Perkembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa saat ini terus mengalami peningkatan. Terlihat dari antusiasme mahasiswa dalam mengeksplorasi inovasi dan ide-ide baru untuk berwirausaha mengalami kenaikan setiap tahunnya. Sehingga menjadi penting bagi perguruan tinggi di Indonesia mempersiapkan dan memfasilitasi mahasiswanya untuk terjun di bidang wirausaha.

Merespon tantangan tersebut, Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama Universitas Islam Indonesia (IBISMA UII) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan topik Corporate-Incubator-Startup Collaboration : Building Entrepreneurship Ecosystem. Turut hadir diantaranya Dr. Ferry Ramadhan, S.T., M.Si. dari Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya, Kemenristekdikti, Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., serta Bupati Kabupaten Sleman, Drs. Sri Purnomo, MSI pada acara yang digelar Jumat siang (27/9), di Alana Hotel & Convention Centre Yogyakarta.

Dalam perjalanannya mempersiapkan dan mematangkan sebuah inovasi-inovasi kewirausahaan, peran inkubator di perguruan tinggi sangat penting sekali. Dikatakan Ferry Ramadhan, dalam persaingan menuju perekonomian global diperlukannya sumber daya manusia yang baik. Guna mempersiapkan SDM inilah diperlukannya inkubator bisnis yang mampu memfasilitasi mahasiswa dalam mempersiapkan hingga terbentuknya suatu perusahaan perintis (startup).

“Kemenristekdikti terus berupaya memfasilitasi dengan penguatan lembaga inkubator bisnis teknologi. Fasilitas ini berupa anggaran yang diberikan kepada lembaga inkubator guna menunjang pembelajaran kepada wirausaha muda,” ungkap Ferry Ramadhan.

Penguatan lembaga inkubasi ini menjadi salah satu program Kemenristekdikti untuk terus berupaya menelurkan wirausaha muda yang memiliki inovasi dan nilai modal yang baik. Ferry mengatakan tidak merekomendasikan tenant yang tidak memiliki inovasi maupun nilai yang kurang.

“Dengan inovasi dan nilai modal yang baik ini, harapannya setelah satu hingga tiga tahun di inkubasi sudah bisa memiliki nilai jual yang lebih baik lagi,” katanya.

Memasuki era industri 4.0, perkembangan startup digital di Indonesia telah berkembang pesat. Bupati Sleman, Sri Purnomo mengatakan keberadaan program inkubasi dan akselerasi bagi startup merupakan salah satu upaya dalam membantu dan mempercepat pertumbuhan startup. Sebagaimana diketahui, tidak mudah bagi startup digital menghadapi persaingan.

“Keberadaan program inkubasi bisnis ini menjadi penting mengingat dibutuhkannya pengarahan mulai dari menyempurnakan konsep, produk dan pemasaran dan berbagai dukungan lain dalam mempercepat pertumbuhan bisnisnya.

Lebih lanjut, Sri Purnomo mengatakan keberadaan Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama (IBISMA) UII memiliki peran penting dalam program pengembangan kewirausahaan serta membangun ekosistem inovasi. Bersama dengan pemerintah, terus berupaya memberikan fasilitas pembangunan inkubasi startup era digital.

“Kami mengajak segenap perguruan tinggi yang memiliki inkubator bisnis ini untuk mendorong peta jalan e-commerce dari berbagai lini. Harapannya melalui program seperti ini dapat merealisasikan mimpi besar kita bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia,” lanjutnya.

13% Alumni UII Pilih Karir Wirausaha

UII melalui IBISMA merupakan buah dari kolaborasi UII dengan beberapa perguruan tinggi di Asia dan Eropa dengan hibah pendanaan melalui Erasmus Gita. Fathul Wahid mengatakan tahun ini IBISMA telah menginkubasi sebanyak 22 startup berbasis teknologi dengan total pendanaan mencapai 3.5 milyar. UII juga memberikan stimulus pendanaan kepada startup yang telah diinkubasi dengan total hibah sebanyak 200 juta.

“Harapannya melalui IBISMA ini dapat membangun ekosistem untuk wirausaha muda, terlebih mahasiswa guna meningkatkan kapabilitas wirausaha sehingga setelah lulus nanti wirausaha bisa menjadi salah satu pilihan pekerjaan yang baik,” ungkapnya.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 13% dari alumni UII memilih karir sebagai wirausaha. Melihat jumlah yang tentu tidak sedikit ini Fathul Wahid berharap kedepan akan terus muncul wirausaha muda yang mampu bersaing dan memiliki inovasi produk yang baik.

“13% nampaknya masih menjadi angka di atas rata-rata nasional. Kami berharap sudah berada di jalan yang benar dan ke depan akan semakin kuat,” tandanya.

Sementara disampaikan Direktur IBISMA UII, Amarria Dila Sari, S.T., M.Sc., melalui proses pembangunan ekosistem kewirausahaan yang di dukung penuh oleh Direktorat Pembinaan dan Pengembangan Kewirausahaan / Simpul Tumbuh UII, civitas akademik UII (mahasiswa, dosen, peneliti) serta masyarakat umum dapat melahirkan startup berbasis teknologi yang siap di inkubasi oleh IBISMA dengan berbagai layanannya. Yakni pra inkubasi, inkubasi & paska inkubasi.

Pada penyelenggaraan FGD ini, juga diadakan sesi Presentasi Bisnis (Business Pitch) dari tiga startup tenant IBISMA hasil hilirisasi invensi dan inovasi yang berasal dari mahasiswa (ROGER), peneliti (Biodiesel Multikatalis) dan dosen (ZAKEA). “Hal ini diharapkan dapat menginspirasi kalangan mahasiswa, peneliti dan dosen dalam menlahirkan startup berbasis teknologi kedepannya,” ungkap Bagus Panuntun, S.E., MBA. selaku Deputy Director IBISMA UII. (ENI/RS)