Pandemi global covid-19 rupanya mendorong negara-negara untuk lebih erat bekerjasama. Hubungan diplomatik lintas bidang baik dari segi ekonomi, kesehatan, dan lainnya turut mengalami perubahan signifikan. Hal ini sebagaimana dialami Indonesia dan Australia selama pandemi. Program studi Hubungan Internasional (HI UII) membahasnya melalui webinar dengan menghadirkan Gary Quinlan. Ia adalah diplomat Australia yang bertugas di Indonesia. Webinar itu diadakan pada Selasa (14/7) melalui youtube streaming bagi peserta umum dan zoom bagi civitas prodi HI UII.

Gary Quinlan menyebut bahwa dunia tidak akan sama lagi, wilayah kita tidak sama lagi dengan adanya pandemi. “Tetapi satu hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa peristiwa ini memiliki efek dramatis yang masih berlangsung dan akan berlanjut selama bertahun-tahun. Terutama dampak ekonomi dan sosial di masing-masing negara kita. Meskipun itu akan terus berlanjut, ada ikatan mendasar antarnegara”, jabarnya.

Ia menambahkan bahwa pandemi membawa perubahan konvergensi baru dalam pikiran Australia dan Indonesia. Ada yang berubah, namun ada juga yang masih sama. Indonesia melihat apa yang sedang terjadi pada suatu wilayah yang ada di dunia begitupun dengan Australia.

Oleh karena itu, ia berpendapat kedua negara memiliki penilaian yang sama mengenai perubahan alam. Respon pemerintahan dan komunitas kami bahwa mau tidak mau harus terjadi hal yang berbeda terhadap alasan politik yang jelas dan lain sebagainya. Fundamental sejarah bahwa hubungan Indonesia dan Australia bagaikan tetangga tidak dapat dilupakan begitu saja.

“Segala perubahan yang terjadi di sekitar kami maka kedua negara akan memutuskan bersama-sama. Kami membutuhkan satu sama lain sebagaimana hubungan antara dua negara ini bagaikan rekan yang sangat dekat. Bukan hanya tetangga namun Indonesia dan Australia adalah rekan (partner)”, imbuhnya.

Gary Quinlan menggarisbawahi pendapat itu dikemukakannya secara lugas bukan semata-mata karena tugasnya sebagai seorang diplomat. Namun, perubahan hubungan kedua negara benar-benar dirasakannya secara nyata.

“Dalam sejarah kami, satu bulan setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Australia mengirimkan tim diplomat untuk menemui Presiden Soekarno. Tujuannya untuk melakukan diplomasi dan kerjasama antar negara. Dalam masa pandemi saat ini pun kedua negara seringkali berdiskusi dan memikirkan keputusan penting khususnya dalam pemerintahan dan dunia diplomasi. Karena pada hakikatnya kedua negara ini sudah sangat dekat sejak lama”, pungkasnya. (FNJ/ESP)