Riset merupakan salah satu pilar penting perguruan tinggi sebagai penghasil pengetahuan dan teknologi.  Dengan kesadaran itu, Universitas Islam Indonesia (UII) bersama dengan 10 universitas lain dari tujuh negara, membentuk konsorsium untuk meningkatkan kapasitas institusi dalam riset.

Universitas yang terlibat adalah Universitas Gadjah Mada (Indonesia), Universiti Teknologi Malaysia, Universiti Teknologi Mara (Malaysia), The National Institute of Development Administration, Burapha University (Thailand), Matej Bel University, University of Economics in Bratislava (Slovakia), Warszaw School of Economics (Polandia), University of Bath (Inggris), dan Universite Bl. Pascal Clermont-Ferrand II (Prancis).

Sebagai bagian implementasi kerja sama ini, pada 17-22 Juni 2018, konsorsium mengadakan workshop di University of Bath (UoB), Inggris yang dihadiri oleh semua anggota konsorsium. UII diwakili oleh dua delegasi, Fathul Wahid, Ph.D. (Rektor UII) dan Wiryono Raharjo, Ph.D. (Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan UII).

“Workshop kali ini ditujukan untuk mengembangkan sistem asesmen riset yang dapat digunakan oleh tidak hanya anggota konsorsium, tetapi juga diharapkan dapat menginspirasi universitas lain,” ungkap Fathul Wahid yang juga menjadi anggota panitia pengarah konsorsium.

“Kita berharap konsorsium ini dapat menjadi salah satu pintu masuk memperluas jaringan global UII,” harap Wiryono Raharjo.

Ditambahkan, salah satu potensi pengembangan kerja sama yang dijajaki adalah kemitraan antara UII dengan UoB. Di sela-sela kegiatan workshop, Pimpinan UII berkesempatan melakukan pertemuan bilateral dengan Pimpinan UoB, Prof. Jeremy P. Bradshaw, Pro-Vice-Chancellor untuk Internasionalisasi dan Program Doktor .

Potensi kemitraan UII-UoB dapat berbentuk joint doctoral program antara kedua universitas, yang diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada dosen-dosen muda UII mengikuti program doktor di UoB. Potensi kerja sama juga termasuk joint research untuk memanfaatkan dana-dana penelitian internasional, baik dari Kemenristekdikti, UII, maupun entitas internasional.

Aktivitas konsorsium yang akan berjalan sampai 2019 ini didanai oleh Uni Eropa melalui skema Erasmus+ Capacity Building for Higher Education (CBHE). Pada 2019, diharapkan aktivitas bersama selama tiga tahun akan menghasilkan beragam modul untuk pelatihan beragam keahlian terkait riset dan sistem asesmen riset. (FW/HF)


Artikel dalam bahasa Inggris tersedia di sini.