• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Tantangan dan Sisi Gelap Ekonomi Digital
Pojok Rektor

Tantangan dan Sisi Gelap Ekonomi Digital

Pilihan Indonesia untuk menggenjot ekonomi digital merupakan pilihan bijak dan patut diapreasi. Apa pasal? Adopsi TI, terutama Internet, telah dan akan tumbuh dengan pesat di Indonesia. Ini adalah ladang subur untuk penyemaian dan pertumbuhan ekonomi digital. Selain itu, bonus demografi yang berisi orang muda merupakan generasi pribumi digital (digital natives) dengan eksposur dan kemampuan teknologi informasi (TI) yang sangat baik. Mereka memainkan dua peran penting sekaligus, sebagai pelaku ekonomi aktif dan pasar potensial.

Tidak sulit mencari bukti. Jika kita tengok, banyak anak muda berbakat di belakang bisnis rintisan (startups) yang sekarang moncer, seperti Go-jek, Bukalapak, dan Salestock. Banyak di antara mereka yang merupakan pribumi digital dengan segala karateristik uniknya. Mereka cenderung anti kemapanan dan aktif mencari perspektif baru. Hadirnya TI, terutama penetrasi Internet yang semakin luas dan murah, telah membuka peluang ini.

Saat ini, tidaklah lagi terlalu ekstrim jika kita mengatakan bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa TI. Hadirnya layanan baru berbasis TI telah mengubah gaya hidup banyak orang. Saya yakin, layanan-layanan baru akan bermunculan. Di sinilah, diperlukan perspektif yang tidak hanya dimulai dari masalah (deductive thinking), tetapi juga sensitivitas dalam melihat potensi TI (inductive thinking).

Ini adalah tantangan yang harus direspons oleh banyak aktor yang menyiapkan pelaku ekonomi digital, termasuk perguruan tinggi. Perguruan tinggi, saat ini, ditantang untuk menilai ulang relevansi eksistensinya. Apalagi beberapa tahun lalu, Google yang kemudian diikuti beberapa perusahaan kelas global, mengumumkan bahwa mereka menerima pegawai tanpa gelar sarjana. Bukan tidak mungkin, tren ini juga sampai ke Indonesia.

Kurikulum harus selalu disesuaikan dengan selera zaman, tetapi tanpa meninggalkan penyuntikan nilai-nilai etis yang mengawal nurani tetap pada relnya. Nilai-nilai ini akan menjadi penting di tengah bangkitnya ekonomi digital.

Jika tidak, ekonomi digital dapat menjadi lahan ekspolitasi sesama yang tuna sensitivitas etis, karena kepentingan ekonomi para pemodal menjadi panglima. Selain itu, bukan tidak mungkin ekonomi digital dapat memperdalam kesenjangan sosial yang saat ini masih menjadi masalah kronis. Selain memunculkan lapangan kerja baru, ke depan, ekonomi digital juga akan menghilangkan banyak lapangan kerja tradisional. Hal ini dapat memunculkan pengangguran bagi mereka yang tidak mempunyai kompetensi sesuai zamannya. Menjadi pengguna aktif TI, tidak cukup untuk menjadikan pribumi digital menang dalam persaingan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, hal ini tentu akan memunculkan masalah sosial baru.

Singkatnya, di balik beragam peluang yang ditawarkan oleh ekonomi digital, kita tidak boleh menutup mata terhadap beragam sisi gelap yang dibawanya.

—

Artikel ini pertama kali dirilis dengan judul yang sama pada situs web: watyutink.com

22 Juni 2018
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2018/06/Digital-Economy-6x4.png 400 600 Web Administrator https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII.png Web Administrator2018-06-22 21:34:432018-08-15 09:42:33Tantangan dan Sisi Gelap Ekonomi Digital

Berita Terakhir

  • UII Terima Kunjungan Universitas Pertahanan RI
  • UII dan IKPI Perkuat Kolaborasi untuk Siapkan Konsultan Pajak Adaptif di Era AI dan Coretax
  • UII Hadirkan Light Show di Stasiun Tugu Yogyakarta, Perkenalkan Kampus Melalui Pertunjukan Visual
  • UKM TQFI UII Resmi Buka Grand Final International Quranic Festival 2026
  • DPKA UII Gelar Career Class: Hadirkan Pakar BUMN Bahas Peta Jalan Karier Mahasiswa

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Bersama Konsorsium, UII Kembangkan Asesmen Riset di University of Bath Link to: Bersama Konsorsium, UII Kembangkan Asesmen Riset di University of Bath Bersama Konsorsium, UII Kembangkan Asesmen Riset di University of Bath Link to: Inovasi Mahasiswa UII: Toples Pengingat Masa Kedaluwarsa Link to: Inovasi Mahasiswa UII: Toples Pengingat Masa Kedaluwarsa Inovasi Mahasiswa UII: Toples Pengingat Masa Kedaluwarsa Scroll to top Scroll to top Scroll to top