Diplomasi dengan pendekatan budaya setempat, terkadang menjadi jurus ampuh untuk mendekatkan diri kepada publik asing. Pengalaman ini disampaikan diplomat senior sekaligus penulis buku, M. Wahid Supriyadi pada acara bedah buku: Diplomasi Ringan dan Lucu yang dikemas dalam webinar daring bertema ‘Diplomasi di Era Milenial’, pada Jumat (20/11). Buku yang ditulisnya tersebut merupakan kumpulan kisah dan pengalamannya sebagai diplomat selama tiga dekade. Prodi Hubungan Internasional UII menjadi tuan rumah acara ini.

Disampaikan M. Wahid Supriyadi, budaya merupakan kekuatan sebuah negara. Seperti Australia, dengan budaya legalitas yang kental menjadikan perdebatan sebagai hal biasa. Kemampuan berdebat dan mempertahankan argumen, menurutnya, adalah hal yang penting untuk dikuasai oleh seorang diplomat. Selama berada di negeri kangguru itu, ia dengan cermat mengamati budaya warga lokal untuk diadaptasi dalam tugas keseharian sebagai diplomat.

Seperti ketika ia mengundang salah seorang kritikus Islam pada jamuan makan siang. Selama berjam-jam mereka berdebat beradu argumen tentang pandangannya yang negatif terhadap Islam. Namun pasca jamuan dan perdebatan itu justru muncul sikap hormat di antara mereka berdua. Selanjutnya ia menjadi orang yang lebih objektif dalam menilai Islam.

Pengalaman unik lainnya didapatnya ketika ia bertugas di Rusia. “Meski terlihat kaku, negara Rusia memiliki banyak ragam budaya klasik dan juga tertarik mempelajari budaya negara lain. Warga di sana rela antri berjam-jam untuk dapat masuk ke museum”, imbuh pria yang pernah bertugas di tiga negara itu.

Sementara itu, Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, Ph.D dalam sambutannya menyebutkan tiga fungsi diplomat yang dianalogikan mirip dengan berdakwah. Pertama, in counter relation (bil hikmah) menyampaikan dakwah dengan cara yang bijaksana. Memberi contoh menjadi warga negara Indonesia yang baik merupakan wujud representasi warga negara Indonesia di luar negeri. Kedua, discover relation (mauidhoh hasanah) dengan memberikan nasehat yang baik. Ketiga, encounter relation (wajadilhum billati hiya ahsan) setelah ada kedekatan tadi, barulah bertukar fikiran dan berdebat dengan frame yang baik

“Tidak mungkin kita akan menasihati orang yang belum kita ajak naik ke naik kereta kita, jika mau dan sudah di dalam kereta, barulah ceritakan bagaimana Indonesia yang sesungguhnya,” imbuhnya.

Prof. Fathul Wahid menambahkan, banyak sekali cara untuk berdiplomasi, salah satunya dengan public diplomacy. Hal ini bisa diinisiasi baik dengan negara maupun publik, penggunaan media sosial khususnya instagram memiliki pengaruh penting. Dari sinilah kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam dapat diperkenalkan. “Ternyata memang banyak cara untuk diplomasi, termasuk melibatkan publik, mengundang engagement yang lebih tinggi, dengan berbagai kanal yang tidak selalu dikemas secara serius,” tuturnya.

Di sisi lain, Yazid Mahfudz (Bupati Kebumen) selaku pembedah buku mengucapkan selamat kepada M. Wahid Supriyadi, sebagai salah satu putra daerah yang menginspirasi masyarakat dengan segala pencapaiannya. “Ini sebagai pemicu anak di Kabupaten Kebumen, bahwa orang berkarir atau sukses itu tidak dari orang yang mampu saja, orang sukses bisa dari orang yang dulunya biasa saja. dengan kesederhanaan, dan menjadi semangat bagi seluruh pemuda di tempat kami.” ucapnya. (HA/ESP)