Berawal dari sebuah mimpi dan harapan yang terus diperjuangkan. dr. Gamal Albinsaid berhasil menginspirasi banyak orang di sekitarnya. Tidak hanya menginsipirasi, inovasinya di bidang kesehatan juga telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Melalui inovasi-inovasi yang berhasil dikembangkan, mulai dari Garbage Clinical Insurance, Homedika, Siapapeduli.id, Ayotolong.com, Sabuk Bayi Pintar, Care for mother, Mother Happiness Center hingga yang terbaru medtalk, berhasil membawa Gamal Albinsaid, seorang dokter, inovator kesehatan, wirausahaan sosial dan juga seorang inspirator kebanggaan indonesia meraih berbagai penghargaan di usianya yang masih muda.

Pengalamannya bercengkrama dengan Pangeran Charles, berdiskusi dengan Vladimir Putin, diundang oleh beberapa tokoh dunia sebagai tamu kehormatan, hingga menjadi pembicara di lebih dari 17 negara, tidak didapatkannya denga mudah. Butuh perjalanan panjang yang dihiasi banyak tantangan, serta nilai-nilai yang terus ia pegang dalam hidupnya.

Hal tersebut disampaikan dokter kelahiran Malang, 8 September 1989, pada acara Stadium General Mahasiswa Angkatan 2019, Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), di Gedung Kuliah Umum (KGU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII, Senin (2/9).

Gamal dalam materinya mengungkapkan permasalahan-permasalahan yang di hadapi bangsa Indonesia saat ini. Mulai dari kondisi sanitasi yang menempati peringkat rendah di ASEAN, perkembangan penyakit tidak menular yang terus meningkat, seperti kanker, diabetes, hingga gangguan jiwa. “Maka tugas kita adalah mencari solusi, dari setiap permasalahan yang ada.” Tegas dokter yang pernah dinyatakan sebagai 1 dari 50 inovator sosial paling berpengaruh di dunia.

Gamal mengisahkan beberapa tokoh seperti Mohammad Hatta yang tidak bisa beli sepatu Bally hingga akhir hidupnya, KH. Agus Salim dengan seorang istri dan delapan anak di dalam rumahnya yang kecil, Jenderal Hoegeng yang tidak mau menempati rumah dinasnya dan lebih memilih rumahnya yang sederhana, kisah Abdurrahman Baswedan yang tidak punya telepon, dan beberapa tokoh lainnya.

“Ada satu hal yang kita pelajari dari tokoh-tokoh pendahulu kita bahwa jalan kepemimpinan adalah jalan penderitaan. Maka memimpin adalah menderita. Begitu halnya dengan kesehatan. Banyak masalah kesehatan yang harus kita selesaikan dengan pengorbanan-pengorbanan yang kita miliki,” lanjut Gamal.

Sebagai satu-satunya orang Asia yang pernah mendapat penghargaan kehormatan HRH The Prince of Wales young Sustainbaility Entrepreneur Award dari Kerajaan Inggris dan diserahkan langsung oleh Pangeran Charles, Gamal menceritakan pertama kali mendirikan Garbage Clinical Insurance.

Berawal dari kisah seorang anak kecil bernama Khairunnisa yang meninggal digerobak sampah sang ayah, karena sakit diare dan tidak mampu membiayai obat anaknya. Sang ayah saat itu memapah anaknya yang meninggal di atas Kereta Rel Listrik (KRL). Dari situ muncullah gagasan membuat klinik sampah yang saat itu diikutkan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), namun gagal.

Meskipun demikian Gamal tetap mengembangkannya hingga menjadi salah satu inovasi kesehatan. Dengan sampah masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang memadai. “Bisa dibayangkan bagaimana perasaaan juri PKM yang hari itu menolak ide ini,” ujar Gamal diikuti galak tawa peserta stadium general yang hadir.

“Terkadang kita harus merelakan hal besar untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, satu hikmah yang ingin saya sampaikan bahwa yang kita lakukan itu bisa saja kecil, dan sederhana. Tetapi, dengan keikhlasan, kerja keras, dan gotong royong. Semua itu menjadi besar. Allah itu sepenuhnya berwenang membesarkan kebaikan kita. jadi jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun,” tambahnya.

Mengutip perkataan Ibnul Qoyyim Al Jauziyah yang menerangkan bahwa saat engkau terlelap tidur, boleh jadi pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa yang memohonkan kebaikan untukmu. (Do’a itu datang) dari si fakir yang pernah engkau tolong, dari orang yang lapar yang pernah engkau beri makan, dari orang sedih yang pernah engkau bahagiakan, dari orang yang pernah berpapasan denganmu dan kau beri senyuman untuknya, atau dari orang yg dihimpit kesulitan yang telah engkau lapangkan.

Banyak mahasiswa kemudian yang sering mengeluh terhadap apa yang dijalaninya saat ini. untuk mengatasinya, Gamal menyarankan agar mengingat orang-orang di luar sana, yang sebenarnya menginginkan kedudukan yang saat ini kita raih. Gamal juga menyampaikan agar melakukan sesuatu semata-mata karena mengharap ridho Allah.

“Barangsiapa akhirat tujuannya kebiasaannya bernilai ibadah, tapi barangsiapa dunia tujuannya, ibadahnya bernilai kebiasaan. Jadi kita bisa menjadikan profesi kita apapun itu untuk menjadi amal kita,” ujar penerima penghargaan empowering people di Jerman.

Pentingnya amal jariyah juga menjadi salah satu hal yang disampaikan pada paparan materinya. Gamal mengisahkan bahwa sekitar seratus sepuluh tahun yang lalu seorang kyai keluar rumah untuk menjual perabotan rumahnya untuk dijual demi membayar gaji guru-guru di sekolahnya.

Akhirnya buah dari perjuangan itu bertransformasi menjadi organisasi besar mencakup 38.000 sekolah, 176 universitas, 107 rumah sakit, mempunyai sepuluh fakultas kedokteran yang melahirkan 700 dokter tiap tahun. Beliau adalah Muhammad Darwis, atau yang kita kenal kiyai Ahmad Dahlan. Ada juga Kyai Hasyim Asyhari dengan 27.000 pondok pesantren.

Ketika kita berkumpul di sini, miliaran orang yang terkubur berdoa kepada Allah. “Ya Allah kembalikan aku ke dunia. agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang aku tinggalkan. Tapi tidak bisa. Jadi kebaikan-kebaikan kita hari ini, amal-amal kita hari ini merupakan upaya kita untuk memastikan amal kita melampaui usia kita,” tegas Gamal.

Tidak kalah menarik adalah bagaimana Gamal menceritakan kisah perjuangan Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel. Bagaimana Muhammad Al-Fatih memerintahkan pasukannya untuk memindahkan kapal melalui daratan berbukit. “Apa yang membuat seorang pemuda bertahan, dan berhasil?” tanya beliu pada segenap peserta yang hadir. “Ini adalah satu contoh bahwa Allah memilih orang yang senantiasa mendekatkan diri kepadanya di waktu sepertiga malam dan berjuang menolong agama-Nya,” lanjut Gamal.

Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam surah muhammad ayat 7 yang artinya: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Enam Langkah Agar Hidup Lebih Bermakna

Di akhir paparannya, Gamal menyampaikan enam langkah agar hidup lebih bermakna. Pertama adalah Ikhlas. Seseorang dalam hidupnya dituntut untuk ikhlas. Ia juga menyarankan agar dalam menjalani kehidupan seseorang harus berani berjuang.“ Tidak ada lift untuk sukses, maka kamu harus melewati anak tangga. Nikmatilah tantangan karena disanalah orang hebat, orang tangguh, dibesarkan,” tegasnya.

Kedua adalah visioner. Seseorang harus punya visi dalam hidupnya. Menentukan apa yang ingin dicapai, kemudian mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencapai visi tersebut. Ketiga seseorang harus mempunyai komitmen dalam hidup.

Gamal menyampaikan alasan ia harus berkomitmen adalah kedua orang tuanya. Ia sadar bahwa orang tau adalah yang rela menggugurkan mimpinya. Membiarkan hidupnya berlalu tanpa kesenangan, dan berkutat dengan kesusahan. Hal ini dilakukan agar anak-anaknya bisa belajar lebih baik, bisa bekerja lebih baik, bisa bermanfaat untuk banyak orang.

“Akan tetapi, betapa banyak di antara kita yang melupakan hal tersebut. Tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana membahagiakan kedua orang tua. “Jadikan keinginan untuk membahagiakan orang tua sebagai motivasi yang dapat membuat kita bekerja lebih giat lagi,” jelas Gamal.

Keempat adalah produktif. Gamal menyarankan agar setiap orang memberanikan diri untuk meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya. “Masa depanmu ditentukan bagaimana kamu menghabiskan waktu setiap hari,” kata Gamal.

Kelima adalah seimbang, dalam karir, seseorang harus menyeimbangkan diantara urusan keluarga dan pekerjaan. Jangan sampai pekerjaan yang dipilih tidak sesuai dengan kehendak keluarga. Dan terakhir adalah makna itu sendiri.

“Kalau kita sempurnakan niat, Allah itu akan sempurnaka pertolongonnya. Kalau akhirat yang kita tuju, maka dunia akan datang dalam keadaan tunduk. Dan tetaplah menjadi pejalan dalam jalan-jalan kebaikan. Karena jalan kebaikan adalah jalan Alllah, dia yang berjalan dalam jalan kebaikan sesungguhnya sedang berjalan bersama Allah,” ujarnya sembari mengakhiri materi. (D/RS)