Jan Hunady, Ph.D. peneliti dari Faculty of Economics, Matej Bel University, Banska Bystrica, Slovakia, menjadi pembicara pada Pre-Conference Workshop bertemakan “Evaluation of researchers and their performance: opportunities and limitations,” pada Selasa (3/9) di Ruang Audiovisual, Gedung Rektorat Universitas Islam Indonesi (UII).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara UII, Ekonomicka univerzita v Bratislave, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai salah satu rangkaian dari REPESEA Final Project Conference, 2 s/d 6 September 2019 di Yogyakarta. Selain dari Indonesia, kegiatan didikuti peserta dari Poland, Slovakia, Malaysia, dan Thailand.

Jan Hunady menjelaskan tiga indikator kinerja penelitian. Ketiga indikator tersebut yaitu H-index, G-index, dan i10-index. H-Index merupakan metrik penelitian yang paling banyak digunakan. “Hal tersebut meliputi ukuran, produktivitas, dan dampak dari output ilmiah seorang penulis. Alat untuk menghitung indeks-H antara lain web sains, scopus, google scholar, researchGate dan lainnya,” paparnya.

Selanjutnya dijelaskan Jan Hunady, G-Index digunakan untuk mengukur produktivitas ilmiah berdasarkan catatan publikasi. Hal tersebut disarankan oleh Leo Egghe pada tahun 2006. Sementara i10-index merupakan index yang menunjukkan jumlah publikasi akademik yang telah ditulis penulis, yang setidaknya telah dikutip 10 kali oleh orang lain. Diperkenalkan pada Juli 2011 oleh google sebagai bagian dari google scholar.

Selain menyampaian tiga indikator dan beberapa kelebihan dan keterbatasan dari ketiga indikator, Jan Hunady juga menyampaikan ikhwal terkait dengan jumlah penulis pada jurnal akademik. “Dalam dua dekade terakhir, meningkatnya jumlah penulis dalam satu jurnal akademik tampaknya menjadi tren umum dalam banyak disiplin ilmu,” ujarnya.

Jan Hunady juga menyampaikan bagaimana mengidentifikasi penulis. “Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam identifikasi penulis yaitu ORCID, dan ISNI,” ungkapnya.

Dijelaskan Jan Hunady ORCID adalah hal yang memberikan pengenal digital persisten, membedakan seseorang dari setiap peneliti lainnya. ResearcherID merupakan pengidentifikasi unik yang memungkinkan peneliti mengelola daftar publikasi mereka dan menghindari kesalahan identifikasi penulis. Sementara web fitur pengetahuan atau layanan yang memungkinkan penulis membuat dan mengelola profil ilmiahnya, menghasilkan metrik kutipan dan terhubung dengan para sarjana lainnya. Dan terakhir adalah ISNI.

“ISNI adalah nomor standar global bersertifikasi ISO untuk mengidentifikasi jutaan kontributor karya kreatif dan mereka yang aktif dalam distribusinya, termasuk peneliti, investor, penulis, seniman, pencipta visual, pemain, produsen, penerbit, agregator, dan banyak lagi,” ujar Jan Hunady. (D/RS)