Kesembuhan pasien rumah sakit tidak hanya berasal dari perawatan dan pengobatan semata, melainkan dapat berasal dari suasana dan dekorasi rumah sakit itu sendiri. Secara tidak langsung, bangunan yang nyaman menumbuhkan semangat pasien untuk sembuh dan sehat. Keadaan psikologis pasien inilah yang memberikan efek besar terhadap kesembuhannya.

Hal inilah yang disampaikan Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Islam Indonesia (UII), Ir. Handoyotomo, MSA, dalam acara workshop Riset Desain Rumah Sakit (11/3) di Gedung Moh. Natsir FTSP UII.

Ia mengatakan bahwa tidak semua desain harus melalui riset. Namun, riset sangat berguna untuk merancang desain rumah sakit. Berdasarkan penelitian, solusi desain dalam perawatan kesehatan disebut sebagai Desain Berbasis Bukti atau Evidence Based Design (EBD). Desain berbasis bukti telah menjadi konsep teoritis untuk apa yang disebut dengan Lingkungan Penyembuhan (Healing Environment).

Workshop yang dihadiri oleh arsitektur, konsultan, mahasiswa magister, dan dosen dari Jawa maupun luar Jawa ini bertujuan untuk memberikan pelatihan riset yang digunakan untuk merancang rumah sakit melalui pendekatan Evidence Based Design (EBD). Melalui acara ini diharapkan nantinya terdapat bangunan-bangunan rumah sakit di Indonesia yang lebih baik dan berkembang dari segi desain.

Ditambahkan Handoyotomo, perancangan desain yang diawali dengan riset dapat menghasilkan masukan bagi pengembangan rumah sakit berdasarkan data-data yang kredibel. “Pergerakan desain berbasis bukti membuat rancangan desain lebih siap untuk direalisasikan dalam bentuk bangunan rumah sakit secara fisik. Arsitek menjadi bagian dari wadah melayani kesehatan harus menyesuaikan diri dari waktu ke waktu”, ungkap Handoyotomo.

Konten rumah sakit pun menurutnya harus mengangkat ide baru, agar pelayanan bagi masyarakat bisa meningkat serta dapat bersaing dengan rumah sakit di luar negeri atau rumah sakit asing yang masuk ke Indonesia. Ia berharap rumah sakit lokal tidak tergilas perkembangan zaman dengan masuknya investor rumah sakit dari luar negeri.

“Tata ruang di rumah sakit menjadi pemicu bagi pasien, sehingga tatanan yang rapi dan indah dapat meningkatkan semangat untuk sembuh bahkan memperbaiki suasana hati pasien maupun keluarganya”, bebernya.

Ia menyarankan agar arsitek melakukan riset sebelum merancang desain rumah sakit, sehingga akan menciptakan rumah sakit yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sesungguhnya. “Rumah sakit bukan menjadi tempat yang ditakuti oleh orang sakit yang ingin berobat di sana. Namun, menjadi rumah yang membuatnya menjadi sehat, nyaman, dan menyembuhkan”, jelas Handoyotomo.

Ide Rumah Sakit Bergaya Mall atau Hotel

Pelayanan kesehatan di rumah sakit tidak cukup hanya pada pelayanan oleh dokter maupun perawat, namun struktur bangunan juga turut menjadi subjek dalam melakukan pelayanan bagi pasien di rumah sakit. Suasana yang menyenangkan, dalam arti tidak membuat jenuh dan dekorasi yang dibuat seperti mall maupun hotel, dapat menjadi suatu ide baru rumah sakit modern seperti di luar negeri.

Dosen sekaligus arsitektur ini menambahkan bahwa desain yang baik tidak mempersulit pemeriksaan pasien, seperti laboratorium dan ruang radiologi dapat dibuat dalam area yang sama sehingga membuat nyaman orang atau pasien yang masuk.

Jika ruangan atau desain rumit, maka dapat membuat pasien stress dan mungkin bertambah sakit. Desain dan konsep yang berbeda dapat menghapus paradigma yang berkembang selama ini bahwa rumah sakit dikhususkan untuk orang yang sakit.

“Dekorasi bangunan rumah sakit yang sudah mengacu ke konsep berbeda bisa ditemukan di beberapa rumah sakit, seperti yang terdekat ada JIH. Di rumah sakit Semarang pun juga ada,” pungkasnya. (SF/ESP)