Ketika polarisasi semakin akut, lunturnya kohesi sosial menjadi taruhan. Padahal, perdamaian tidak mungkin mewujud dalam ketiadaan sikap saling menghargai keberadaan secara jujur. Kata jujur di sini perlu ditekankan, karena di lapangan, tidak jarang, sikap saling menghargai sudah menjadi pemanis bibir di depan publik. Di arena privat, kebencian masih tumbuh subur, karena terus dipupuk dengan sinisme antarkelompok.

Kita bisa mengimajinasikan beragam kasus yang relevan, yang tumbuh di tengah-tengah bangsa Indonesia. Tidak hanya hari ini atau akhir-akhir ini, tetapi juga pada masa silam. Kritik Bung Karno berikut bisa memberi gambaran kasus masa lalu, yang ketika di bawa ke kondisi kini, seseorang akan berteriak: de javu. “Kritik ke kiri, ejek ke kanan, kecam ke depan, fitnah ke belakang, sanggah ke atas, cemooh ke bawah.”, tulis Bung Karno pada 1957 yang terekam dalam salah satu tulisan yang termuat dalam buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’.

Bahkan seorang analis yang penulis kenal, sambil berseloroh mengatakan, “Inilah salah satu sebab, mengapa Belanda bisa menguasai Indonesia dalam waktu yang lama”. Tentu, pembaca boleh setuju atau tidak setuju. Namun, fakta sosial mutakhir sulit dibantah, bahwa banyak dari kita yang mudah terlibat dalam konflik yang tidak produktif.

 

Irisan terbesar

Memang kita tidak mungkin merangkum semua logika dan argumen yang dihadirkan oleh setiap kelompok. Selalu saja ada perbedaan. Jika ini yang terjadi, kadang diperlukan keberanian ‘melompat pagar’ (passing over) untuk memahami logika kelompok lain dari kacamata mereka. Kebenaran hasil olah logika manusia tergantung dengan pilihan metode dan karenanya bersifat nisbi. Jika metode diubah, kebenaran lain mungkin hadir. Konteks ruang dan waktu pun bisa mempengaruhi pilihan metode.

Selama ini, kita sering terjebak dalam kecohan ini-atau-itu (either-or fallacy) yang menghadirkan dilema palsu, karena asumsi bahwa cacah pilihan selalu terbatas, dan harus memilih salah satu. Dua hal yang berbeda seringkali dianggap berdiri diametral, tanpa bisa dikompromikan. Labelisasi pun tidak jarang dimunculkan, sampai tingkat ekstrim, seperti setan versus malaikat. Fakta di lapangan menujukkan bahwa pilihan bisa beranak pinak dan mengisi spektrum yang berwarna.

Karenanya, dalam beragam berbedaan pendapat, mustahil jika tidak ada irisan atau persamaan. Dalam konteks ini, ikhtiar mencari irisan terbesar atau kalimatun sawa menjadi penting. Bisa jadi, niat mulia sama, hanya berbeda program intervensi. Sangat mungkin program intervensi serupa, tetapi dengan strategi eksekusi yang berbeda. Itulah indahnya otak manusia yang selalu menghasilkan keragaman pemikiran. 

 

Hadir bersama

Di sinilah semangat ko-eksistensi atau hadir bersama perlu dikembangkan. Kita berdiri di tengah dengan semangat moderasi. Namun, berdiri di tengah bukan berarti netral terhadap nilai. Keberpihakan pada nilai-nilai abadi, seperti keadilan dan kejujuran, mutlak dikedepankan. Karenanya, mengambil posisi berdiri di tengah tidak bebas nilai. Pengambil posisi ini tidak memberikan ruang kompromi atas pelanggaran nilai-nilai abadi.

Semangat ini hanya bisa mewujud ketika semua kelompok mencoba mengelola harga diri sehingga mencapai tangga nada yang sama, meski memainkan instrumen musik yang berbeda. Hasilnya adalah orkestrasi yang indah: merdu di telinga, sejuk di mata, dan tentram di hati. Inilah yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang beragam!

 Tulisan ini sudah dimuat di rubrik Berpikir Merdeka watyutink.com, dan dapat diakses di https://watyutink.com/topik/berpikir-merdeka/Berdiri-di-Tengah-Mainkan-Orkestrasi-Indah