralaba dan Singapore Air yang menawarkan pengalaman unik menikmati makan di dalam pesawat di landasan. Bisnis inti mereka masih di sektor penerbangan, yang model bisnisnya pun, yang sudah disesuaikan di banyak hal, termasuk terkait dengan protokol kesehatan.

Saya yakin, ada akan titik keseimbangan baru yang terbentuk, meski mungkin tidak terasa nyaman untuk semua orang. Misalnya, penyedia barang atau layanan (seperti pelaku ekonomi) akan merasa terbiasa, khalayak pun menyambutnya. Karenanya, bahkan insyaallah tidak mustahil, model bisnis baru tersebut perlu ditingkatkan skalanya.

Jika dibutuhkan rumus singkat, apa yang perlu kita lakukan, adalah: (1) lakukan refleksi, (2) ambil keputusan dengan cepat, (3) jalani pilihan dengan penuh komitmen, (4) jadikan sebagai bagian proses sehari-hari, dan (5) tingkatkan skalanya.

Saat ini, kita tidak punya banyak pilihan, tapi bukan alasan untuk berpangku tangan. Mengharapkan pandemi tiba-tiba berakhir hanya seperti menunggu Bang Thoyib yang tak kunjung pulang. Waktu terus berjalan. Sayang sekali jika terlewat tanpa perubahan bermakna yang kita lakukan untuk pijakan lompatan ke depan.

Saya mengajak kita semua untuk menyudahi ratapan. Mari semai dan pupuk harapan. Adaptasikan diri kita. Sesuaikan model bisnis kita. Bantu mereka yang rentan untuk kembali menggeliat dan bangkit. Tak lupa, doa terbaik kepada Sang Pencipta terus terpanjatkan.

Kombinasi semua ini nampaknya dapat menjadi semacam ikrar damai dengan pandemi. Wallahualam.

Sambutan pada pembukaan Growth Festival 2020 yang diselenggarakan oleh Simpul Tumbuh Universitas Islam Indonesia pada 17 November 2020.

17 November 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/11/damai-dengan-pandemi.jpg 1000 1500 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022020-11-17 15:47:042020-11-17 15:47:04Berdamai dengan Pandemi?

Berita Terakhir

  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis
  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Perbankan Syariah Belum Mampu Dominasi Sektor Jasa Keuangan Link to: Perbankan Syariah Belum Mampu Dominasi Sektor Jasa Keuangan Perbankan Syariah Belum Mampu Dominasi Sektor Jasa Keuangan Link to: UII Gelar Growth Festival 2020 Link to: UII Gelar Growth Festival 2020 Pentingnya Menjaga Sport PerformanceUII Gelar Growth Festival 2020 Scroll to top Scroll to top Scroll to top