Pandemi covid-19 membawa perubahan yang cukup signifikan, terutama dalam lingkup ekonomi. Gaya hidup serta selera konsumen yang bervariasi, sedikit demi sedikit berangsur menyesuaikan dengan keadaan pandemi. Perubahan ini hendaknya segera dilirik oleh pebisnis agar mendapatkan peluang emas dalam meraup keuntungan.

Sebagaimana tergambar dalam acara Kajian Entrepreneurship bertema “Kiat-kiat Membangun Peluang Bisnis di Era Pandemi” yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid FH UII secara daring belum lama ini. Acara ini menghadirkan Muhammad Fajar Ahsanul Hakim (Presma BEM KM UNNES 2020, sekaligus Owner Spacebook.id dan Owner Semesta Grup Indonesia).

Ia memaparkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia mengalami penurunan sepanjang pandemi covid-19 ini. Menurutnya, hal ini wajar terjadi karena sesuai dengan teori Maslow Hierarchy of Needs, kebutuhan pokok manusia itu terbagi ke dalam lima tingkatan. Kelimanya yaitu physiological, safety, love/social, esteem, dan self act. 

Dari lima kebutuhan pokok tersebut, setidaknya ada dua kebutuhan pokok primer yang akan selalu dibutuhkan manusia dalam keadaan apapun, yaitu physiological atau kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan psikologi manusia seperti hiburan. Selanjutnya adalah safety atau kebutuhan yang berkaitan dengan keamanan manusia, seperti rumah, tempat tinggal, dll. 

“Jika kita bisa mengamati dua kebutuhan pokok ini, tentu saja dapat menjadi peluang usaha yang menggiurkan di tengah pandemi covid-19 ini. Contohnya yang sekarang sangat dibutuhkan masyarakat dan laris dijual adalah wastafel portable, yang bisa berkembang pesat selama 3-4 bulan ini dan tentunya memberikan keuntungan yang sangat besar bagi produsennya.” Ujar Muhammad Fajar.

Ia menambahkan ada empat hal yang perlu diperhatikan agar bisnis tetap berkembang dan maju selama pandemi. Yang pertama, bisnisnya harus bersifat go online. Hal ini dikarenakan selera masyarakat saat ini yang enggan untuk keluar rumah dan lebih menyukai sistem belanja melalui online. Oleh karenanya, sistem promosi secara online terutama melalui sosial media perlu ditingkatkan. 

Kedua, produk yang akan dijual harus bisa memenuhi kebutuhan kebutuhan akan aspek psikologis dan rasa aman masyarakat. Ketiga, supporting kegiatan online, yaitu produk-produk yang akan dijual harus bisa mendukung kegiatan online, seperti headset/headphone, kuota, dll. Keempat, sesuai kebutuhan aktual, yaitu produk yang dijual harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini, seperti masker, hand sanitizer, jas hujan, dll. 

Di akhir sesi, Muhammad Fajar menyampaikan bahwa banyak bisnis yang bisa dikembangkan di masa pandemi ini, asalkan kita mau untuk melihat peluang yang ada. Selain itu, dia juga mengapresiasi mahasiswa-mahasiswa yang mau belajar untuk mengembangkan bisnis di masa pandemi. “Bagi saya, tidak sesuap pun makanan yang lebih baik dari seorang yang makan dari hasil jerih payahnya sendiri,” pungkasnya. (EDN/ESP)